Membuat Logo Grafis Juga Butuh Membaca Buku

Membuat Logo Grafis Juga Butuh Membaca Buku
┬ęKwikku

Makin berkembangnya zaman, desain logo juga mengalami kemajuan yang begitu pesat. Hal ini dibuktikan dengan makin banyaknya inovasi-inovasi baru berkaitan dengan logo.

Kita bisa melihat, corak desain logo pada 1970-an ini lebih menekankan kepada simbol-simbol atau lambang sebagai gambaran desainnya. Sedangkan pada 1990-an, desain logo lebih mengerucut ke arah bentuk yang lebih sederhana, simpel dan minimalis. Pada 2000-an ini, trend desain logo menjadi begitu kompleks dan rumit dengan banyaknya warna yang digunakan dalam satu logo.

Selain trend logo yang makin zaman makin berkembang, dari desainernya pun kian lama kian bertambah. Bisa kita lihat di berbagai website yang mengadakan event logo, desainer makin meningkat dan makin melunjak sehingga persaingan pun menjadi makin ketat.

Yang tadinya 1 event hanya diikuti oleh puluhan orang, kini 1 event bisa sampai ratusan orang. Selain itu, banyak pula desainer yang memiliki inovasi untuk membuat website tandingan. Maka yang terjadi adalah website makin banyak, event makin ketat. Maka kemungkinan untuk memenangkan event ini lebih kecil daripada sebelum-sebelumnya.

Lalu bagaimana agar desain kita tetap bisa selalu eksis dan diterima? Jawabannya adalah membaca. Karena desain sendiri sebenarnya hampir mirip dengan memulis suatu buku. Buku yang bagus dan berkualitas tentunya tidak terlepas dari membaca yang banyak.

Begitu pun dengan membuat suatu desain. Agar bisa terlihat hidup dan dirasa menarik bagi orang yang melihatnya, maka seorang desainer harus membaca buku.

Buku yang dibaca pun tidak harus buku yang selalu berkaitan dengan desain. Sembarang buku bisa dibaca. Karena yang terpenting adalah membacanya, walaupun isinya juga berpengaruh.

Namun yang perlu digarisbawahi, bahwa membaca ini, kan, melatih otak agar selalu berpikir dan berpikir. Sehingga dari berpikir kita bisa menemukan suatu masalah, kemudian kita juga mencari solusi dari berpikir.

Ini memengaruhi desain yang kita buat. Pasalnya, ketika kita terbiasa membaca kemudian berpikir, maka desain logo yang kita buat bisa menyesuaikan apa yang diharapkan oleh konsumen.

Kok bisa? Bisa. Dari berpikir, kita bisa mengetahui desain seperti apa yang diinginkan oleh konsumen, melalui latar belakang, kemudian tujuan dari konsumen, selera dari konsumen.

Karena bagaimanapun, desain yang diterima oleh konsumen belum tentu desain yang begitu bagus. Terkadang desain yang terlihat biasa-biasa saja justru yang dipilih. Di situlah peran penting membaca. Dari membaca kita bisa memberikan desain logo kita ini benar-benar menjadi sesuatu yang hidup, penuh makna yang tersirat di dalamnya.

Kita bisa tanyakan kepada desainer yang sudah profesional. Kebanyakan pasti mereka tidak terlepas dari membaca buku. Sehingga desain yang mereka hasilkan mengandung nilai estetika kehidupan. Logo menjadi makin nyata terlihat. Seolah mereka sudah bukan lagi benda mati, namun memiliki semacam roh.

Dari sekian juta desainer, tidak sepenuhnya membaca buku. Sehingga desain logo yang mereka buat kalah saing dengan mereka yang membaca buku.

Muchammad Mugiono
Latest posts by Muchammad Mugiono (see all)