Menalar Kewarasan Akademisi

Menalar Kewarasan Akademisi
Ilustrasi: coretan1206.blogspot.co.id

Kerap kali perjumpaan kita dengan para akademisi di kelas berujung pada perdebatan panjang. Bukan soal teoritik pengetahuan atau telaah intelektual, justru perihal teknis administratif yang kaku.

Tak jarang kuasa dosen di kelas dibentuk begitu dominan mengekang gerak langkah, ide-ide kritis dan kreatif. Acapkali kita masih menyaksikan aturan di kelas sebagai aturan Tuhan yang tak boleh ditantang. Miris, hal utama pendidikan di kampus bukan lagi soal implementasi, aplikasi, dan penguatan nalar, tetapi justru nilai utamanya adalah hal normatif yang tak mendasar.

Kisah klasik absensi kehadiran minimal 75%, batas keterlambatan hadir di kelas, dan keharusan pakaian kebarat-baratan, berada di ruang kelas terus, menjadi cerita romantis mahasiswa masa kini.

Belum lagi tindakan represif dan diskriminasi oleh institusi perguruan tinggi terhadap para aktivis mahasiswanya. Perguruan tinggi sebagai representasi “kebenaran”, terbukti tidak dapat menerima kritik sebagai dialog antarberbagai pemikiran, wacana, dan ide.

Walaupun tidak semua akademisi memilih sikap di atas, tetapi hampir dipastikan tindakan ini kerap menjadi cuaca buruk pendidikan tinggi. Para akademisi di kelas sering menjelmakan dirinya sebagai dewa suci, mengatur masa depan mahasiswanya dengan seabrek tugas teoritis, sehingga iklim pembelajaran di kelas tidak lagi sehat, terpaku pada presentasi historis teori-teori intelektual belaka.

Iklim pendidikan tinggi kita kali ini tidak lagi dialogis, bahkan kaku, berjalan sesuai permintaan pasar; ironis. Banyak mahasiswa yang hanya berorientasi pada indeks prestasi tinggi dan ingin segera meraih gelar sarjana, lalu sibuk bekerja mengabdi pada mesin-mesin kapitalis.

Akibatnya, pendidikan hanya menghasilkan manusia yang skolastik dan pandai secara intelektual, namun kurang memiliki karakter utuh sebagai pribadi. Kritik adalah hal yang haram dan mahasiswa akan memposisikan dirinya hanya berkewajiban belajar serta dipersiapkan menjadi buruh-buruh baru.

Merawat Roman Perjuangan Mahasiswa

Kehidupan mahasiswa di kampus bukan hanya soal Lembaga Eksekutif Mahasiswa atau Unit Kegiatan Mahasiswa saja. Ada kelompok-kelompok kecil lainnya yang berharap ruang proses lebih dari dua ruang itu.

Perkumpulan kecil ini biasanya menamakan dirinya dengan kelompok studi. Tidak hanya menginginkan satu rangkaian kegiatan seremonial yang menjadi corong birokrat kampus dengan sumber dananya yang besar, melainkan lebih dari itu. Kelompok ini, selain proses normatif di ruang kelas, mereka terus mengamini dan menciptakan ruang belajar alternatif yang otonom, kritis, kreatif, dan aspiratif.

Menurut Wahyu Minarno dalam pengantarnya di buku Kesaksian: Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY karya Maman Suratman (2015), teknologi kapitalis telah berhasil membuat mahasiswa sibuk dengan urusan dunia tak nyata sehingga melupakan persoalan-persoalan sosial yang tampak di depan mata, bahkan abai terhadap masa depan kemanusiaannya sendiri.

Penulis sepakat dengan Wahyu bahwa negara secara halus telah berhasil mengkondisikan mahasiswa melalui kebijakan yang kemudian dijalankan oleh aparatnya di masing-masing Perguruan Tinggi. Kesadaran, nalar kritis, dan keberanian mahasiswa ditundukkan.

