Mencari Pengakuan Internasional ala Bung Karno

Mencari Pengakuan Internasional ala Bung Karno
©Kumparan

Meski terjadi hambatan besar Indonesia dalam memperoleh pengakuan dunia internasional, hal tersebut tidak menyurutkan perjuangan Bung Karno.

Seperti yang kita tahu bahwa suatu negara baru akan diakui sebagai negara yang sah apabila memenuhi syarat-syarat, seperti penduduk yang tetap, wilayah tertentu, pemerintahan, dan juga kedaulatan. Saat syarat-syarat tersebut sudah terpenuhi oleh suatu negara, maka negara itu adalah sah dan sudah masuk menjadi subjek hukum internasional dengan segala hak dan kewajibannya.

Namun akan lebih baik apabila negara yang baru lahir memperoleh pengakuan dari negara lain sehingga dapat melakukan hubungan ataupun kerja sama dengan negara lain. Hal inilah yang terjadi di Indonesia setelah usai penjajahan di mana perjuangan bangsa ini tidak sampai di situ saja. Untuk memperkokoh keberadaan Indonesia sebagai negara yang merdeka, Indonesia berupaya mencari pengakuan internasional, salah satunya adalah masa pemerintahan Bung Karno.

Melihat syarat sah atau tidaknya suatu negara, saat itu Indonesia sudah memenuhi syarat yang ada, namun beberapa negara masih menunggu pengakuan dari Belanda sebagai negara yang menjajah Indonesia sebelumnya. Tetapi, kemerdekaan Indonesia justru mendapat pertentangan keras dari Belanda sendiri, bahkan Belanda berupaya melakukan pertentangan dengan kekuatan bersenjata.

Meski menjadi hambatan besar Indonesia dalam memperoleh pengakuan dunia internasional, namun hal tersebut tidak menyurutkan perjuangan Bung Karno dan rekan-rekan pejuang yang lain.

Melihat banyaknya pertentangan, lantas Indonesia melakukan dua strategi. Strategi yang pertama adalah Indonesia melakukan kontak bilateral secara intens dengan negara-negara lain, baik negara-negara Sekutu, Timur Tengah maupun Uni Soviet. Hal ini bertujuan untuk membangun kepercayaan dan kekuatan dunia internasional sehingga nantinya akan memaksa Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Strategi yang kedua adalah Indonesia berusaha mempertahankan kemerdekaannya dari Belanda melalui perundingan Indonesia-Belanda dari 1945 hingga 1949.

Berikut ini adalah peristiwa-peristiwa penting dalam upaya mendapatkan pengakuan internasional:

  1. Indonesia-Sekutu

Inti dari kontak Indonesia dengan Sekutu adalah diawali dari penyerahan kedaulatan Jepang oleh Amerika Serikat saat terjadi kekosongan di Indonesia pada 15 Agustus hingga 29 September 1945. Inggris juga ikut berperan dalam mencegah pergolakan di Asia yang bisa memengaruhi wilayah sekitarnya dengan mendesak Belanda untuk melakukan perundingan dengan pihak Indonesia.

  1. Indonesia-India

Setelah proklamasi kemerdekaan, para pelajar dan mahasiswa Indonesia di India berinisiatif mendirikan Persatuan Putera Indonesia di India (PPII). PPII ini merupakan Balai Penerangan yang berfungsi menyediakan bahan materi tentang Indonesia dalam bahasa Inggris yang diambil dari siaran Radio Republik Indonesia (RRI). Bahan berbahasa Inggris tersebut kemudian diteruskan kepada Perwakilan Republik Indonesia di London dan New York.

Baca juga:

Kontak penting antara Indonesia dengan India adalah adalah Indonesia diundang untuk menghadiri Inter Asia Relations Conference di New Delhi, India, pada 23 Maret – 2 April 1947. Hubungan antara Indonesia-India makin erat saat Indonesia membantu India yang sedang dilanda bencana kelaparan dengan mengirim beras yang kemudian dibalas oleh India dengan mengirimkan truk, jib, suku cadang, pakaian, serta obat-obatan.

India juga mendukung Indonesia saat mengemukakan pendapat di sidang PBB dan menolak pendapat Belgia yang mengusulkan Kalimantan dan Indonesia Timur juga diberi kesempatan yang sama.

  1. Indonesia-Australia

Bentuk support Australia yang pertama adalah dengan melakukan pemboikotan buruh pelabuhan atas kapal-kapal yang mengangkut senjata militer Belanda. Pemboikotan tersebut ditunjukkan dengan edaran di dermaga Sydney pada 24 September 1945.

