Menelusuri Praktik Kekerasan Simbolik di Sekolah

Menelusuri Praktik Kekerasan Simbolik di Sekolah
©Kompasiana

Terlalu banyak hal yang terjadi dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, dalam beberapa dekade terakhir ini. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa dunia pendidikan tidak terlepas dari kekerasan simbolik.

Menyoal tentang kekerasan, termasuk kekerasan simbolik, yang terjadi di sekolah bukanlah sesuatu hal yang tabu untuk kita perbincangkan. Adapun tindakan kekerasan selalu mewarnai segala sendi kehidupan manusia, baik itu dalam segi sosial, politik, budaya, dan pendidikan.

Jika kita perhatikan jejak-jejak sejarah kehidupan manusia, kita akan mendapati kenyataan bahwa kekerasan (dalam bentuk apa pun) telah mendampingi manusia sejak zaman dahulu. Dan seiring dengan perkembangan zaman sekarang, kekerasan menjadi makin akrab dengan kehidupan.

Permasalahan dan motifnya pun beragam sehingga kekerasan itu terjadi. Bahkan mungkin sulit kita cerna secara akal sehat dan menjadi racun untuk sedikit demi sedikit membunuh hakikat kemanusiaan.

Selanjutnya, tersadari atau tidak, kehidupan manusia tidak terlepas dengan hal-hal yang kontradiktif, dan kekerasan termasuk di dalamnya. Kompleksitas motif dari kekerasan tersebut dengan cepat merasuk memenuhi segala sendi kehidupan manusia.

Bahkan salah satu aspek untuk mencetak dan menjadikan manusia dengan sesungguhnya, yakni pendidikan, telah sangat erat dengan perilaku ini. Praktik kekerasan dalam dunia pendidikan ibarat fenomena gunung es yang jika longsor akan sangat mematikan.

Bukan rahasia umum kalau memang dalam dunia pendidikan selalu terjadi tindakan kekerasan, bahkan menjadi sebuah tradisi. Sebagai contoh adanya tawuran, bullying yang dapat menyebabkan tekanan psikologis pada anak, kekerasan emosional, kekerasan seksual yang berujung pada kematian pun erat dengan dunia pendidikan kita saat ini.

Sungguh memprihatinkan jika kita melihat fenomena yang terjadi di lembaga pendidikan kita. Sekolah merupakan tempat yang nyaman untuk anak-anak dalam mencari ilmu sekarang menjadi hal yang menakutkan. Kekerasan terus menghantui para peserta didik.

Baca juga:

Kita ketahui bahwa desain pendidikan pada hakikatnya untuk membentuk manusia yang berbudi luhur. Berdasarkan UU Sisdiknas No. 20/2003 Bab 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Menurut Dukheim, pendidikan (sekolah) adalah miniatur masyarakat sekarang telah terkontaminasi dengan tindakan kekerasan fisik maupun kekerasan nonfisik.

Kekerasan fisik tentu saja mudah kita kenali, tetapi berbeda halnya dengan kekerasan nonfisik (kekerasan simbolik) yang mana ini laten terjadi. Pelakunya sendiri tidak merasa menjadi korban dan orang lain pun tidak mengenali. Hal ini kita sebut dengan kekerasan simbolik.

Kekerasan simbolik merupakan sebuah konsep yang Pierre Bourdieu, seorang sosiolog berasal dari Prancis, kemukakan. Hal ini menjelaskan bagaimana mekanisme yang digunakan kelompok kelas atas yang mendominasi struktur sosial masyarakat untuk memaksakan ideologi, budaya, kebiasaan atau gaya hidupnya kepada kelompok kelas bawah yang didominasinya.

Selanjutnya, menelusuri praktik kekerasan simbolik yang terjadi di sekolah berlangsung antara relasi guru dan anak (peserta didik). Guru, sadar atau tidak, merupakan salah satu pelaku kekerasan simbolik di sekolah.

Sebagai contoh kekerasan simbolik yang terjadi, yaitu anak dihukum karena tidak mengerjakan PR atau mengobrol di kelas. Hukuman tersebut menulis ‘’saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi’’ di kertas sebanyak satu buku dan harus ditanda tangani oleh orangtua.

Selanjutnya, adanya kewajiban mengenakan pakaian seragam sekolah, batik, pramuka, olahraga dan pakaian muslim di mana setiap harinya motif dari seragam sekolah berganti-ganti.

Enam hari sekolah, enam macam model pakaian seragam sekolah yang harus diikuti oleh anak. Hal ini secara tidak langsung memberikan beban kepada pihak orang tua karena tidak semua orangtua mampu untuk mengikuti peraturan seragam dari pihak sekolah.

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by Rina Oktafia Putri (see all)