Mengapresiasi Karya Tulis; Sebuah Komitmen

Mengapresiasi Karya Tulis; Sebuah Komitmen
Ilustrasi: Comparatodo

Tak ada karya tulis yang lahir dari ruang hampa. Ia selalu pasti bersumber dari penderitaan-penderitaan. Dan penderitaan terbanyak lebih besar berasal dari perasan nalar, terlebih nalar politik.

Jika ada yang menyangkal hal demikian, bahwa karya tulis tidaklah bersumber dari penderitaan-penderitaan, maka bisa dipastikan: yang bersangkutan bukanlah seorang penulis! Atau, setidaknya, ia tak pernah menulis; tak pernah melakukan kerja-kerja yang oleh Kartini via Pram disebut sebagai “Kerja Keabadian” ini.

Mengapa menulis melulu melibatkan penderitaan? Meski termasuk pertanyaan yang bodoh, tetapi kami patut menjawab ini. Alasan sederhana dan abstraknya, kerja-kerja intelektual ini butuh curahan berlebih dari sekadar yang bisa dibayangkan.

Bukankah menulis itu butuh fasilitas? Jika tidak dengan pena dan kertas, atau yang lebih canggih seperti HP atau laptop, maka menulis, melahirkan karya tulis, harus dengan media apa lagi?

Tak bisa kita nafikan, sumber daya-sumber daya berbentuk fisik adalah alat utama dalam menulis. Adakah yang mampu melahirkan karya tulis hanya lewat angan? Tidak, sama sekali tidak!

Itu baru soal bagaimana menulis. Belum masuk ke perkara mengapa harus menulis dan untuk apa orang harus menulis. Ya, menggubah adagium Buya Hamka, menulis sekadar menulis pun tak ubah seperti hidup sekadar hidup, atau kerja sekadar kerja.

Artinya, menulis mesti melampaui yang sekadar-sekadar itu. Jika sudah sampai ke tahap yang terakhir ini, maka tentu bukan sekadar fasilitas lagi yang penulis butuhkan, melainkan perasan nalar: nalar politik.

Sungguh kami tidak mampu menampik itu. Kami sadar, tak semua orang bisa menulis. Tak semua orang bisa melakukan kerja-kerja intelektual yang tergolong berat semacam ini. Itulah mengapa kami memberi apresiasi kepada setiap penulis kami di Nalar Politik.

Selain berupa apresiasi yang tak kasat mata, kami juga memberi apresiasi dalam bentuk honor yang lebih berwujud nyata. Itu komitmen kami.

Akankah honor bisa menodai kesucian sebuah karya? Bagi kami: TIDAK! Jangan munafik untuk sesuatu yang memang kita butuhkan untuk berkarya, sekalipun sesuatu itu berupa materi yang selama ini banyak orang tak mengakuinya—lebih tepatnya, pura-pura tak mengakui—sebagai kebutuhan mendasar.

Sejumlah alasan di atas kiranya sudah cukup terang. Itulah yang mendorong kuat mengapa kami patut dan wajib mengapreasiasi setiap karya yang terbit di portal kami, Nalar Politik, dengan honor dan apresiasi-apresiasi lainnya.

Diterima atau tidak, itu perkara lain. Setidaknya kami memberi apa yang menurut kami pantas untuk diberi. Bukan saja karena itu adalah kewajiban sebagai media, melainkan pula karena hak para penulis untuk mendapat buah dari penderitaan-penderitaannya.

Sekali lagi, diterima atau tidak (apresiasi kami berupa honor), tidak masalah. Diterima, ya syukur. Tidak diterima, berarti berkah buat kami😇

_____________

Baca juga:
Mimin NP
Latest posts by Mimin NP (see all)