Meneladani Rasulullah demi Mewujudkan Kepemimpinan Futuristik

Meneladani Rasulullah demi Mewujudkan Kepemimpinan Futuristik
©Depositphotos

Dalam artikel pertama ini, saya akan membahas tentang kepemimpinan Rasulullah SAW pada zaman dahulu, sebagai teladan untuk mewujudkan kepemimpinan futuristik di masa depan.

Sebelum menuju ke inti dari pembahasan pada artikel ini, perlu kita ketahui dulu  apa itu pemimpin, kepemimpinan, futuristik, dan kepemimpinan futuristik.

Menurut Modern Dictionary of Sociology, pemimpin adalah seseorang yang memiliki peranan atau posisi dominan dan berpengaruh dalam kelompoknya. Sedangkan kepemimpinan merupakan pesona pribadi dalam rangka memengaruhi orang lain, baik perorangan maupun kelompok untuk mencapai tujuan (Saiful Falah, 2012: 17).

Selanjutnya yang dimaksud dengan futuristik adalah berbicara tentang masa depan. Jadi jika digabungkan kepemimpinan, kepemimpinan futuristik adalah upaya seorang pemimpin untuk mencapai tujuan masa depan. Masa depan untuk umat, bangsa, dan negara.

Berbicara soal kepemimpinan Islam sangat cermat dalam memilih pemimpin yang akan menjadi teladan bagi kelompok dalam membangun kepribadian muslim. Salah seorang yang sangat berpengaruh dalam kepemimpinan yaitu Nabi Muhammad SAW.

Kepemimpinan Rasulullah Saw pada zaman dulu, bagi kaum muslimin, sungguh memantik banyak perhatian setiap orang yang mengenalnya saat itu. Tampilan perilaku dan kesantunannya tercermin dalam sikap kesehariannya sebagai seorang pemimpin.

Nabi Muhammad SAW merupakan sosok pemimpin yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Rasulullah Muhammad SAW adalah figur pemimpin paling dihormati oleh banyak manusia. Kepemimpinan beliau sudah banyak diapresiasi dan diakui bahkan oleh para tokoh dan sarjana nonmuslim.

Membahas kepemimpinan Rasulullah yang hanya berisi kebaikan, kebaikan, dan kebaikan tentu ada beberapa sifat atau sikap yang patut diteruskan dan ditiru demi mencapai masa depan yang cerah. Ini empat sifat kepemimpinan Rasulullah yang menjadi kunci sukses beliau selama masa memimpin, yaitu:

Baca juga:
1. Siddiq (bersikap jujur)

Di negara ini, korupsi yang dilakukan pejabat sangatlah marak. Hampir KPK selalu menginformasikan adanya korupsi.

Dari sini makin jelas bahwa sifat jujur mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Jujur untuk menghargai orang lain, jujur untuk mengakui kesalahan dan kekurangan, serta jujur dalam menyampaikan fakta dan kebenaran.

2. Amanah (dapat dipercaya/trust)

Dengan memiliki sifat ini, Rasulullah mendapat gelar Al-Amin yang artinya orang yang dapat dipercaya.

Dalam surat an Nisa 58, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

3. Tabliq (mengomunikasikan pesan kebenaran)

Kepemimpinan Rasulullah ditopang oleh sikap transparansi, keterbukaan, dan selalu menyuarakan kebenaran apa pun risikonya.

Seorang pemimpin harus memiliki sifat tabligh ini. Selain berani menyuarakan kebenaran dan berani dinilai secara kritis oleh rakyat, pemimpin yang tabligh tidak akan bisa dibeli dengan kekuatan apa pun. Ia tegas dalam pendirian dan tegar dalam prinsip membela kebenaran.

4. Fathonah (intelek dan cerdas)

Fathanah yang artinya cerdas. Kecerdasan dan kemampuan menguasai persoalan sekaligus mengatasi masalah mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Rasulullah SAW dalam memberikan arahan, menentukan kebijakan, dan mengambil keputusan selalu mendasarkan pandangan beliau pada ilmu. Seorang pemimpin harus cerdas dan berilmu. Dari pemimpin yang cerdas dan berilmu akan lahir kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan rakyat. Bukan kebijakan yang merugikan dan menyengsarakan rakyat banyak.

Halaman selanjutnya >>>
    Muhammad Diaz Ibnu Syahputra
    Latest posts by Muhammad Diaz Ibnu Syahputra (see all)