Mengapa Negara Gagal; Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran, dan Kemiskinan

Mengapa Negara Gagal - Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran, dan Kemiskinan
Ilustrasi buku

Negara yang institusi politik-ekonominya bersifat inklusif, cenderung berpotensi untuk menjadi negara kaya. Negara yang institusi politik-ekonominya bersifat ekstraktif, cenderung tinggal menunggu waktu saja untuk terseret ke dalam jurang kemiskinan, instabilitas politik, dan mengarah menjadi negara gagal.

Belum lama ini, Kishore Mahbubani meluncurkan karyanya yang cukup inspiratif dan provokatif, The Great Convergence-Asia, The West and The Logic of One World (2013). Dia paparkan data dan argumentasi bahwa sekarang tengah berlangsung proses konvergensi antar-berbagai bangsa dan negara. Ini sebagai titik balik dari ketimpangan dan proses divergen yang tercabik-cabik oleh perang dunia.

Akselerasi di bidang pendidikan dan penyebaran teknologi modern telah memungkinkan berbagai bangsa saling mendekat, berbagi, dan kerja sama. Mereka menata dunia baru yang dimiliki dan dijaga bersama.

Pada tataran ide dan good will, apa yang dipaparkan Mahbubani pasti memperoleh dukungan. Namun, ketika melihat realitas, ketimpangan dan bahkan konflik antarbangsa masih saja terjadi di mana-mana.

Daron Acemoglu dan James Robins cukup artikulatif menyajikan gambaran pahit ini dalam Why Nations Fail – The Origins of Power, Prosperity, and Poverty (2012) yang diterjemahkan dengan judul Mengapa Negara Gagal – Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran, dan Kemiskinan.

Dalam era globalisasi ini, mengapa masih ada negara yang kaya dan negara yang miskin? Mengapa kesenjangan pendapatan dan sosial antara negara kaya dan negara miskin bisa sangat jauh berbeda? Sampai-sampai eksistensi negara miskin dibayangi ketakutan jangan sampai dikategorikan sebagai negara gagal (failed nations).

Sebagai contoh, lihat saja negara Korea. Walau mereka sama (baik dari segi budaya, suku, ras, dan etnik), situasi kehidupan antara Korea Utara dan Korea Selatan sangat jauh berbeda. Saat ini, Korea Utara termasuk ke dalam deretan negara paling miskin di dunia berdasarkan pendapatan per kapitanya. Warganya hidup melarat dan dicekam oleh rezim pemerintahan yang otoriter.

Sementara itu, warga Korea Selatan hidup makmur sejahtera dan dilindungi oleh pemerintah yang responsif serta mengayomi seluruh kebutuhan warganya. Pun bisa menjadi negara di benua Asia yang berhasil mencengangkan dunia dengan pertumbuhan ekonominya dalam satu dasawarsa ini.

Contoh lain, mari kita tengok ke benua Afrika. Bostwana kini dinilai sebagai salah satu negara Afrika yang berhasil mengembangkan perekonomiannya. Sementara negara-negara tetangganya seperti Zimbabwe, Kongo, dan Sierra Leone masih dirundung bencana kelaparan, peran saudara, pemberontakan, serta belitan kemiskinan yang tak pernah usai.

Tak hanya itu, kita tentu masih ingat dengan Uni Soviet yang pada dekade 1960-1970-an berhasil membuat negara-negara Barat ketar-ketir dengan kedigdayaannya. Uni Soviet bahkan sanggup bersaing dengan blok Barat dalam hal inovasi dan teknologi saat terjadi Perang Dingin.

Lihat juga: Demokrasi Membutuhkan Ekonomi yang Baik

Bahkan, waktu itu Soviet diramalkan bisa mengalahkan blok Barat. Tapi mengapa semua kejayaan gemilang itu mendadak runtuh saat memasuki dekade 90-an, sehingga membuat Soviet menjadi negara gagal yang tercerai-berai dan rakyatnya terjebak dalam belitan kemiskinan hingga sekarang?

Apakah yang menyebabkan kesenjangan antara negara miskin dan negara kaya begitu mengaga? Faktor budaya, letak geografis, atau perbedaan iklim? Ternyata tidak.

Menurut Acemoglu dan Robinson, semua faktor itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kesenjangan yang terjadi di negara kaya dan miskin. Dalam buku ini, keduanya memaparkan dengan cukup berani bahwa institusi politik-ekonomi suatu negaralah yang menjadi penentu.

Negara yang institusi politik-ekonominya bersifat inklusif, cenderung berpotensi untuk menjadi negara kaya. Sementara itu, negara yang institusi politik-ekonominya bersifat ekstraktif, cenderung tinggal menunggu waktu saja untuk terseret ke dalam jurang kemiskinan, instabilitas politik, dan mengarah menjadi negara gagal.

Tapi, benarkah sesederhana itu akar penyebabnya? Ternyata tidak.

Berdasarkan hasil penelitian mendalam selama 15 tahun, Acemoglu dan Robinson berupaya mengurai dan memaparkan semua kerumitan itu dengan mengumpulkan berbagai bukti sejarah. Mulai dari penyebab runtuhnya Kekaisaran Romawi, peradaban Maya yang perlahan hilang ditelan zaman, dan pudarnya kejayaan Venesia.

Juga, kolapsnya negara adidaya Uni Soviet, kolonisasi Amerika Latin oleh penjajah Spanyol yang membentuk berbagai pranata ekonomi yang menyengsarakan rakyatnya hingga kini, sampai ke tumbuh dan berkembangnya negara-negara kaya seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Afrika.

Berdasarkan pemaparan itu pula, mereka berupaya membangun teori baru untuk menjawab berbagai pertanyaan besar dalam hal politik ekonomi pada zaman sekarang. Misalnya saja:

  • Saat ini Cina berhasil menciptakan mesin pertumbuhan ekonomi yang otoriter. Akankah pertumbuhan ekonominya terus berlanjut dan berhasil mengalahkan kedigdayaan perekonomian negara Barat?
  • Akankah kejayaan Amerika Serikat memudar? Adakah kecenderungan bahwa suatu negara maju dapat terjebak dalam lingkaran setan, sekelompok kecil elite penguasa berupaya mati-matian mempertahankan kekuasaannya demi kepentingan sendiri?

Demikianlah, banyak temuan dan refleksi pemikiran yang cukup menarik untuk didiskusikan lebih lanjut dalam buku ini. Misalnya saja untuk menjawab pertanyaan: bagaimanakah cara yang paling efektif untuk mengentaskan kemiskinan yang diderita oleh miliaran orang di dunia, dan mengangkat derajat mereka untuk meraih kemakmuran?

Bisakah digunakan falsafah perekonomian negara-negara kaya di Barat? Atau melalui pembelajaran yang didapatkan oleh duo penulis, lewat terobosannya untuk menyeimbangkan interaksi antara institusi yang bersifat inklusif dan ekstraktif?

Buku ini akan menjadi teman dialog yang inspiratif.

*Kata Pengantar oleh Komaruddin Hidayat

  • Judul: Mengapa Negara Gagal – Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran, dan Kemiskinan
  • Penulis: Daron Acemoglu & James A. Robinson
  • Alih Bahasa: Arif Subiyanto
  • Penerbit: Elex Media Komputindo (Kompas Gramedia), Jakarta
  • Tebal: 606 hlm

___________________

Artikel Terkait:
Mimin NP
Mimin NP 37 Articles
Editor Nalar Politik