Memesan Bunga Kematian

Memesan Bunga Kematian
©Detik

Memesan Bunga Kematian

“Selain Pancasila, Soekarno, dan sederet peristiwa-peristiwa sejarah penting kebangsaan lainya, peristiwa atau momen bersejarah semacam apa yang paling membekas dalam ingatanmu dari Juni yang terus berulang; apakah umur yang baru atau patah hati yang didramatisir dengan hujan dan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono?” tanya Julio.

“Dasar lelaki! Tidak perlu berpura-pura dan berlagak bodoh begitu, Julio. Aku ingin di hari peristiwa perjalanan awal mula aku bertemu denganmu, engkau membawa bunga yang pernah engkau janjikan itu,” jawab Hana.

“Hhhhhhhhhh…… baiklah. Dari semua tanyaku, engkau memilih umur sebagai peristiwa yang membekas dalam ingatanmu. Lantas apa yang kamu, yang kebetulan dalam beberapa hari ini akan berulang tahun, pikirkan ketika umur berganti, Hana?” Julio kembali bertanya.

“Kematian, persis! Kematian adalah mutlak. Kematian melampaui segalanya; melampaui hitungan-hitungan  kuantitatif, pernak-pernik ucapan selamat, bahkan kelahiran. Kelahiran tidak pernah mutlak sebab orang bisa saja memilih untuk tidak dilahirkan atau memutuskan untuk tidak melahirkan, memilih untuk tidak menghitung umurnya, memutuskan untuk tidak menerima ucapan ‘selamat ulang tahun!’ dari siapa saja, tetapi tidak dengan kematian.”

“Orang bisa saja memutuskan ‘saya ingin mati hari ini melakukannya dengan cara-cara yang sederhana’. Orang tidak bisa memutuskan ‘saya ingin hidup lebih lama, seribu tahun lagi’. Sebab kamu bisa saja mati dengan ‘kematian yang tak bermakna’, kematian yang tanpa ada tanda-tanda akan kematian,” jawab Hana.

“Buku apa yang baru saja dia baca?” Julio bertanya membatin.

Jawaban-jawaban Hana itu membuat Julio mendadak diam, tidak bertanya apa-apa lagi ke kekasihnya itu, meski ada banyak hal yang hendak ia tanyakan, bahkan rencananya untuk mengajak Hana berkencan malam nanti ia lupa sampaikan sebab ia kebingungan dengan jawaban yang diberikan kekasihnya itu.

Tetapi Julio berusaha untuk tidak terlihat kebingungan di hadapan kekasihnya itu dengan berpura-pura  mengapresiasi pemikiran kekasihnya itu.

“Sungguh pikiran yang canggih! Sayang, bahkan jika engkau membaca Plato, engkau akan menjumpai dialog tentang kematian Socrates dengan para muridnya. Socrates meyakini murid-muridnya bahwa dengan meninggal dunia, nasib jiwa justru menjadi lebih baik.”

“Hana, maaf, aku harus segera pulang! Ada hal yang harus segera aku selesaikan di kampus hari ini!” tambah Julio.

Hana segera berbalik badan. Bola matanya menatap tajam ke arah Julio, bak anak panah dengan tarikan yang kencang dalam posisi siaga lepas dari busurnya

”Baiklah, hati-hati di jalan! Ingat, seperti kematian, tanpa engkau menyadarinya, cintaku memantau setiap gerak tubuhmu, sayang,” Hana bertutur kelakar.

Hana yang adalah seorang peminat behaviorisme itu tahu persis bahwa kekasihnya itu kebingungan, penuh tanya dengan jawaban yang diberikannya. Hana membaca gerak tubuh dan mimik muka Julio persis pada saat mereka saling tatap, saat Julio berpamit pergi.

Di kedai kopi yang tak jauh dari kampus, Julio memikirkan ucapan-ucapan kekasihnya itu. Tidak lupa pula ia memberitahu Hana perihal kencan yang hendak ia adakan. Ia merogoh kantong celananya, mengeluarkan HP.

“Hana, aku ingin mengajakmu berkencan nanti malam. Aku harap engkau mengiakannya,” tutur Julio via WA.

“Maaf, untuk sekarang aku sibuk, Julio! Bagaimana kalau nanti tepat pada malam aku merayakan ulang tahunku? Aku harap kau tidak keberatan dengan tawaranku ini, Julio,” Balas Hana, tak lama setelah Julio mengirimkan pesannya.

Halaman selanjutnya >>>
Rino Sengu