Mengenal Aliran dalam Pendidikan dan Tokoh-Tokohnya

Mengenal Aliran dalam Pendidikan dan Tokoh-Tokohnya
©Literasi Network

Mengenal Aliran dalam Pendidikan dan Tokoh-Tokohnya

Pendidikan merupakan wadah untuk memanusiakan manusia, sedangkan menurut UU No. 20 Tahun 2023 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari defenisi pendidikan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pendidikan merupakan tempat membentuk manusia agar memiliki kekuatan spiritual, intelektual, kepribadian dan keterampilan. Namun dalam praktiknya membentuk peserta didik agar memiliki empat kekuatan di atas tidak semudah membalik telapak tangan, karena setiap peserta didik atau yang sering kita sebut siswa-siswi memiliki pontensi tersendiri yang mempengaruhi kemampuannya.

Dalam aliran pendidikan terjadi sebuah silang pendapat antara tokoh yang satu dengan yang lainnya. Ada yang mengatakan bahwa pontensi peserta didik sudah ada dalam dirinya aliran ini kita kenal dengan Nativisme yang dikemukakan oleh Arthur Schopenhauer.

Ada yang mengatakan bahwa peserta didik ibarat kertas putih kosong, lingkunganlah yang memebentuknya aliran ini kita kenal dengan empirisme yang dikemukan oleh Jhon Locke. Kemudian aliran gabungan atau sering di kenal dengan aliran konvergensi yang dikemukan oleh William Stern. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan di uraikan lebih luas mengenai aliran dalam pendidikan dan tokoh penggagasnya.

Arthur Schopenhauer dan Aliran Nativisme

Arthur Schopenhauer lahir pada 22 Februari 1788, di Danzig, Polandia. Ia dilahirkan dalam keluarga Jerman yang makmur, ayahnya, Heinrich Floris Schopenhauer adalah seorang pedagang yang sukses, sementara ibunya, Johanna Troisner adalah seorang penulis. Orang tuanya telah pindah ke Hamburg pada tahun 1793, setelah pencaplokan Danzig oleh Prusia.

Pada tahun 1805, ayah Arthur mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Sejak saat itu, ibunya mengambil alih asuhannya, dan pada tahun 1807, Arthur terdaftar di gimnasium di Gotha. Kemudian, ia ditempatkan di bawah pengawasan filsuf Yunani terkenal, Franz Passow, yang mengajarinya dalam studi klasik.

Selain itu Arthur dikenal sebagai filosof barat dan padangananya mengenai aliran pendidikan nativisme. Nativisme berasal dari kata Nativus yang berarti kelahiran. Teori ini muncul dari filsafat nativisma (terlahir) dari kata sebagai suatu bentuk dari filsafat idealisme dan menghasilkan suatu pandangan bahwa perkembangan anak ditentukan oleh hereditas, pembawaan sejak lahir, dan faktor alam yang kodrati.

Baca juga:

Pelopor aliran Nativisme adalah Arthur Schopenhauer seorang filosof Jerman yang hidup tahun 1788-1880. Aliran nativisme menyatakan bahwa perkembangan seseorang merupakan produk dari pembawaan yang berupa bakat. Bakat yang merupakan pembawaan seseorang akan menentukan nasibnya.

Adapun aliran Nativisme, secara umum sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan dari aliran Idealisme, terlihat dari konsepsi dasarnya tentang hakikat manusia itu sendiri. Menurut aliran Nativisme ini, manusia mempunyai potensi yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan dalam proses penerimaan pengetahuan.

John Locke dan Aliran Empirisme

John Locke dilahirkan pada tanggal 28 Agustus 1632 di Wrington, Somerset. Keluarganya berasal dari kelas menengah dan ayahnya memiliki beberapa rumah dan tanah di sekitar Pensford, sebuah kota kecil di bagian selatan Bristol. Selain bekerja sebagai pemilik tanah, ayah Locke bekerja juga sebagai pengacara dan melakukan tugas-tugas administratif di pemerintahan lokal.

Selain itu Jhon Locke adalah seorang filsuf dari Inggris yang menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan empirisme. Selain itu, di dalam bidang filsafat politik, Locke juga dikenal sebagai filsuf liberal, bersama dengan rekannya, Isaac Newton, Locke dipandang sebagai salah satu figur terpenting pada era Pencerahan.

Aliran empirisme yang dikemukan Jhon Locke menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong dan tak punya kemapuan apa-apa. Lingkunganlah yang membentuk potensi anak, akan menjadi apa anak tergantung lingkungan yang mempengaruhi.

Ibarat kertas putih yang kosong, mau di tulis atau digambar seperti apa tergantung lingkungan yang mempengaruhi. Aliran empirisme berpendapat berlawanan dengan aliran nativisme yang menganggap faktor hereditas sangat berpengaruh dalam perkembangan anak.

William Stern dan Aliran Konvergensi

William Stern (1871-1938), lahir dengan nama asli Wilhelm Louis Stern, adalah seorang psikolog dan filsuf dari Jerman dan tercatat sebagai pelopor dalam bidang psikologi kepribadian dan kecerdasan. Stern lahir di Berlin, cucu dari filsuf Jerman-Yahudi, Sigismund Stern.

Dia menerima gelar PhD di bidang psikologi dari University of Berlin, di mana ia belajar di bawah asuhan Hermann Ebbinghaus pada tahun 1893. Dia mengajar di Universitas Breslau pada tahun 1897-1916. Pada tahun 1916 ia diangkat sebagai Profesor Psikologi di University of Hamburg.

Baca juga:

Aliran konvergensi yang dikemukakan William Stern merupakan gabungan dari aliran-aliran di atas, aliran ini menggabungkan pentingnya hereditas dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia, Aliran konvergensi mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia itu adalah tergantung pada dua faktor, yaitu: faktor bakat/pembawaan dan faktor lingkungan, Inilah yang di sebut teori konvergensi.

Uraian di atas adalah tiga aliran pendidikan yang mempengaruhi perkembangan paradigma pendidikan. Selain itu, tiga aliran pendidikan di atas sering digunakan sebagai landasan teoritis dalam menentukan arah pendidikan. Aliran nativisme,empirisme dan konvergesi merupakan pandangan yang lahir dari sebuah pemikiran tentang hal-hal yang mempengaruhi perkembangan potensi manusia.

Pada dasaranya manusia tidak bisa lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya, baik hereditas, lingkungan atau gabungan kedua-duanya. Untuk bisa sampai pada potensi perkembangan manusia yang maksiamal, tidak cukup satu hal yang berpengaruh, misalanya hereditas saja atau emipirisme saja. Sebenarnya kedua-duanya harus berjalan sejajar untuk sampai pada level maksimal dalam membangun potensi manusia.

Hardi
Latest posts by Hardi (see all)