Menelisik Keberadaan Pemuda, Kini dan Dulu

Asupan pengetahuan yang minim itulah yang menyebabkan kesadaran di kalangan pemuda juga minim. Karena kehadiran mereka telah menjadi generasi individualistik yang acuh tak acuh terhadap segala persolan yang terjadi.

Dugem menjadi pilihan keren daripada melibatkan diri dan sibuk dengan persoalan organisasi. Sehingga persaingan antarpemuda terjadi sejauh mana ia mengikuti gaya trendy yang sedang berkembang, bukan bagaimana memperdalam intelektualitas dan turut serta terlibat dalam agenda perubahan.

Tentu saja ini menjadi permasalahan dan tantangan akan keberlangsungan eksistensi pemuda. Jika melihat pada kedudukan mulia, pemuda adalah generasi penerus bangsa. Setiap agenda perubahan selalu menjadi panggilan jiwanya.

Oleh karenanya, pemuda wajib untuk memiliki kesadaran kolektivis bukan individualis. Kita berharap pemuda hari ini memiliki keberanian dan mampu menjadi solusi dari segala persoalan yang menimpa negeri.

Menumbuhkan kesadaran berorganisasi dan budaya membaca adalah cara untuk mengembalikan pemuda sebagaimana identitas yang tersematkan. Dengan demikian, kehadiran teknologi justru menjadi lampu terang.

Kenapa pemuda itu mesti demikian? Sebagaimana Soekarno katakan, ”Kalian pemuda, kalau tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya berternak diri.”

*Abdul Rahman Wahid, aktif di Lembaga MOEDA Institute Yogyakarta

Baca juga: