Menerapkan Anti-Radikalisme dalam Kepemimpinan

Menerapkan Anti-Radikalisme dalam Kepemimpinan
©Okezone

Di era saat ini, paham tentang radikalisme masih terus memuncak. Bahkan karena adanya ini sering terjadi konflik di beberapa kalangan.

Isu dan juga perdebatan mengenai radikalisme memang tidak akan pernah usai. Radikalisme sendiri diartikan sebagai sebuah paham yang sangat memengaruhi kondisi negara, terutama pada bidang sosial-politik dengan cara kekerasan.

Dalam beberapa sejarah, umat manusia sering digambarkan dengan beberapa sikap radikalisme. Radikalisme sendiri sering muncul dalam gerakan maupun pemikiran. Radikalisme dalam gerakan bisa dicontohkan dengan adanya aksi ekstrem dengan tujuan adanya perubahan. Seperti yang bisa dilihat, dalam bidang politik yaitu gerakan revolusi, demonstrasi, dan isu-isu berbau anarkis lainnya.

Sedangkan radikalisme dalam pemikiran bisa dicontohkan dengan beberapa pemikiran yang berlandaskan nilai, ide, serta pandangan yang menganggap bahwa dirinya paling benar. Dalam konteks ini, dapat disimpulkan bahwa kaum radikal tidak dapat menerima pendapat lain sebagai tambahan untuk pengetahuannya.

Radikalisme sering terjadi di beberapa daerah, bukan hanya di Indonesia saja. Peradaban sangat berpengaruh penuh atas adanya radikalisme ini. Karena pada kenyataannya, identitas peradaban selalu menjadi aspek penting dalam pemegang kekuasaan dunia.

Radikalisme di Indonesia juga banyak terjadi. Misalnya pada zaman Orde Baru muncul beberapa peristiwa yang sampai dikaitkan dengan keislaman, seperti peristiwa teror warman, komando jihad, pembijakan woyla. Padahal peristiwa-peristiwa ini hanya acuan utama untuk melemahkan kekuatan politik umat.

Pada tahun 2021 terjadi peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan serangan terhadap Mabes Polri oleh perempuan berinisial ZA. Kedua peristiwa ini merupakan aksi terorisme yang mengacu pada sikap radikalisme, di mana para masyarakat sampai cemas karena adanya aksi ini.

Lalu, kenapa radikalisme masih terjadi?

Keinginan supaya aksi radikalisme ini memang terus ada. Namun, Indonesia memang sudah merekam aksi radikalisme ini sejak lama. Makanya, tidak mengherankan jika aksi radikalisme di Indonesia makin menambah.

Biasanya sikap radikalisme muncul karena adanya kelemahan dalam umat islam itu sendiri, misalnya lemah dalam akidah, ataupun perilaku. Terlebih lagi di masa sekarang banyak sekelompok berkepentingan yang memanfaatkan aksi radikalisme.

Alasan selanjutnya yaitu karena isu penting yang terjadi kebanyakan berkaitan dengan kehidupan publik. Beberapa rakyat Indonesia kerap dihadirkan dengan adanya konflik antara muslim dan non-muslim. Alasan lain yang tak kalah penting ialah adanya islamophobia.

Kemudian, bagaimana cara mencegah atau paling tidak mengurangi aksi radikalisme?

Menurut H. Jamzuri, Kementerian Agama telah menerapkan beberapa upaya untuk mencegah atau mengurangi radikalisme, di antaranya:

  1. Menyelenggarakan kegiatan yang berlandaskan Anti-Radikalisme
  2. Memberikan layanan ajaran agama yang memiliki sikap santun, saling menghormati, saling dihargai, tidak semena-mena
  3. Menanamkan sikap Rahmatan Lil’alamin
  4. Memberikan pengajaran secara ketat dan tegas kepada Siswa, Santri, maupun Mahasiswa
  5. Menjaga sekaligus menjalin hubungan yang baik dengan Lembaga/Ormas Keagamaan Islam, juga dengan agama lainnya, seperti agama Hindu, Buddha, ataupun Konghucu untuk selalu menerapkan sikap anti-radikalisme
Baca juga:
    Latest posts by Devia Sindi Hidayah Putri (see all)