Mengenal Al-Jili dan Teori Al-Insan Kamil

Akan tetapi, menurut al-Jili, kebanyakan manusia dalam mengkaji kitab-kitab tasawuf tidak mengetahui pertaliannya dengan sumber asal (al-Qur’an dan al-Hadits) karena kepicikan wawasan dan keilmuannya. Sehingga, timbul persepsi yang salah tentang berbagai konsepsi yang ada dalam pemikiran tasawuf.

Apabila al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai dasar atau landasan pemikiran al-Jili, maka ta’wil, pengalaman ruhani dan al-Saqafah al-Sa’idah adalah metode dan sumber inspirasi al-Jili dalam merumuskan dan menghasilkan konsepsinya.

Ada perbedaan mendasar dari metode ta’wil yang digunakan oleh kalangan mutakallimun, yang dalam hal ini diwakili oleh kelompok Mu’tazilah dengan kalangan sufi falsafi. Mu’tazilah dengan  metode  ta’wilnya menarik pengertian teks ayat pada pemahaman yang bersifat rasional. Sedangkan para sufi menarik pengertian ayat pada pemahaman yang bersifat dzawqiyyah (rasa), di mana rasa sebagai hasil dari pengalaman rohaninya. Mereka menyangsikan kebenaran  ta’wil melalui pemikiran, penalaran dan logika.

Ta’wil menurut para ahli tafsir adalah menyingkap makna yang tertutup (tersembunyi, tersirat). Ta’wil juga dipahami sebagai mengalihkan makna ayat pada makna yang sesuai dengan ayat yang sebelum dan sesudahnya, makna yang dimungkinkan oleh ayat tersebut tidak bertentangan dengan al-Kitab dan al-Sunnah melalui cara istinbath.

Karena  itu,  ta’wil sering  kali  berkaitan dengan istinbath, sementara tafsir umumnya didominasi oleh naql dan riwayah. Pembedaan ini mengandung satu dimensi penting dari proses ta’wil, yaitu peran pembaca dalam menghadapi teks dan dalam menemukan maknanya.

Peran pembaca di sini bukan sebagai peran mutlak, dala pengertian melalui ta’wil teks  ditundukkan pada kepentingan subjektif. Ta’wil harus didasarkan pada pengetahuan mengenai beberapa ilmu berkaitan erat dengan teks, yang termasuk dalam konsep tafsir. Muawwil harus mengetahui benar seluk-beluk tentang tafsir, sehingga ia dapat memberikan ta’wil yang diterima terhadap teks. Yaitu ta’wil yang tidak menundukkan teks pada kepentingan-kepentingan subjektif, kecenderungan pribadi, dan ideologinya.

Seperti hermeneutika klasik dalam tradisi Barat, ta’wil di dalam tradisi Islam tumbuh dari latar belakang pemikiran yang memandang bahwa, bahasa merupakan wadah makna, dan adanya kesadaran bahwa semua teks keagamaan atau kerohanian memiliki makna batin yang tersembunyi di balik ungkapan lahir.

Dalam sejarah tasawuf, tradisi ta’wil bermula dari ikhtiar orang arif untuk memahami al-Qur’an secara lebih mendalam. Menurut mereka, ayat-ayat al-Qur’an digolongkan kedalam beberapa jenis, dan untuk tiap-tiap jenis diperlukan metode pemahaman atau penafsiran yang berbeda-beda.

Baca juga:

Sebagai metode penafsiran atau ilmu tafsir, pada awalnya ta’wil dirintis oleh Ja’far al-Shadiq pada abad ke-8 dan kemudian dikembangkan oleh tokoh-tokoh hermeneutika seperti, al-Sulami, Sahl al-Tustari, al-Qusyairi, al-Ghazali, Ibn Arabi, Rumi, Ruzbihan al-Baqli dan lainnya.

Sumber pemikiran al-Jili yang berasal dari al-Saqafah al- Sa’idah, lebih banyak didapatkan dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh gurunya melalui kitab-kitab karangan Ibn Arabi seperti, al-Futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam dan sufi-sufi  lainnya. Di samping ia juga menelaah secara langsung kitab-kitab para sufi tersebut.

Semuanya tampak melatarbelakangi lahirnya konsep al-Insan al-Kamil. Apabila dilihat corak pembahasannya, maka karya-karya tersebut adalah perpaduan antara filsafat dan tasawuf. Dengan demikian, filsafat  juga merupakan sumber pemikiran al-Jili yang tidak langsung.

Sebenarnya, jika sumber-sumber tersebut ditelusuri lebih jauh, maka konsep yang dihasilkan para sufi sebelum al-Jili seperti, Ibn Arabi dengan konsep Wahdah al-Wujud, al-Busthami dengan teori al-Ittihad dan al-Hallaj dengan konsep hulul dan teori kenabiannya, serta al-Ghazali dengan teori cahayanya yang ada dalam kitab Misykah al-Anwar adalah, kesinambungan  pemikiran dengan filsafat Islam yang menyatakan bahwa, alam semesta ini berasal dari pancaran Tuhan. Hal ini tentunya sebagaimana dikemukakan oleh al-Farabi, sedangkan teori itu sendiri dipengaruhi oleh filsafat Plotinus dan Plato.

Salman Akif Faylasuf
Latest posts by Salman Akif Faylasuf (see all)