Dukungan kedua yang dilakukan oleh Australia adalah berupaya membawa masalah Indonesia ke dalam Sidang DK-PBB. Bahkan perwakilan Australia di sidang PBB dengan sangat gigih meyakinkan DK-PBB agar Indonesia diberi panggung untuk menyampaikan pendapatnya dan memperkenalkan diri karena pada saat itu DK-PBB yang belum mengakui Indonesia sebagai negara yang sah.

  1. Indonesia-Amerika Serikat

Indonesia melakukan kontak dengan AS pada April 1947 dengan datangnya Soetan Sjahsam di New York sebagai komisioner perdagangan Indonesia. Amerika Serikat menunjukkan dukungannya dari kebijakan yang dibuatnya selama DK-PBB maupun hubungan dengan Belanda. Amerika Serikat banyak berperan dalam Komisi Tiga Negara (KTN) dan juga Konferensi Meja Bundar.

  1. Indonesia-Uni Soviet

Peran Uni Soviet dalam mendukung Indonesia sama pentingnya seperti Amerika Serikat dan India, namun dukungan tersebut sempat melemah dan pada forum DK-PBB Uni Soviet menyatakan abstain dari resolusi DK-PBB. Meskipun demikian, Uni Soviet akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia sebulan setelah penyerahan kedaulatan di bawah Hatta.

Selain kontak bilateral dengan negara lain untuk mendapatkan pengakuan sebagai negara yang merdeka, Indonesia juga melakukan strategi lain untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia, yakni dengan perundingan Indonesia-Belanda meliputi:

  1. Perundingan Hoge Veluwe

Perundingan ini berlangsung cukup lama bahkan terjadi hingga dua babak diskusi. Beberapa persoalan yang terus-menerus dibahas selama perundingan Hoge Veluwe adalah:

  • Permasalahan substansi apakah kesepakatan yang ada akan berbentuk perjanjian atau protokol.
  • Permasalahan mengenai pengertian Persemakmuran (Geemenebest), negara merdeka (Vrij Staat), dan negara yang merdeka (Vrije Staat).
  • Pengertian bentuk struktur negara federasi.
  • Mengenai batas wilayah kekuasaan de facto Republik Indonesia, terutama masalah Pulau Sumatra.
  1. Perundingan Linggarjati

Meski dalam perundingan sebelumnya tidak tercapai kesepakatan, namun kedua belah pihak Indonesia dan Belanda masih berusaha untuk kembali berunding, salah satunya dengan perundingan Linggarjati ini. Beberapa hal yang dibahas dalam perundingan ini adalah terkait gencatan senjata dan juga kekuasaan wilayah.

Baca juga:

Banyaknya pertentangan yang rumit dan pro-kontra membuat perjanjian Linggarjati memakan waktu yang lama untuk ditandatangani dari November 1946 hingga Maret 1947. Namun, adanya perundingan Linggarjati ini membuka pengakuan dunia internasional, khususnya Inggris dan Amerika Serikat dan disusul negara-negara Timur Tengah terhadap kedaulatan Indonesia.

  1. Perundingan Renville

Beberapa kesepakatan yang dicapai dalam perundingan Renville:

  • Segera dikeluarkan perintah gencatan senjata di sepanjang “Garis van Mook”.
  • Penghentian tembak-menembak segera diikuti dengan perjanjian peletakan senjata dan pembentukan daerah-daerah kosong militer (demiliterized zones).
  • RI mengakui daerah-daerah yang diduduki Belanda pada Agresi Militer I Belanda menjadi daerah Belanda.

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari paparan di atas adalah meski sudah memproklamasikan kemerdekaan, namun perjuangan bangsa Indonesia masih sangat panjang, salah satunya untuk mendapatkan pengakuan dari dunia internasional. Dengan itu Indonesia menggunakan dua strategi, yakni kontak bilateral secara intens dengan negara lain dan juga perundingan Indonesia-Belanda.

Perjuangan tersebut tentunya tidak lepas dari perjuangan Bung Karno dan rekan seperjuangannya. Di sini saya melihat upaya mereka semua dalam memperjuangan Indonesia di dunia internasional dengan upaya-upaya yang sangat cerdik.

Referensi

Haryanto, A., & Pasha, I. (2016). Diplomasi Indonesia: realitas dan prospek. Pustaka Ilmu.

    Afrina Kamaliyah
    Latest posts by Afrina Kamaliyah (see all)