Merawat roman perjuangan mahasiswa wajib terus digalakkan. Mahasiswa dan gerakannya tidak boleh lagi beralih ideologi dan perilakunya hanya karena adanya tekanan-tekanan yang ada. Identitas mahasiswa sudah menempatkan kisahnya sendiri dalam sejarah heroik para pemuda.

Menurut Albert Camus, harus ada perlawanan, entah dengan cara apa, dan jangan sampai ditundukkan olehnya. Jangan biarkan kekuatan di luar negara dan perguruan tinggi mengambil peran dalam membentuk pola mahasiswa dan gerakannya ke arah yang semakin tak karuan.

Mempersiapkan Generasi Penerus

Mahasiswa dan institusi pendidikan adalah pembangun zoon politicon bahkan zoon economicon. Mahasiswa dan perguruan tinggi adalah media yang mampu menjembatani antara infrastruktur politik dan masyarakat. Bukan malah sebaliknya, apatis dengan persoalan kebangsaan yang suram.

Dosen dan mahasiswa harus berjalan seirama mempersiapkan generasi penerus yang berkarakter demi pembangunan bangsa di masa depan. Bukan antipati terhadap daya kritis dan politis, lalu membunuh dan mendiskriminasi kelompok studi ini. Perguruan tinggi wajib tetap berdiri sebagai laboratorium kebenaran dan cakrawala pengetahuan.

Di dalam bukunya yang berjudul Ethika Nicomacheia yang diperuntukkan bagi Nikomachus, Aristoteles menguraikan pentingnya etika, yakni bagaimana pergaulan dan penghargaan seorang manusia kepada manusia lainnya tidak didasarkan pada egoisme atau kepentingan individu. Akan tetapi, didasarkan pada alturistis, yaitu memperhatikan orang lain.

Dalam konteks ini, para dosen tetap bertanggung jawab atas melemahnya ideologi aktivis mahasiswa. Seharusnya, ia menempatkan penghargaan yang lebih pada mahasiswanya ketika hendak berkembang dalam ruangnya sendiri. Itulah etika kemanusiaan aristoteles, menempatkan penghargaan pada kebebasan orang lain.

Gagalnya Ruang Kelas

Mati surinya gerakan mahasiswa ini ternyata dilatarbelakangi oleh matinya gerakan akademis (dosen) lebih dahulu. Sebab, para birokrasi di perguruan tinggi tidak lagi men-support dan men-sponsori mereka untuk berkembang ke arah yang tepat.

Menurut Halili Hasan (2012), mereka gagal menjadikan ruang-ruang kelas sebagai strategi kebudayaan untuk membangun mentalitas dan mindset ke-Indonesia-an bagi generasi muda. Yang ada, agenda “pasar” (AFTA, ACFTA, AEC dan lainnya) hanya akan menjadi instrumen penjajahan.

Perguruan tinggi saat ini cenderung asyik menikmati dana-dana CSR (Corporation Social Responsibility), bahkan mempersiapkan mahasiswanya pada kepentingan kapital melalui kurikulum dan kebijakan lainnya.

Penghargaan terhadap orang lain yang tidak didasarkan pada kepentingan individu yang ditafsirkan sebagai etika menurut Aristoteles, jarang lagi ditemukan di ruang pendidikan. Bagi seorang mahasiswa yang kritis dan tidak tunduk pada kebijakan diskriminatif akan mendapat intimidasi, disebabkan oleh tafsir kebenaran sepihak para birokrasi kampus.

Jika tindakan ini terus berada di lingkungan kampus, maka nalar kewarasan akademisi perlu dipertanyakan. Sebab, sakitnya nalar dapat diukur salah satunya oleh tindakan yang tak punya alternatif selain melakukan pembenaran tanpa dasar yang rasional.

___________________

Artikel Terkait:

    Alan Akim

    Pengamat politik muda dan pemerhati hukum tata negara.

    Latest posts by Alan Akim (see all)