Mengapa Partai Parlemen Merosot?

Mengapa Partai Parlemen Merosot?
©Harian Terbit

Ulasan Pers – Jika pemilu diadakan ketika survei terakhir dilakukan (3-11 Desember 2022, beberapa partai parlemen mengalami penurunan suara dibanding hasil Pemilu 2019, terutama NasDem, PAN, dan PPP.

Mengapa dukungan kepada partai-partai parlemen tersebut merosot?

Bagaimana hubungan antara pilihan terhadap partai politik dengan pilihan kepada calon presiden? Dan bagaimana pula hubungannya dengan kepuasan atas kinerja pemerintah?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melakukan survei nasional, update terakhir pada 3-11 Desember 2022.

Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei berlangsung.

Dari populasi itu, terpilih secara random (multistage random sampling) 1220 responden. Response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) sebesar 1029 atau 84%. Sebanyak 1029 responden ini yang dianalisis.

Margin of error survei dengan ukuran sampel tersebut diperkirakan sebesar 3,1% pada tingkat kepercayaan 95% (asumsi simple random sampling). Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih.

Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20% dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Dalam quality control, tidak ditemukan kesalahan berarti.

Baca juga:

Tren Pilihan kepada Partai

Dalam survei Desember 2022, NasDem mendapat dukungan 3,2%, PPP 2,9%, dan PAN 1,7%. Masih ada 20,9% warga yang undecided. Jika yang undecided terdistribusi proporsional kepada setiap partai, dukungan kepada NasDem 4,1%, PPP 3,2%, dan PAN 2,1%.

Kalau error dibaca optimis, ketiga partai itu pada saat survei masih bisa dapat 4 persen lebih. Kalau dibaca pesimis, bisa lebih kecil dari angka sekarang.

Tapi apa pun, bench mark terbaik untuk partai adalah hasil pemilu 2019, apakah naik atau tidak. Sejak pemilu itu, NasDem, PAN, dan PPP secara signifikan di bawah hasil pemilu.

Elektabilitas partai NasDem, PAN, dan PPP di bawah hasil pemilu cukup jauh. Mengapa?

Pertama, efek ekor jas calon presiden (partai yang mendukung calon presiden tertentu akan mendapat limpahan suara dari pemilih presiden dukungannya).

Kedua, efek kinerja presiden terhadap partai pengusungnya (partai pengusung presiden akan mendapat limpahan suara dari pemilih yang merasa puas dengan kinerja presiden).

Tren Pilihan Presiden

Dari Mei 2022 ke Desember 2022, dukungan kepada Ganjar naik dari 25,5% menjadi 33,7%. Sementara, Prabowo cenderung turun dari 34,1% menjadi 26,1% dan Anies cenderung meningkat dari 23,5% menjadi 28,1%.

Suara Anies cenderung menguat setelah NasDem mendeklarasikannya sebagai capres.

Halaman selanjutnya >>>