Menanti Perjuangan Aspirasi dari Respiratori

Menanti Perjuangan Aspirasi dari Respiratori
Ketua Umum PB HMI Respiratori Saddam Aljihad

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah usai melaksanakan hajatan dua tahunan (Kongres) yang bertempat di Ambon, dan melahirkan pemimpin yang muda, yaitu Respiratori Saddam Al Jihad. Kongres yang cukup efisien ini bisa selesai dalam waktu kurang lebih empat belas hari.

Terlepas dari unsur politik, bukan menjadi hal yang dasar karena politik itu adalah dinamis yang tanpa kita sadari sudah menjadi sisi lain di HMI. Sebagai organisasi pengaderan, HMI harus mampu membaca perkembangan dan hambatan dari pembangunan SDM dan SDA Indonesia.

Bersamaan dengan itu, HMI berdiri tidak lain untuk mengangkat derajat umat Islam dan mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia, sebuah tugas berat yang harus HMI bawa untuk sampai kepada visinya: “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernapaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah Swt.”

Respiratori merupakan formatur terpilih yang umurnya cukup muda. Gagasannya progresif dengan tagline sustainable menjadi pembeda dengan kandidat lain tanpa menyampingkan kalau semuanya ingin membenahi HMI di masa yang akan datang. Konsep sustainable adalah tawaran yang sangat pas untuk membawa organisasi besar pada zaman sekarang (zaman now).

Sustainable atau sustainability berasal dari kata sustain yang artinya “berlanjut” dan ability yang artinya “kemampuan”. Dalam ekologi, sustainability merupakan sebuah sistem biologis yang tetap mampu menghidupi keanekaragaman hayati dan produktivitas tanpa batas. Suatu lahan dan hutan basah yang sehat dan berumur panjang adalah contoh sistem biologi berkelanjutan.

Secara definitif, istilah keberlanjutan merupakan proses sosio-ekologis dengan pencapaian cita-cita yang sama. Ini cita-cita yang tak terjangkau dalam ruang dan waktu tertentu dengan pendekatan yang dinamis dan fleksibel (Wandemberg, Sustainable by Design).

Tagline dari Respiratori ini, kalau kita internalisasikan dan menjadi kebijakan dalam program kerja, HMI akan menemukan titik terang. Ini mengingat jumlah kader yang banyak dan potensial. Sehingga sangat mungkin keberlanjutan ini akan berumur panjang. Cita-cita ini pulalah yang menjadi harapan founding fathers negeri ini.

Tentu bukan hanya pendukung dari Respiratori sendiri yang menunggu sikap yang tegas, tetapi seluruh kader HMI se-Indonesia. Puncak kejayaan emas tidak mudah teraih hanya karena memodalkan visi-misi yang wow, tetapi keras keras harus menopangnya.

Baca juga:

HMI bukan ruang untuk ajang miss universe yang hanya menampilkan style berpakaian dan capital smile. Organisasi yang besar melahirkan pemimpin yang besar, berpengaruh, dan karismatik.

Pengaruh yang saya maksud adalah kebijakan yang berpihak kepada kaum mustadafin yang secara sengaja ditindas dan dikerdilkan oleh kebijakan Birokrat Negara yang jauh dari naluri manusiawi. Dalam hal ini adalah kebijakan DPR dengan sahnya UU MD3 yang sangat mencekik dan memberangus kreativitas dari mahasiswa, khususnya rakyat Indonesia.

Kita sebagai mahasiswa apalagi kader HMI tentu sudah tahu isi UU tersebut, peran dan fungsinya seperti apa, dan bagaimana wilayah UU tersebut bekerja. Kita juga tahu kalau DPR itu tidak bahlul. Dalam hal ini, terlepas penerapannya, UU tersebut sudah dipertimbangkan atau belum.

Sebagai mahasiswa yang selalu menyuarakan atas nama rakyat, sudah barang tentu perlu kita lantangkan kembali. Pimpinan baru HMI harus mengawal kekritisan dari suara mahasiswa ini.

Sahnya UU MD3 telah mengundang reaksi keras dari organisasi mahasiswa (PMII, GMNI, dan IMM), sehingga mereka kembali turun ke jalan untuk menentang kebijakan DPR tersebut. Saya tidak tahu kenapa HMI seakan kehilangan gairah untuk menanggapi UU ini.

Jika kemudian tagline sustainable ini hanya menjadi pemanis dan isapan jempol belaka, tidak lebih penting organisasi sebesar HMI hanya melahirkan peserta kontes busana dan adu ketampanan. Kita harus mengingat bahwa idealisme adalah harta/kemewahan terakhir yang mahasiswa miliki (Tan Malaka).

Semoga tulisan ini sampai ke hadapan Formatur PB HMI. Sehingga Respiratori mampu menjadi aspirasi dari seluruh kader HMI kapan dan di mana pun berada.

Baca juga:
Ainur Rohman