Mengapa Kita Tertarik pada Kasus Pembunuhan?

Mengapa Kita Tertarik pada Kasus Pembunuhan?
©Wikimedia Commons

Keterpesonaan kita pada kasus pembunuhan setua peradaban manusia. Dalam kitab suci agama-agama abrahamistik, terdapat kisah Kain membunuh adiknya Habel, Abraham “mengorbankan” Isak putra tunggalnya, dan Yesus yang mati disalibkan.

Kisah terakhir dijadikan sebagai ruang pertunjukan di mana bangsa Yahudi ingin memastikan hukum taurat dan legitimasi Romawi masih bekerja. Namun lebih dari itu, narasi-narasi tersebut mau menunjukkan betapa pentingnya elemen peristiwa pembunuhan dalam kehidupan manusia, yang selanjutnya ditetapkan sebagai standar moralitas.

Namun itu bukan hal yang baru. Bagian paling penting dari berbagai kisah tersebut yakni bagaimana respons kita terhadapnya. Disebut demikian karena cara kita merespons peristiwa pembunuhan menentukan bukan hanya karakter individual kita sebagai subjek, melainkan karakteristik komunitas masyarakat tempat di mana kita berada, bahkan karakter peradaban di mana kita hidup dan bertumbuh.

Eksemplar yang relevan mengenai hal di atas dapat kita temukan pada bangunan bersejarah yang umumnya dikenal dengan nama Colosseum di Roma yang dibangun pada tahun 70 M oleh Kaisar Vespasianus. Di tempat itulah berlangsung eksekusi para narapidana yang bertarung melawan hewan liar. Para gladiator ini bukanlah warga Romawi melainkan budak yang tidak memiliki kewarganegaraan.

Persis sejak saat itulah peristiwa baku bunuh menjelma destinasi wisata; dan hari ini kita memasukkan bangunan itu ke dalam apa yang kita sebut sebagai Keajaiban Dunia.

Overview Kasus Pembunuhan di Dunia

Dalam 10 tahun terakhir (2011-2020), kasus pembunuhan di Indonesia mengalami fluktuasi dengan puncak kasus terbanyak terjadi pada tahun 2015 sebanyak 1.491.

Meskipun tren kasus pembunuhan mengalami penurunan, motif dan karakteristiknya makin signifikan jika dibandingkan dengan jumlah populasi di mana kasus itu terjadi. Hal itu dapat kita amati terutama dalam laporan terkait kasus kriminalitas di Indonesia berdasarkan segmentasi provinsi.

Mengutip data dari Badan Pusat Statistik (2020), Kompas (14 Maret 2020) melaporkan bahwa provinsi dengan angka kriminalitas tertinggi adalah Sumatra Utara dengan sebanyak 39.990 kasus kriminal dan 68,70% di antaranya diselesaikan secara hukum.

Meskipun demikian, jika melihat risiko penduduk yang terkena kejahatan per 100 ribu penduduk, Papua Barat menjadi yang paling berisiko dengan 832 kejahatan per 100 ribu penduduk. Selanjutnya, Maluku dengan 3030 kasus per 100 ribu penduduk, Sulawesi Utara dengan 252 kasus per 100 ribu penduduk, dan Sumatra Utara dengan 231 kasus per 100 ribu penduduk.

Dalam konteks yang lebih luas, Benua Afrika dan Amerika masih menempati peringkat pertama dan kedua sebagai benua dengan kasus pembunuhan tertinggi secara global. Di Amerika misalnya, berdasarkan data dari Official FBI Statistics, terdapat sebanyak 21.570 kasus pembunuhan pada tahun 2020, meningkat dari tahun sebelumnya yakni 4.901 pada tahun 2019.

Data ini juga diperkuat melalui laporan dari United Nations of Office on Drugs and Crime (UNODC, 2019) yang melaporkan bahwa sebanyak 464.000 orang diperkirakan terbunuh dalam kejahatan internasional pada tahun 2017 dengan 90 persen pelakunya adalah laki-laki. Dari jumlah itu, 54% mati terbunuh melalui kontak senjata dengan Benua Amerika menjadi lokasi dengan kasus terbanyak (17,2%) diikuti Benua Afrika (13,0%).

Ada bagian penting dalam laporan itu, yakni bahwa sebanyak 34% pelaku pembunuhan justru dilakukan oleh orang terdekat korban, 24% merupakan anggota keluarga, dan 42% orang asing.

Beberapa Perspektif Lanjutan

Pertama, Industrialisasi Kasus Pembunuhan

Mencermati data-data di atas, muncul pertanyaan berikut: Mengapa kasus pembunuhan masih menjadi tema yang menarik untuk dipublikasikan dan dibahas hingga hari ini?

Bukan hanya dalam bentuk berita straight news, isu pembunuhan juga mendominasi industri perbukuan dan perfilman kita. Bahkan kritikus TV Jack Seale menjelaskan alasan utama keberhasilan film pembunuhan seram misalnya, dengan mengatakan, “Jika Anda menonton film dokumenter tentang kiminalitas atau pembunuhan secara lambat dan mengamati setiap detil kasus, itu tidak membosankan; itu justru menarik karena setiap perkembangan kecil disorot.”

Lebih lanjut ia menambahkan, “Masukkan beberapa trik mendongeng—akhiri setiap episode dengan penemuan yang lebih besar yang menggantung—maka Anda punya genre baru yang adiktif.” Dengan demikian, tidak mengherankan jika kasus pembunuhan dalam industri perfilman masih diminati hingga saat ini.

Bertolak dari perspektif di atas, artinya hasrat memainkan peran penting mengingat ia telah menjelma elemen paling signifikan yang membuat sistem kapitalisme makin legitim hari ini. Disebut demikian karena makin kita berupaya memenuhi hasrat itu, selalu muncul hasrat baru, begitu seterusnya.

Halaman selanjutnya >>>
Hans Hayon
Latest posts by Hans Hayon (see all)