Menelisik Akar Politik Uang

Menelisik Akar Politik Uang
©Jejak Jabar

Tulisan ini merupakan serangkaian hasil diskusi penulis dengan kawan-kawan. Meski tema politik uang sudah menjadi barang lama, bahkan mungkin sebagian orang anggap basi untuk membahasnya, tentu tidak ada salahnya jika kami pun ikut menyumbang pendapat tentang money politic.

“Politik adalah kegilaan banyak orang demi keuntungan sedikit orang,” kata Alexander Pope, penyair Inggris abad ke-18 yang cukup masyhur itu.

Sepintas, kalimat yang sang penyair lontarkan itu wajar dan malah begitulah realitas hari ini. Namun sebenarnya di situ pulalah letak persoalannya. Pope sebetulnya menawarkan suatu problem untuk manusia geluti. Dengan kata lain, kita sepatutnya menyadari dan mempersoalkan realitas yang Pope gambarkan itu.

Baru-baru ini telah terilis sebuah film dokumentasi dari berdiri tegaknya beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sulawesi. Film tersebut berjudul Sexy Killers.

Dalam film tersebut, fakta-fakta di balik dunia politik hari ini tersuguhkan. Betapa para politisi itu sebenarnya adalah para pembunuh atau killers. Mereka pembunuh secara ekonomis maupun fisioligis. Akan tetapi, mereka tetap menarik bagi publik (baca: sexy) sebab rakyat menggemari mereka.

Kembali pada pokok bahasan utama, yakni politik uang. Hampa rasanya apabila perhelatan politik negeri ini terlaksana tanpa hadirnya triliunan uang yang beredar beberapa hari sebelum yang puncaknya pada hari pencoblosan.

Dewasa ini, politik uang yang dalam bahasa Inggris money politic sudah menjadi rahasia umum. Umum yang mengetahui, tapi tetap seolah bagaikan rahasia. Pemilih golput (golongan putih) pun banyak karena tidak mendapat bagian dari serangan fajar. Dan entah kenapa politik uang hanya sebagai serangan fajar belaka. Padahal politik uang terjadi juga pada malam hari, siang, dan sore hari.

Politik uang dapat kita sejajarkan dengan politik identitas. Keduanya sama-sama berbahaya bagi kehidupan manusia dan demokrasi itu sendiri.

Politik uang sudah berlandas pada ketidakadilan, sebab ia hanya milik orang-orang bermodal. Dan pada tingkat yang lebih tinggi menjadikan rakyat yang sebenarnya ialah pemilik pemerintahan sesungguhnya menjadi barang dagangan yang mereka perjualbelikan.

Sementara itu, politik identitas bermain dalam arena ‘rasa kesamaan’ antarmanusia yang berlebih-lebihan. Rasa kesamaan identitas sangat berbahaya lantaran memicu sentimen terhadap identitas-identitas yang lain atau yang berbeda.

Baca juga:

Kita sering mendengar orang berkata, jangan pilih orang dari luar daerah kita sendiri, orang yang berbeda ideologi dengan kita, orang yang berbeda agama dengan kita, dan seterusnya. Akan tetapi, pada kesimpulannya, keduanya merupakan modal. Yang pertama modal uang, yang kedua modal identitas beserta solidaritas.

Sejauh ini, ada empat asumsi yang kami simpulkan sebagai faktor pendorong tumbuh suburnya politik uang. Di antaranya: pelarangan politik uang (1), rendahnya kesejahteraan masyarakat (2), hilangnya kepercayaan rakyat kepada politisi (3), dan terakhir, penulis akan menunjukkan adanya unsur kebudayaan yang membenarkan praktik politik uang (4).

1) Dugaan pertama adalah penerapan pelarangan politik uang. Timbul asumsi bahwa pelarangan politik uang itu sendirilah yang menjadi pemicu terjadinya politik uang. Dugaan ini berdasarkan kepercayaan bahwa segala sesuatu yang terlarang justru akan makin menggoda untuk terlanggar.

Kita tentu ingat kisah manusia pertama yang umat Islam yakini, nabi Adam a.s yang mendapat larangan mendekati pohon khuldi apalagi mengonsumsi buahnya. Walaupun demikian, justru larangan itulah yang makin menggoda nabi bersama istrinya, Hawa, untuk mendekatinya. Singkatnya, melanggar larangan itu.

Selanjutnya, atas dasar kecurigaan ini, apabila politik uang jadi legal, politik uang akan hilang dengan sendirinya secara berangsur-angsur. Sebab, jika money politic atau politik uang legal, maka semua calon niscaya waswas untuk melakukan serangan fajar karena mereka bakal saling mewaspadai kekuatan finansial masing-masing.

Akan tetapi, kenyataan sekarang politik uang itu terlarang. Dan pelarangan tersebut bernada tegas dengan kehadiran BAWASLU (Badan Pengawas Pemilu).

Namun demikian, pertanyaan kritis atas dugaan ini ialah apakah politik uang marak terjadi akibat pelarangan terhadapnya atau justru pelarangan itulah yang kurang greget atau terlalu lemah sehingga mengakibatkan politik uang jadi marak?

2) Penulis masih yakin dengan teori lama, yaitu rendahnya kesejahteraan masyarakat. Hal ini merupakan biang dari kapitalisme.

Uang jadi primadona dalam sistem ekonomi kapitalisme lantaran sistem ini melahirkan kesenjangan yang makin tidak adil di masyarakat. Akibatnya, kaum miskin otomatis mengharap serangan fajar. Jika saja tingkat kesejahteraan masyarakat tinggi, apakah mungkin mereka masih menginginkan serangan fajar?

Halaman selanjutnya >>>