Menakar Komitmen Partai Politik

Menakar Komitmen Partai Politik
©Wonderopolis

Tidak hanya gaung di saat pemilu, tetapi komitmen partai politik harus mampu mempertanggungjawabkan kepada publik pesan-pesan yang tertitip di pundaknya.

Riuh rendah pemilu telah usai. Kini kita memasuki tahap evaluasi. Sekiranya pada tahap ini rekonsiliasi politik dapat kita pergunakan semaksimal mungkin. Agar pembelahan politik yang terjadi selama ini dapat terangkul kembali.

Polarisasi yang terjadi selama proses pemilu kemarin membuat kita mudah terecekoki dengan hal-hal yang bersifat primordial. Saatnya kita membuka cakrawala berpikir konstruktif demi pembangunan yang berkelanjutan.

Untuk mencapai itu, kita butuh optimisme dari semua pihak. Bersama-sama kita mendukung serta mengawal setiap kebijakan (policy) yang akan terimplementasikan.

Namun, terlepas dari itu semua, tulisan ini ingin menakar seberapa jauh komitmen partai politik (parpol) ke depannya. Barangkali saya terlalu gegabah dan terburu-buru mengkhawatirkan sikap parpol sekaligus melemparkan sikap tidak percaya atas komitmen parpol sendiri. Tetapi sebenarnya sikap saya yang terburu-buru dapat kita benarkan ketika kita merefleksikan kembali perjalanan parpol selama ini.

Terhitung setelah reformasi, peran partai politik menjadi sedemikian penting dalam menjembatani kepentingan masyarakat dan pemerintah. Bisa kita katakan, parpol merupakan sarana terpenting dalam menentukan aspek pembangunan.

Mengingat akan pentingnya peran sekaligus fungsi partai politik, kita juga punya tanggung jawab menuntut parpol untuk selalu menegakkan komitmen pada publik. Komitmen tersebut mendapat dukungan dari sikap parpol yang telah menyambangi masyarakat pada masa kampanye.

Artinya, partai politik wajib untuk konsisten dengan janji politik yang telah mereka tawarkan kepada publik. Yang jelas, sekarang publik hanya menunggu kapan janji tersebut benar-benar mereka buktikan. Komitmen partai politik ialah menjaga agar marwah kepercayaan publik (public trust) yang telah tertitipkan di pundak parpol mampu mereka tindak lanjuti.

Kepercayaan Publik

Dalam alam demokrasi, ada beberapa fungsi partai politik, yakni sebagai sarana komunikasi politik, sosialisasi politik, rekrutmen politik, dan pengatur konflik (Dasar-Dasar Ilmu Politik, Miriam Budiardjo).

Fungsi-fungsi tersebut pada dasarnya merupakan kekuatan sekaligus komitmen partai politik dalam menjembatani antara kepentingan masyarakat dan pemerintah. Untuk itu, masyarakat secara luas menitipkan pesan (order) kepada parpol agar partai mampu menyalurkan aspirasi tersebut guna pemerintah sebagai tindak lanjuti pengambil kebijakan.

Di sinilah peran kerja parpol sebenarnya. Tidak hanya gaung di saat pemilu, tetapi partai harus mampu mempertanggungjawabkan kepada publik pesan-pesan yang tertitipkan pada pundak partai.

Untuk itu, tidak beralasan jika, pasca-pemilu, publik menagih komitmen parpol. Atas dasar kepercayaan publik sendiri, partai harus benar-benar menjembatani kepentingan sekaligus memikul kepercayaan publik sebagai satu titipan moral yang mesti terjaga.

Kepercayaan publik tersebut tidak hanya sebatas pada pemenuhan kepentingan publik, tetapi bagaimana partai mampu menjaga kepercayaan tersebut sebagai pihak yang publik percayakan. Hal ini semestinya harus melekat pada partai. Agar nuansa negatif yang muncul di ruang publik tidak menyudutkan partai sekaligus asumsi publik tidak leluasa mengatakan bahwa partai hanyalah ‘kendaraan dalam pesta pemilu’.

Setiap partai mesti berkonvergensi pada tujuan kebaikan umum atau bonum commune (Restorasi, Rekonstruksi Menuju Keberadaan Politik, Eduardus Lemanto). Inilah persyarat utama bagi semua partai yang hendak memikul tanggung jawab publik.

Artinya, kebaikan umum yang ingin semua partai capai tidak boleh mereka lakukan hanya untuk kelompok-kelompok tertentu. Misalnya, hanya anggota partai, konstituen yang mendukung selama pemilu. Tetapi harus mengakomodasi semua kepentingan publik.

Cita-cita untuk mencapai kepentingan umum tersebut harus partai galakkan dengan sikap berpegang teguh pada komitmen partai itu sendiri. Kepentingan publik yang tertitipkan lewat pemilu harus semua partai yang merasa punya titipan pesan publik perjuangkan.

Halaman selanjutnya >>>

Patrisius Jenila
Latest posts by Patrisius Jenila (see all)