Mengenang Dia yang Telah Pergi

Mengenang Dia yang Telah Pergi
©Gusdurian

Di bulan Juli
uap air melayang tinggi
memeluk sukma Eyang Sapardi

Kutatap gemintang langit berpurnama
dan aku yakin namamu akan abadi
di kalbu para pembaca sajak-sajakmu

Dan perlukah kami rangkaikan kembang
untuk engkau di dunia seberang
bila puisi-puisimu jauh lebih harum?

O Tuhan, layarkanlah ruh beliau
kepada lautan kasih sayang hangat-Mu
dan jauhkanlah dia dari kemarahan ombak

Bintang Hujan

Sayap para awan sedang mengepak
menuju Jombang, kota di mana aku
belajar merangkak, berjalan, terjatuh,
dan berdiri. Tangis langit tertahan di
gugusan mendung meski desah angin
terus meniup bekas luka segar. Agar
nyeri yang tidak terperi itu berubah
dari rasa sakit ke dalam wujud air mata.

Di bawah rindang pohon asam, aku
menelan segumpal biskuit kemuraman
sampai perutku penuh terisi kegelapan.
Dan aku menengadah, sambil berkata:
“Bintang yang itu sungguh indah, seperti
kristal mengkilap yang ada di kedua matamu.”
Mendengar itu kau tertawa cukup singkat,
sambil memilin rambut pirangmu dengan lambat.

Jasmin

Bunga matamu berembun,
apakah pagi menghantarkan
getaran kesedihan di langit
lewat ceracau parau burung?

Di sebelahmu aku duduk diam,
menatap rapuh daun cokelat
diterbangkan oleh nasib
ke sungai-sungai penyesalan.

Teh jasmin di atas meja
mengepulkan kabut keceriaan,
dan kau menenggaknya habis
biar derita di dada terkikis.

Seputih Mutiara

Tubuh pucat terbenam di danau
sinar bulan dan bintang menyinari
kulitnya yang seputih mutiara
sedang darahnya memudar
di antara air dingin tawar

Seekor ikan palung menatapnya
kala gadis itu baru saja membuka mata
dari bibir merahnya itu
sebuah gelembung udara keluar
menyuarakan segumpal keputusasaan

Tidak lagi terdengar gema semangat
saat detak jantung terakhirnya
membungkam diri dalam sunyi
dan ketika dia bangun dan tersadar
ruhnya telah dipeluk oleh Tuhan

    Arham Wiratama
    Latest posts by Arham Wiratama (see all)