Menalar Kewarasan Akademisi

Menalar Kewarasan Akademisi
©Blogspot

Kerap kali perjumpaan kita dengan para akademisi di kelas berujung pada perdebatan panjang. Bukan soal teoritik pengetahuan atau telaah intelektual, justru perihal teknis administratif yang kaku.

Tak jarang kuasa dosen di kelas terbentuk begitu dominan mengekang gerak langkah, ide-ide kritis dan kreatif. Acapkali kita masih menyaksikan aturan di kelas sebagai aturan Tuhan yang tak boleh kita tantang. Miris, hal utama pendidikan di kampus bukan lagi soal implementasi, aplikasi, dan penguatan nalar, tetapi justru nilai utamanya adalah hal normatif yang tak mendasar.

Kisah klasik absensi kehadiran minimal 75 persen, batas keterlambatan hadir di kelas, dan keharusan pakaian kebarat-baratan, berada di ruang kelas terus, menjadi cerita romantis mahasiswa masa kini.

Belum lagi tindakan represif dan diskriminasi oleh institusi perguruan tinggi terhadap para aktivis mahasiswanya. Perguruan tinggi sebagai representasi “kebenaran” terbukti tidak dapat menerima kritik sebagai dialog antar-berbagai pemikiran, wacana, dan ide.

Walaupun tidak semua akademisi memilih sikap di atas, tetapi hampir bisa kita pastikan tindakan ini kerap menjadi cuaca buruk pendidikan tinggi. Para akademisi di kelas sering menjelmakan dirinya sebagai dewa suci, mengatur masa depan mahasiswanya dengan seabrek tugas teoritis, sehingga iklim pembelajaran di kelas tidak lagi sehat, terpaku pada presentasi historis teori-teori intelektual belaka.

Iklim pendidikan tinggi kita kali ini tidak lagi dialogis, bahkan kaku, berjalan sesuai permintaan pasar; ironis. Banyak mahasiswa yang hanya berorientasi pada indeks prestasi tinggi dan ingin segera meraih gelar sarjana, lalu sibuk bekerja mengabdi pada mesin-mesin kapitalis.

Akibatnya, pendidikan hanya menghasilkan manusia yang skolastik dan pandai secara intelektual, namun kurang memiliki karakter utuh sebagai pribadi. Kritik adalah hal yang haram dan mahasiswa akan memosisikan dirinya hanya berkewajiban belajar serta bersiap menjadi buruh-buruh baru.

Merawat Roman Perjuangan Mahasiswa

Kehidupan mahasiswa di kampus bukan hanya soal Lembaga Eksekutif Mahasiswa atau Unit Kegiatan Mahasiswa saja. Ada kelompok-kelompok kecil lainnya yang berharap ruang proses lebih dari dua ruang itu.

Baca juga:

Perkumpulan kecil ini biasanya menamakan dirinya dengan kelompok studi. Tidak hanya menginginkan satu rangkaian kegiatan seremonial yang menjadi corong birokrat kampus dengan sumber dananya yang besar, melainkan lebih dari itu.

Kelompok ini, selain proses normatif di ruang kelas, mereka terus mengamini dan menciptakan ruang belajar alternatif yang otonom, kritis, kreatif, dan aspiratif.

Menurut Wahyu Minarno dalam pengantarnya di buku Kesaksian: Kisah Perlawanan Mahasiswa UTY karya Maman Suratman (2015), teknologi kapitalis telah berhasil membuat mahasiswa sibuk dengan urusan dunia tak nyata. Sehingga melupakan persoalan-persoalan sosial yang tampak di depan mata, bahkan abai terhadap masa depan kemanusiaannya sendiri.

Penulis sepakat dengan Wahyu bahwa negara secara halus telah berhasil mengondisikan mahasiswa melalui kebijakan yang kemudian dijalankan oleh aparatnya di masing-masing Perguruan Tinggi. Kesadaran, nalar kritis, dan keberanian mahasiswa mereka tundukkan.

Merawat roman perjuangan mahasiswa wajib terus kita galakkan. Mahasiswa dan gerakannya tidak boleh lagi beralih ideologi dan perilakunya hanya karena adanya tekanan-tekanan yang ada. Identitas mahasiswa sudah menempatkan kisahnya sendiri dalam sejarah heroik para pemuda.

Menurut Albert Camus, harus ada perlawanan, entah dengan cara apa, dan jangan sampai kita tunduk olehnya. Jangan biarkan kekuatan di luar negara dan perguruan tinggi mengambil peran dalam membentuk pola mahasiswa dan gerakannya ke arah yang makin tak karuan.

Mempersiapkan Generasi Penerus

Mahasiswa dan institusi pendidikan adalah pembangun zoon politicon bahkan zoon economicon. Mahasiswa dan perguruan tinggi adalah media yang mampu menjembatani antara infrastruktur politik dan masyarakat. Bukan malah sebaliknya, apatis dengan persoalan kebangsaan yang suram.

Dosen dan mahasiswa harus berjalan seirama mempersiapkan generasi penerus yang berkarakter demi pembangunan bangsa di masa depan. Bukan antipati terhadap daya kritis dan politis, lalu membunuh dan mendiskriminasi kelompok studi ini. Perguruan tinggi wajib tetap berdiri sebagai laboratorium kebenaran dan cakrawala pengetahuan.

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by Alan Akim (see all)