Memorabilia

Memorabilia
©Pinterest

Memorabilia

Hujan mendung kala itu
berusaha membentuk derai air mata
Di pipiku teralir sungai makna

Untukku kau tak sediakan payung
Atau teduhan
Yang bisa melindungiku dari tetesannya
Hanya selimut kasihku sendiri
Yang menghangatkan tubuhku
Dan memelukku erat
Hingga mengusap air hujan di mataku
ketika jiwa-jiwa mulai berhamburan

Dan ketika hati mulai menatap duka
Ada aku yang menggores cerita
Di sisi gerbong tua yang usang ini

Fenomena

Kemanisan hari yang lalu
Mungkin sudah menjadi debu
Menutup kaca
Yang pecah berkeping-keping

Lalu kususun lagi
Walau tak akan pernah sama
tapi bibir ini mungkin berkata
“Ah, keistimewaan yang tertunda”

Tertunda atau memang akan hancur
Semua itu terserah pada takdir daun
Kering akan gugur
Lalu dihamburkan oleh angin
Sampai berserakan di tanah

Aku leburkan diriku dalam aroma
Bunga mawar yang kutanam di belakang rumah
tapi sekarang kelayuannya
Mengancurkan harapanku
Hendak aku merawatnya

Tapi nyantanya tanah dan sekitarnya tak rela
Dia tumbuh tak lama
Lalu mati tak menjadi benih lagi di tanah

Fatamorgana

Aku menyadari sepenuhnya
Bahwa bulan memang mendapat cahaya dari matahari

Tapi tak berselang lama
Sinarnya akan tetap menjadi kabur
Ketika burung camar mulai bernyanyi
Di pagi hari
Bergantikan embun yang sejuk
Lembut nan menyentuh daun hati

Tapi tak berselang lama
Embun mereda ketika disinari matahari
Sinar pagi hari
Bergantikan burung camar
Yang berusaha menghiburku
Dalam keduakaan dan kenestapaan ini

Kau tak akan mengerti
Karena kau hanyalah
Bulan atau Embun
Dan burung camar itu aku

Ketiadaanmu dalam jiwaku
Hanya menggenang di atas aliran hujan
Terbawa hingga ke muara
Pembuangan semua makna hidup
Berkumpul dengan para ikan
Terhanyut arus
Terbawa entah ke mana

Diriku.. ohh ….diriku
Kupegang erat gerbong usang itu

Ujung

Sajak yang terbentuk
Dari aliran hujan itu
Hingga membentuk kata
Yang tak habis diarungi masa

Tuhan yang mahakuasa
Mungkin menakdirkanku
Abadi dalam pena

Aku adalah wayang
Dari dalang Tuhan
Kertas adalah selimut lembut
Pena adalah guling yang empuk
Kedekap semua itu
Sampai akhir cerita
Murni dalam cinta
Terlahir untuk keabadian semata

    Moch. Syauqi Mudzakkir Billah
    Latest posts by Moch. Syauqi Mudzakkir Billah (see all)