Mempertanyakan Materialisme

Bayangkan ada sebuah mesin raksasa besar yang bisa menghasilkan kesadaran. Mesin itu seukuran rumah mewah seorang borjuis, katakanlah demikian. Kita bisa keluar-masuk ke dalam rumah itu untuk melihat-lihat bagaimana mesin itu bekerja.

Namun masalahnya, penglihatan kita soal bagaimana mesin itu bekerja tidak menjawab pertanyaan soal bagaimana interaksi-interaksi mesin itu menghasilkan kesadaran. Begitu juga dengan otak dan kesadaran kita, mengatakan bahwa interaksi berbagai macam aspek material dalam otak seperti neurotransmitter, sinapsis, dan interaksi-interaksi dalam tubuh semacam hormon tidak menjawab pertanyaan bagaimana interaksi-interaksi semacam itu menghasilkan kesadaran. Materialisme, sederhananya, tidak menjawab apa pun soal asal-usul kesadaran.

Hal yang sama Yuval Noah Harari kemukakan dalam bukunya Homo Deus. Ia mempertanyakan bagaimana interaksi antar-materi bisa menghasilkan kesadaran dalam benak manusia. Padahal banyak sekali jenis interaksi materi di alam ini, namun tidak ada satu pun yang menghasilkan kesadaran.

Misalnya, matahari. Matahari sebagai sebuah bintang adalah bola raksasa tempat berbagai macam interaksi materi terjadi, tapi toh kita tidak mengatakan matahari memiliki kesadaran. Dalam bentuk jokes khasnya, Harari menyatakan bahwa kumpulan kendaraan yang menimbulkan macet di ibu kota toh tidak membuat jalanan tiba-tiba berkata, “Aduh, saya merasa macet.” Hanya manusia yang demikian. Interaksi materi dalam dirinya membuatnya hidup, dan lebih aneh lagi, memiliki kesadaran.

Bagaimana bisa? Jawaban apa yang materialisme tawarkan atas pertanyaan ini?

Sebagian pembaca mungkin akan berpikir bahwa memang hal tersebut masih menjadi misteri sampai sekarang. Bahkan sains modern pun belum memiliki jawaban yang pasti soal ini. Namun jutstru itu problemnya, kalau kemudian sains saja belum memiliki jawaban yang jelas, mengapa kemudian kita harus bersikap materialistis dalam memandang kesadaran manusia?

Kritik berikutnya pada materialisme adalah gagasan terkait etika, yang berpusat pada pertanyaan “apa itu kebahagiaan?”

Bagi materialisme, kebahagiaan tidak lebih dari sebatas sebuah determinasi fisik semata. Bahwa kebahagiaan seorang manusia tidak terbedakan dengan kesenangan yang sifatnya adalah hanya interaksi biokimiawi dalam tubuh, reaksi-reaksi hormonal dan neurotransmitter semata. Tapi ini problem berikutnya. Mari kita lihat bagaimana ini menjadi suatu problem.

Kita mulai dari sebuah pengandaian akan masa depan. Andaikan bahwa masa depan itu, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita bisa memanipulasi hormon-hormon dan neurotransmitter sebagaimana di atas, yang kita anggap bertanggung jawab atas kebahagiaan seperti dopamin, serotonim, dan seterusnya. Dengan perkembangan iptek, kita bisa memanipulasi hormon-hormon itu tanpa menimbulkan efek samping yang tidak kita inginkan.

Katakanlah cara untuk memanipulasinya itu melalui sebuah pil, yang cukup kita tenggak sudah cukup meningkatkan hormon-hormon kebahagiaan tanpa ada efek samping yang buruk.

Baca juga:

Sekarang bayangkan ada seorang tiran yang ingin masyarakatnya bahagia di bawah kekuasaannya. Lantas dia menyebarkan pil ini secara gratis kepada setiap orang tanpa kecuali agar bisa membuat masyarakatnya bahagia. Terutama target penyebarannya kepada orang-orang miskin atau ekonomi bawah.

Bayangkan, hanya dengan menenggak pil, mereka sudah bahagia dalam kemiskinan mereka. Hanya dengan pil, hormon kebahagiaan mereka terwujud. Sehingga hanya dengan pil, orang miskin tetap bisa hidup bahagia dalam kemiskinan mereka.

Bukankah itu luar biasa? Tidak perlu lagi ada gerakan reformasi-reformasi sosial. Tidak perlu lagi ada revolusi-revolusi, ataupun gerakan pengentasan kemiskinan. Buat apa? Toh dengan pil kebahagiaan bisa terciptakan.

Pada akhirnya kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa materialisme sebagai sebuah paham tidaklah utuh memberikan penjelasan akan dunia ini. Materialisme tidak bisa memberikan penjelasan bagaimana kesadaran bermula, tidak pula materialisme memberikan penjelasan tentang modifikasi tubuh di atas.

Apakah demikian dualisme sebagai lawan tanding dari materialisme lebih baik ketimbang materialisme? Tidak, saya tidak mengatakan demikian. Dalam tulisan ini, saya berfokus pada materialisme semata, tidak pada dualisme.

Meski demikian, pandangan pribadi saya adalah saya tidak tahu. Saya tidak tahu dari mana kesadaran berasal. Bahkan saya tidak tahu apa itu kesadaran, secara definisi, termasuk kebahagiaan. Mengapa? Karena hingga sekarang bahkan sains sekalipun belum memberikan penjelasan yang memadai soal kesadaran.

Bagi saya, lebih baik bersabar dengan penelitian-penelitian saintifik terkait kesadaran daripada membuat sebuah asumsi tak berdasar sekalipun.

Baca juga:
    Syahid Sya'ban
    Latest posts by Syahid Sya'ban (see all)