Mempertanyakan Bentuk Gerakan Mahasiswa

Mempertanyakan Bentuk Gerakan Mahasiswa
©Antara

Mempertanyakan bentuk gerakan mahasiswa.

Politik adalah perang tanpa darah; perang itu politik yang berdarah-darah. (Mao Zedong, Pemimpin Revolusi Tiongkok)

Sebelum menulis lebih dalam, perlu saya tegaskan posisi saya sebagai berikut:

Pertama, saya mendukung gerakan mahasiswa yang dilakukan beberapa hari terakhir (dan beberapa waktu mendatang) dengan beberapa catatan. Hal pertama yang saya dukung adalah substansi alias apa yang dituntut oleh para mahasiswa tersebut.

Meskipun demikian, mengapa harus turun ke jalan, mencorat-coret tembok, membakar fasilitas, dan membuat kericuhan yang mengakibatkan korban berjatuhan? Ini pertanyaan paling krusial karena mengukur sejauh mana imajinasi mahasiswa Indonesia tentang apa itu politik. Akan saya jabarkan argumentasi saya nantinya.

Kedua, di saat-saat seperti ini, saya mengimpikan adanya bentuk gerakan ideologis tepat ketika di mana-mana basis massa justru tidak punya ideologi, atau kalaupun punya, ideologinya tidak jelas dan sekadar spontanitas. Jangan hanya karena baca karya Karl Marx, Rosa Luxemburg, dan strategi politk Lenin lalu lantas merasa perlu bertindak. Tidak sesederhana itu.

Mengapa? Karena mereka adalah intelektual organik. Organik maksudnya, basis ontologis teori yang mereka perkenalkan justru adalah cita-cita, kebiasaan, dan cara hidup mereka sendiri. Itulah alasan mengapa intelektual organik cenderung dimusuhi karena gaya berpikir, bertindak, dan corak hidupnya tidak seperti orang kebanyakan—melampaui zamannya.

Argumentasi saya mengenai poin pertama sangat sederhana. Sebuah tindakan disebut gerakan bukan diukur berdasarkan lokasi, kuantitas massa yang dikerahkan, dan waktu pelaksanaan. Jika bentuk gerakan masih terbatas pada beberapa hal di atas, sesungguhnya bentuk gerakan mahasiswa belum maju dan tetap persis sama dengan bentuk gerakan mahasiswa pada tahun 1998.

Konsekuensinya jelas: sebuah tindakan disebut gerakan apabila terdapat (dan satu-satunya) penanda (signifier), yakni ada tempat berlangsungnya gerakan (gedung DPR/DPRD), jumlah massa yang membludak (mahasiswa dari pelbagai universitas), dan tentu saja momentual (berdasarkan momen bahkan isu tertentu).

Apakah ini salah?

Mari kita periksa. Keberhasilan bentuk gerakan mahasiswa pada tahun 1998 didukung oleh pelbagai faktor, antara lain: elite politik, sipil, krisis moneter pada pertengahan tahun 1997, dan intervensi asing. Konsekuensinya jelas. Gerakan jenis ini mencuatkan Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998 dan Tragedi Semanggi pada tanggal 13-15 Mei 1998.

Bentuk gerakan seperti ini memang berhasil melengserkan Soeharto dari tampuk kekuasaan. Namun marilah kita memikirkan kembali pernyataan Pramoedya Ananta Toer ketika merayakan ulang tahunnya yang ke-81 pada tahun 2006:

Mengapa pemuda, yang dengan gemilang menyingkirkan rezim Soeharto, tidak menghasilkan tokoh politik nasional? Padahal pemudalah yang memberikan kepemimpinan dan energi dalam setiap perubahan penting di sepanjang sejarah Indonesia serta tampil menjadi tokoh politik nasional. Mengapa sekarang tidak?

Nah, pada tahun ini, tanpa beranjak dari romantisisme 1998, gerakan mahasiswa mengkooptasi bentuk gerakan yang persis sama. Akibatnya, gerakan mahasiswa cenderung tersandera isu-isu yang dimainkan elite politik yang menyetir media massa nasional. Coba cek, berapa banyak organisasi mahasiswa yang tetap kritis seperti ini, jangankan kepada pemerintah, tetapi kepada kampusnya sendiri sebelum dan sesudah aksi tersebut?

Itu berarti ada yang salah dengan sistem pendidikan, khususnya cara kita berpikir, belajar, dan berpolitik. Kampus tidak pernah menyediakan ruang yang bagus untuk berdialektika. Para dosen hanya menceramahi mahasiswanya dengan teori, dan lingkungan masyarakat tampak seperti kawanan domba yang mudah dicerai-beraikan oleh prasangka.

Idealnya, sebuah gerakan disebut ideologis tepat ketika gerakan mahasiwa hari ini mampu menghubungkan dan membangun kembali atau melampaui perjuangan politik rakyat yang terbentuk pada 1912-1965. Tidak hanya bergerak dalam dunia maya seperti halnya ‘gerakan’ petisi ‘online’.

Selain itu, gerakan mahasiswa juga harus diperkuat dengan berbagai kajian serius tentang masyarakat sebagaimana Lenin (tulis Tan Malaka) dengan cara berpikir dialektika materialis dilaksanakan atas semua kodrat sosial di Rusia, berhasil mengenal sifat dan kodrat semua golongan revolusioner dalam menumbangkan feodalisme dan kapitalisme satu demi satu, hampir sekaligus.

Artinya, kerja gerakan berlangsung dalam kerangka kerja seorang ahli. Ia pertama-tama harus mengumpulkan dan menyelidiki semua bukti sosial yang ada, melakukan koordinasi untuk mengerahkan kekuatan terhadap golongan yang mau disingkirkan (katakanlah, oligarki).

Dalam contoh paling sederhana, apakah bentuk gerakan mahasiswa saat ini memiliki media propaganda seperti koran untuk memperkuat argumen dan memperluas kesadaran massa? Apakah gerakan mahasiswa, dalam pengertian Lacanian, berani masuk ke dalam sistem dengan cara memiliki perwakilan di DPR atau elite politik dalam tubuh kekuasaan yang selanjutnya memperjuangkan tuntutan yang diutarakan?

Ini penting. Karena tanpa cara ini, ‘gerakan’ mahasiswa di jalanan tidak punya efek apa-apa—untuk tidak mengatakan terfragmentasi, momentual, dan sia-sia.

    Hans Hayon

    Mahasiswa dari Flores Timur, NTT. Buku kumpulan cerpennya berjudul 'Tuhan Mati di Biara' (Ende: Indah Indah, 2015) dan kumpulan esai 'Mencari yang Pintang, Menugur yang Terguncang' (Yogyakarta, 2019).
    Hans Hayon

    Latest posts by Hans Hayon (see all)