Mendaki Gunung; Kebutuhan atau Sekadar Trend?

Mendaki Gunung; Kebutuhan atau Sekadar Trend
©Thinkstock

Trend mendaki gunung menjadi sesuatu paling diminati pemuda, khususnya mahasiswa.

Indonesia merupakan negara dengan anugerah alam yang luar biasa indahnya. Ia bagaikan surga kecil di bumi khatulistiwa. Secercah surga kecil itu membentang dari Sabang di Aceh sampai Marauke di Papua; dari Miangas di Sulawesi Utara sampai Rote di Nusa Tenggara Timur.

Secara geografis, Indonesia atau Nusantara terapit dua benua dan dua samudra. Negara maritim sekaligus kepulauan ini juga jadi jalur cincin api dunia (the ring of fire) yang menjadikannya punya banyak gunung berapi aktif ataupun yang tidak.

Deretan pegunungan ini menyajikan pemandangan yang luar biasa indahnya. Banyak pencinta alam, baik dalam negeri maupun luar negeri, rela menghabiskan waktunya hanya untuk menikmati indahnya pemandangan di gunung.

Trend mendaki gunung akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang paling diminati oleh para pemuda, khususnya mahasiswa. Anggapan bahwa gunung itu penuh misteri atau berbahaya, hampir sudah tidak mereka hiraukan lagi. Bahkan, banyak yang menganggap bahwa gunung itu rumah kedua atau tempat untuk bermain-main.

Sejak berhasilnya Edmund Hillary, pendaki asal New Zealand, dan seorang pemandu asal Nepal bernama Tenzing Norgay yang menjadi orang pertama yang berhasil menjejakkan kakinya di puncak tertinggi dunia, yaitu Everest pada 29 Mei 1953, menjadikan kegiatan mendaki gunung sebagai sesuatu yang baru di kalangan pegiat alam untuk berlomba-lomba menaklukan puncak-puncak tertinggi di seluruh dunia.

Hal itu terbukti dengan adanya pendaki asal Indonesia pertama bernama Serka Asmujiono, seorang anggota Kopassus yang berhasil mencapai puncak Everest pada tahun 1997.

Sebenarnya, organisasi-organisasi pencinta alam sejak dulu sudah melakukan pendakian gunung di Indonesia. Para pegiat pencinta alam, seperti Mapala, menggunakan moment pendakian untuk mengasah kemampuan anggotanya, seperti meningkatkan kekuatan fisik, melatih survival ability, menguatkan kerja sama tim, dan untuk lebih mencintai tanah air serta mensyukuri maha karya Sang Pecipta.

Ada beberapa faktor yang mewarnai mengapa kegiatan mendaki gunung menjadi populer di kalangan pemuda. Faktor film, misalnya.

Baca juga:

Keluarnya film bertemakan pendakian, seperti Vertical Limit, Everest, Romeo Rinjani, dan yang paling terkenal adalah film 5 CM yang rilis untuk mewarnai dunia perfilman di Indonesia. Tak bisa kita mungkiri, sejak munculnya film-film bertemakan pendakian gunung, kegiatan semacam ini menjadi satu hal yang dianggap tabuh menjadi gaya hidup pemuda zaman sekarang.

Sedangkan faktor kedua adalah pengaruh media sosial. Media sosial adalah sarana informasi utama di zaman sekarang. Dan tidak dapat kita mungkiri bahwa media sosial sangat berpengaruh bagi para pemuda untuk mencari informasi atau hanya sekadar mencari hiburan. Maka jangan heran jika akhir-akhir ini kegiatan mendaki gunung sudah banyak orang lakukan, meskipun belum berpengalaman atau bisa kita katakan sebagai pendaki newbie.

Sebagian besar para pendaki tersebut hanya mendaki dengan tujuan pamer atau untuk memenuhi rasa ingin sharing di media sosial. Namun tidak semua seperti itu. Ada juga pendaki yang benar-benar pergi mendaki demi menenangkan pikiran atau dengan alasan lainnya.

Jika kita pandang dari segi ekonomi, munculnya trend pendakian gunung membawa rezeki bagi banyak orang. Contohnya adalah jasa sewa alat-alat outdoor. Akibat adanya trend mendaki ini, tentu saja banyak sekali permintaan untuk alat-alat outdoor bagi mereka yang memang tidak memiliki alat-alat tersebut.

Oleh karena itu, menjamurlah tempat-tempat yang menyewakan alat-alat outdoor untuk mendaki gunung. Syaratnya cukup mudah. Pelanggan hanya perlu menjaminkan kartu identitasnya (bisa berupa kartu tanda mahasiswa atau lainnya) sebagai jaminan penyewaan. Biayanya pun cukup terbilang murah dan masih terjangkau untuk kalangan pemuda, khususnya mahasiswa.

Bukan hanya itu, kian banyaknya minat untuk mendaki gunung juga dimanfaatkan warga di lereng-lereng gunung atau basecamp untuk mencari tambahan penghasilan. Contohnya adalah sebagai penyedia jasa porter, tukang parkir, menjual pernak-pernik cendera mata, atau hanya sekadar menjual makanan untuk para pendaki.

Jika ada dampak positif, tentu juga ada dampak negatifnya. Dampak negatif yang paling bisa dirasakan adalah banyaknya tumpukan sampah di sepanjang jalur pendakian maupun di puncak gunung itu sendiri. Banyak pendaki yang tidak menaati peraturan yang berlaku, seperti imbauan untuk “bawa turun sampahmu!”

Hal seperti itu sudah sangat tegas ditegakkan di setiap pendakian gunung. Namun, tetap saja sampah yang berserakan masih saja bisa kita temui di setiap jalur pendakian gunung.

Halaman selanjutnya >>>