Mendorong Pertumbuhan Industri Film

Mendorong Pertumbuhan Industri Film
©Global Union

Nalar Warga – Fokus pengembangan industri film dari sisi supply adalah meningkatkan kualitas film, bukan jumlah film. Ini beberapa hal yang perlu dilakukan.

1. Script Development & Writer’s Room

Masa inkubasi script perlu lebih panjang untuk mencapai kualitas yang lebih baik. Pengembangan writer’s room sangat dibutuhkan. Penulis tidak bekerja sendiri dan berada dalam lingkungan kreatif yang kondusif.

Perusahaan seperti Visinema, Base Entertainment, dan Paragon Pictures menjadikan Writer’s Room bagian dari pipeline produksi film. Penonton tidak mengeluh jika film terlambat rilis, tapi mereka mengeluh jika kualitas film jelek.

Development sangat-sangat penting memastikan kualitas script terbaik sebelum diproduksi. Rata-rata pengembangan script orisinal di Paragon Pictures perlu 7 draft selama 10 sampai dengan 12 bulan.

Investasi penulisan script adalah bagian paling murah dengan risiko paling rendah di dalam pipeline produksi film. Production house perlu memiliki beberapa aset script yang siap produksi meskipun belum ditentukan jadwal produksinya.

2. Technical Knowledge & Capacity Building

Bisa dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, international co-production. Cara elegan untuk membuka akses pasar internasional. Film Backstage yang dirilis Paragon Pictures tanggal 30 adalah co-production dengan Endeavor dan Astro Malaysia sehingga juga akan didistribusikan secara internasional.

Kedua, membawa dan melibatkan talenta lokal ke dalam produksi internasional. Sutradara dan aktor/aktris Indonesia Iko Uwais, Timo Tjahjanto, dan Mauly Surya sudah masuk pasar internasional. Ini akan membuka jendela bagi talenta Indonesia lainnya.

Ketiga, insentif produksi internasional di Indonesia melalui skema tax rebate sudah dilakukan oleh Korea, Kanada, dan Australia. Benefit yang kita dapatkan adalah transfer knowledge & capacity dalam waktu singkat. Ini tugas pemerintah kota, provinsi atau negara.

3. Investasi dan CSR

Film komersial bisa mengundang investor, akan tetapi film arthouse lebih cocok mencari dana CSR dan sponsorship.

Untuk film komersial, produksi film sangat berisiko, sehingga kuncinya adalah transparansi bujet. Jangan mengambil untung dari sisi produksi terhadap investor, tetapi berbagi untuk dengan investor setelah modal dikembalikan.

Don’t make money from the investor, but make money with the investor.

Tanpa transparansi industri, akan sulit bagi investor institusional punya justifikasi masuk ke industri film. Mereka ini yang memiliki dana dalam skala besar dan bisa memberikan dampak terhadap industri.

Untuk film arthouse dengan fokusnya award yang secara bisnis sulit kembali modal, lebih aman menggunakan model CSR agar tidak ada ekspektasi modal kembali. Objektif adalah publisitas dan prestise.

4. Marketing & Distribution

Perbedaan antara film studio dan production house adalah kemampuan untuk memasarkan dan mendistribusikan film.

Produser film sebaiknya fokus untuk menghasilkan kualitas film terbaik, baik untuk tujuan komersial maupun arthouse. Produser yang berganti-ganti topi antara produksi dan pemasaran akan kalah dengan mereka yang fokus. Kapabilitas pemasaran ini yang dibangun oleh film studio dengan fokus dan konsisten. Mereka merilis beberapa film dalam 1 tahun agar kereta tim pemasaran selalu terisi.

5. Pembajakan

Terlepas undang-undang HAKI sudah ada, penegakan hukum masih belum serius. Pembajakan dengan perkembangan streaming menjadi terlalu mudah.

Untuk menghapus penjualan DVD bajakan, mall yang mengizinkan penjualan akan didenda. Metode yang sama tinggal digunakan di kanal digital.

Untuk secara signifikan mengurangi pembajakan, Google/YouTube/FB/TikTok harus memberikan “red carpet” untuk take down pembajakan kurang dari 24 jam. Ini berlaku juga untuk e-commerce Indonesia seperti Tokopedia/Shopee/marketplace lain untuk melarang dan take down penjualan USB berisi konten.

Bisnis pembajakan ini digunakan untuk mempromosikan judi online. Keuntungan besar judi online mereka sisihkan membeli jaminan keamanan. Jika ada keluhan, Kementerian Kominfo hanya menutup 1 domain yang dikeluhkan, tidak mencari siapa pembajaknya. Tidak menuntaskan problem secara sistematis.

Pembajakan adalah pencurian atas hak penerimaan pajak negara. Kemenkeu RI, tagih pajak senilai ratusan miliar dari para pembajak. Silakan panggil Google Indonesia, YouTube, Meta, TikTok untuk minta info berapa iklan yang mereka bayar, dan tagih pajak pendapatan mereka.

6. Festival Film untuk Filmmaker

Festival film adalah ruang terbaik bagi pembentukan generasi filmmaker baru. Mereka berlatih berkarya, merilis film, dan mendapatkan feedback dari penonton.

Baca juga:

Festival film seperti Jakarta International Film Festival dan Jojga-NETPAC Asian Film Festival perlu dukungan pemerintah daerah mendanai festival film karena membawa turisme. Jika ada 10 ribu turis x spending 10 juta (hotel, tiket, makan), akan terjadi transaksi 100 miliar. Tinggal dihitung berapa pajak daerah yang didapatkan.

7. Hak Kekayaan Intelektual/Intellectual Property (IP)

IP ini memberikan familiarity kepada penonton untuk memiliki ekspektasi sebelum menonton. Dari semua film yang terjual lebih dari 2 juta tiket, mayoritas diangkat dari IP yang sudah ada (novel, remake, biopik, dan standup. Hanya Dua Garis Biru yang berasal dari gagasan orisinal.

IP juga bukan jaminan pasti akan membuahkan sukses. Saya turut serta dalam pendanaan beberapa film berbasis IP seperti Keluarga Cemara, Gundala, Aruna dan Lidahnya, Cinta Itu Buta (remake Kita-Kita film Filipina), dan film Bebas (remake Sunny film Korea) dengan box office bervariasi.

Perlu kombinasi IP lama dan baru untuk membuat konten bioskop tetap segar. IP baru bisa berasal dari lokal maupun internasional. Losmen Bu Broto adalah prequel dari sinetron Losmen dan film Backstage adalah IP baru ide dari Robert Ronny.

Saya menganalogikan IP Losmen Bu Broto sebagai musik jazz, punya kedalaman tetapi penontonnya lebih niche & mature. Film Backstage analoginya adalah musik pop, cerita tentang menggapai mimpi yang relate dengan penonton muda, pas dengan pengunjung bioskop saat ini.

Tugas marketing & distribution memastikan banyak pengunjung datang agar occupancy rate (OR) tinggi di bioskop. Jika OR rendah, kita sudah gagal dari sisi marketing memprediksi minat penonton dan menciptakan demand.

Melihat industri film dan konten memang perlu holistik. Kita perlu mendorong pertumbuhan industri, baik dari supply maupun demand, bukan salah satu.

*Andi Boediman

    Warganet