Mengejar Kepala Desa

Mengejar Kepala Desa
©Dok. Pribadi

Ceritaku lima tahun yang lalu, ketika aku mengejar kepala desa…

Lima tahun yang lalu, tepatnya pada 2016, aku pernah bertugas menjadi pendamping desa atau yang biasa disingkat dengan PD. Aku merupakan PD di Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Sebelum menjadi pendamping desa, aku harus mendaftar pada kementerian pedesaan dengan memasukkan berkas-berkas. Kemudian, setelah aku lolos berkas, aku mengikuti seleksi ujian tulis dan wawancara. Alhamdulillah, aku lolos sampai akhirnya.

Setelah mengikuti pelatihan selama hampir seminggu di hotel Horizon Makassar; bertemu banyak PD, baik yang lama dan baru, diajar oleh banyak fasilitator yang keren, belajar dengan buku pelatihan berdesa yang setebal bantal hotel, sampai mendapat uang saku yang tidak cukup untuk dipakai seminggu di tempat tugas, akhirnya aku pun harus ke Libureng.

Di sana, awalnya, selain menumpang di rumah teman, rumah keluarga teman, rumah seorang guru, aku juga sampai mengontrak rumah untuk kutinggali dan menjadi basecamp teman-teman PD kecamatan dan PLD (pendamping desa tingkat desa). Semuanya hampir kulalui sendiri, mulai dari tinggal sendiri, makan sendiri, kerja tugas sendiri, cari data desa sendiri, dan lain sebagainya. Namun, alhamdulillah, biasanya sewaktu-waktu aku kedatangan adik dari “kampung sebelah” sampai ditemani adik sepupu dari kampung Majene, Sulawesi Barat.

Kuakui, aku bukanlah PD yang baik. Aku adalah produk gagal dari PD. Kontrakku sebagai PD belum selesai. Kontrakku yang harusnya setahun hanya kujalani setengah tahun, aku keburu sakit, asam lambungku kambuh, mungkin karena sering terlambat makan dan kecapean. Aku pun dirumahkan.

Namun, pengalamanku selama “terjebak” berdesa sangat banyak. Apalagi pengalaman dengan kata-kata Apbdes, Rpjmdes, Rkpdes, dan lain sebagainya.

Berdesa Tanpa Rasa Takut!

Dulu, aku takut jadi PD karena takut jika kepala desa (kades) menanyaiku pasal-pasal tentang berdesa. Memang harus berani jadi PD; bukan hanya harus mengetahui pasal-pasal berdesa, tapi juga menghadapi kepala desa yang banyak tingkah. Misalnya, aku pernah janjian dengan kades, namun kadesnya malah pergi menggembala sapinya. Mungkin ini karena kadesnya takut diperiksa anggarannya.

Aku juga sampai mengejar kepala desa jika saatnya tiba aku membuat laporan yang harus meminta tanda-tangan kades dan stempelnya. Sedangkan mereka “sibuk” juga dengan berbagai aktivitasnya, misalnya; berkebun, beternak, ke kota Bone, atau sampai yang pergi pelatihan di Makassar. Sehingga, si target alias si kades, walaupun kami sudah saling menelepon, kirim pesan, memang harus “didatangin, ditungguin” di rumahnya.

Baca juga:

Aku sampai teringat dengan kenangan waktu masih sekolah di Sekolah Dasar (SD) di mana kami diberikan buku “Laporan Kegiatan Bulan Ramadan”. Jadi, setiap Ramadan tiba, kami akan berburu tanda-tangan banyak orang. Di antaranya; orang tua sendiri, keluarga, kakak-kakak di masjid, apalagi imam masjid. Mereka yang tahu apa-apa saja yang telah kita lakukan selama Ramadan seperti puasa, mengaji, hafalan surah pendek, sampai salat tarwih di mana.

Sehingga, pengalamanku saat memegang buku “Laporan Kegiatan Bulan Ramadan” ini bermanfaat selama membuat laporan bulanan “Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD)”. Sampai-sampai aku pernah menuliskannya bahwa laporan P3MD adalah turunan dari buku Laporan Kegiatan Bulan Ramadan karena sama-sama minta tanda-tangan “orang penting” (ini pernah aku tuliskan pada sebuah platform yang sudah hilang karena bosnya tidak membayar pajaknya).

Calon Kades Mencariku

The planet does not need more “successful people”, the planet desperately needs more peacemakers, healers, restores, storytellers, and lovers of all kinds.

Ceritaku lima tahun yang lalu, ketika aku mengejar kepala desa, kalang-kabut mengerjakan tugas laporan, belajar hal baru tentang berdesa, sampai merasa terjebak di desa kini sangatlah berbeda. Aku yang karena “tinggal” di rumah kakek yang dipercaya sebagai wali, Imam Lapeo yang terletak di Desa Lapeo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, sebulan terakhir ini sering kedatangan calon kades.

Calon-calon kades ini datang berziarah dan berdoa di rumah kakek yang dianggap sebagai ruang spiritual selain di masjid yang beliau dirikan, dan makamnya. Mereka “ngalap berkah” di sini karena berharap semoga nanti mereka bisa terpilih sebagai kades yang amanah pada jabatannya (semoga!).

Kami yang maksudnya aku dan keluarga yang menerima kedatangan mereka bukanlah orang-orang yang berspiritual tinggi, sebagai pencipta perdamaian, penyembuh, pemulih, pendongeng, dan pecinta. Namun, kami hanyalah keturunan dari kakek kami, cicit beliau.

Mereka yang datang berdoa ke kami karena kakek kami bukan karena kami. Apalagi, ketika pemilihan kades serentak di Mandar tanggal 18 November ini, kami tak henti-hentinya menerima calon kades yang berdatangan. Baik kades yang incumbent maupun yang baru mendaftar jadi kades.

Mereka mengatakan, jika terpilih mereka akan melepas nazar kembali ke Lapeo. Ada  yang berniat membawa kambing, makan-makan bersama keluarga, dan lain sebagainya.

Bagi aku pribadi, jika mereka telah terpilih semoga memegang amanah yang berat ini dan benar-benar berbakti di desa, memperbaiki desa, menggali “local wisdom” kearifan lokal desa yang kian tergerus zaman. Kades yang baru terpilih bukan kemudian mengambil modal yang yang dikeluarkannya kemarin saat pemilihan karena telah melakukan serangan fajar dan memenuhi janji-janji manisnya pada pendukungnya saja.

Terakhir, selamat buat kades yang terpilih hari ini di seluruh Indonesia kami tunggu kerja nyatanya, bapak, ibu. Buat teman seorang PD di Bone yang kini jadi kades terpilih, Selamat, dari pendamping desa jadi kepala desa, pencapaian yang luar biasa, bro.

    Zuhriah
    Latest posts by Zuhriah (see all)