Menemui Mahasiswa Jogja Asal Polman, Hamka Ingatkan Pesan Assitaliang Allamungan Batu di Luyo

Bertemu Mahasiswa Jogja Asal Polman, Hamka Ingatkan Pesan Assitaliang Allamungan Batu di Luyo
Hamka bersama mahasiswa Jogja asal Luyo, Polman di Asrama Todilaling, Yogyakarta (Rabu, 1/8)

Nalar PolitikBagi anak-anak Mandar, khususnya asal Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Assitaliang (Perjanjian) Allamungan Batu di Luyo merupakan inspirasi utama yang tidak boleh diabaikan. Ia, yang kini jadi salah satu situs sejarah, memuat pesan-pesan mulia nan luhur dan bisa dijadikan sebagai sumber pengabdian bagi dan untuk daerah.

Hal tersebut sebagaimana diterangkan Hammanur Kanu alias Hamka. Kala bertemu mahasiswa Jogja asal Polman, sejumlah pesan-pesan Allamungan Batu di Luyo Hamka paparkan. Sebab, menurutnya, jiwa anak Mandar sangat termaktub dalam isi Assitaliang tersebut.

“Allawungan Batu di Luyo bukanlah sekadar perjanjian, melainkan inspirasi paling utama bagi kita, anak-anak Mandar. Terutama yang tengah menempuh pendidikan di negeri rantau, pesan-pesannya harus dipegang betul, menjadikannya sebagai bekal untuk pengabdian kita ke depan,” ujar Hamka.

Hamka, yang juga merupakan Caleg PAN untuk DPRD Polman Dapil III ini, sangat menghendaki jika mahasiswa tidak hanya memahami pesan-pesan Assitaliang, tetapi juga menjelmakannya dalam laku keseharian.

“Misalnya pesan tandisappa tandiatonang, maallonang mesa, malate samballa, siluangan sambu-sambu, sirondong langi-langi. Pesan ini menghendaki sebuah persatuan. Bahwa kita harus bersatu, meski sejatinya berbeda, dalam kebersamaan,” terang Hamka.

Tassipelei di panra, tassipelei di apiangan. Susah senang dipikul bersama,” sambungnya.

Hal lainnya yang juga Hamka sampaikan di hadapan mahasiswa rantau adalah perkara tujuan mengejar pendidikan. Kalau orang ingin sukses, kata Hamka, maka setidaknya ada tiga hal yang mesti diingat betul.

“Ingat orangtuamu di rumah, ingat kesusahan-kesusahan mereka dalam upaya menyekolahkan kalian, dan ingat pula latar belakang dari mana kalian berasal.”

Hamka juga tak lupa mengingatkan bahwa sebagai Kota Pendidikan, Yogyakarta adalah gudang ilmu pengetahuan. Meski begitu, Yogyakarta juga satu paket dengan keburukan-keburukannya.

“Di sini, di Jogja, kita tidak perlu susah-susah cari guru kalau hanya untuk sekadar belajar. Ada banyak guru yang bisa kita temui. Tapi jangan lupa, ada banyak pula hal-hal negatif yang dikandungnya. Mau A atau B, itu terserah kalian. Yang menentukan adalah kalian,” ujar Hamka mengingatkan.

“Tapi, apa pun itu, saya pribadi mengharap kalian semua bisa kembali ke tanah Mandar jika waktunya tiba. Belajarlah di sini, cari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Lalu, jika masa itu tiba, tumpahkan segala yang kalian ketahui demi kemajuan daerah kita bersama,” pungkasnya.

Respons Mahasiswa

Hal senada juga ditegaskan oleh salah seorang mahasiswa S2 UGM, Kurnia Rasyad. Menurutnya, menjadi bodoh di Yogyakarta sekarang itu adalah pilihan.

“Benar apa yang disebutkan oleh Kanda Hamka. Di Yogyakarta, memang ada banyak sumber pengetahuan yang bisa kita akses. Semua itu tergantung kita. Maka menjadi bodoh bukan lagi takdir, tapi pilihan. Begitu sebaliknya,” kata mahasiswa Jurusan American Study ini.

Respons lainnya datang dari Mulia Fitri, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia mencoba juga menerjemahkan makna Allamungan Batu di Luyo sebagai seruan untuk berkorban.

Dalam konteks kehidupan mahasiswa, terangnya, pesan itu memuat bahwa menjadi mahasiswa butuh perjuangan. Segala derita yang menyelimutinya harus dinikmati sebagai ujian.

“Bukan mahasiswa namanya kalau tidak pernah merasa kesusahan di tanah rantau. Toh penderitaan adalah berkah, dan itu harus kita nikmati sebagai ujian awal perjuangan ke depan,” tandas Mulia.

_____________

Baca juga: