Mempertanyakan Cinta menurut “Aku Berpikir, Maka Aku Ada” Rene Descartes

Mempertanyakan Cinta menurut “Aku Berpikir, Maka Aku Ada” Rene Descartes
©CNN

Mempertanyakan Cinta menurut “Aku Berpikir, Maka Aku Ada” Rene Descartes

Semua orang pasti pernah merasakan yang namanya jatuh cinta dan mencintai. Tak jarang dari sikap mencintai itu lahirlah sebuah komitmen yang disebut dengan pernikahan. Namun, banyak juga orang mencintai sering merasakan patah hati, tatkala cintanya pergi atau bertepuk sebelah tangan.

Setiap manusia di dunia ini ingin sekali dicintai secara tulus sepenuhnya. Tak ada di dunia ini yang perasaannya ingin dimainkan. Tetapi kenyataan, masih banyak orang yang patah hati, sakit hati karena cinta.

Terkadang kita suka bertanya-tanya dan memang wajib mempertanyakan tentang apakah cinta sejati itu ada? Pertanyaan ini merupakan kewajiban yang memang harus dipertanyakan. Bukan tanpa alasan seorang manusia bertanya atau berpikir mengenai apakah cinta sejati itu ada?

Sebagai manusia yang mulia Tuhan telah memberikan manusia pikiran dan akal. Pikiran ada agar menjadi pencerah hatimu untuk menembus cakrawala pengetahuan. Akal ada agar menjadi mata hati untuk memisahkan mana yang benar dan mana yang salah (Ahmad, 2019).

Di dunia yang semakin serba cepat dan tanpa batas. Manusia mulai tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Banyaknya berita hoax telah membuktikan bahwa kebenaran menjadi relatif. Tidak ada lagi kebenaran yang sesungguhnya, sebab semua orang dengan berita bohongnya menjadi ingin merasa benar sendiri. Di sinilah pentingnya peran akal dan pemikiran untuk membongkar semua kebohongan-kebohongan yang ada.

Bertanya tentang makna kebenaran dengan meragukan segala yang ada sebenarnya sudah dilakukan oleh seorang filsuf bernama Rene Descartes melalui jargonnya yang terkenal “aku berpikir maka, aku ada”.

Aku Berpikir, Maka Aku Ada (Keraguan Akan Cinta Sejati)

“Cogito Ergo Sum”, demikian kalimat terkenal dari seorang filsuf Prancis Rene Descartes (1596-1650). “Aku berpkir, maka aku ada”, demikian jika kalimat itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Dengan kalimat ini, Descartes hendak mengatakan bahwa betapa pentinya peran pikiran atau aktivitas berpikir bagi manusia. Metode ini hanyalah sebuah proses berpikir seseorang terhadap sesuatu.

Baca juga:

Dalam membangun filsafatnya mengenai berpikir, disini pertama-tama Descartes mengawalinya dengan meragukan segala sesuatu sepanjang hal tersebut dapat diragukan, termasuk kepada diri sendiri.

Melalui bangunan filsafatnya Descartes menganggap bahwa dibutuhkan satu metode yang dapat membantu dirinya menemukan kebenaran. Langkah awalnya ialah dengan meragukan segala pengetahuan yang selama ini didapat. Sebab menurut Descartes, banyak hal yang kita anggap selama ini benar ternyata belakangan bisa dianggap salah. Begitu juga tentang banyak hal yang kita terima begitu saja tanpa pemeriksaan lebih teliti.

Proses meragukan ini, dapat dianalogikan seperti usaha menemukan apel yang busuk di dalam sekeranjang apel. Cara terbaik adalah dengan mengeluarkan terlebih dahulu semua apel dari keranjang. Baru kemudian memeriksa satu persatu apel itu. Mana apel yang matang, dapat kembali dimasukkan dalam keranjang. Mana yang busuk, dapat dibuang.

Dengan analogi ini, Descartes hendak mendakwa segala jenis pengetahuan bisa saja mungkin keliru. Alat inderawi seperti mata misalnya, menampilkan benda-benda langit sebagai benda kecil, padahal nyatanya mereka sangat luas (Sulaiman, 2023).

Terkait dengan meragukan cinta sejati melalui pemikiran Descartes ini, adalah terkait dengan berpikir untuk diri sendiri, yakni bertanya apakah saya layak untuk dicintai dengan tulus? Pertama-pertama kita harus ragu dulu kepada diri kita. Hal ini penting untuk menjaga kita dari bucin atau jatuh cinta secara buta.

Dengan melontarkan pertanyaan “apakah saya layak dicintai secara tulus” kepada diri sendiri akan meneguhkan prinsip kita bahwa kita sudah siap untuk dicintai. Pasalnya dengan adanya aku, pikiranku yang kebenarannya pasti tak tergoyahkan.

Menurut Descartes, dalam proses “aku yang berpkir” merupakan sebentuk pengetahuan yang tidak terpilah-pilah. Descartes memberikan contoh dengan lilin yang dipanaskan mencair dan berubah bentuk. Apa yang membuat pemahaman kita bahwa apa yang Nampak sebelum dan sesudah mencair adalah lilin yang sama?

Mengapa setelah penampakan berubah kita tetap bisa mengatakan bahwa itu adalah lilin yang sama? Menurut Descartes adalah karena akal kita yang mampu menangkap ide secara jernih tanpa terpengaruh oleh gejala lilin yang berubah (Pratama, 2015).

Halaman selanjutnya >>>
Dimas Sigit Cahyokusumo