Menggagas Ruang Pemberadaban

Aktualisasi

Di dalam pendidikan kita saat ini, banyak konten, metode, dan bentuk pembelajaran berisi serta menghasilkan pengetahuan produktif. Pembelajaran yang bertujuan meraih juara lomba sains, misalnya, olimpiade dan semacamnya. Pembelajaran yang menekankan hasil praktis, bukan praksis.

Hingga tidak heran jika para pelajar kita hanya pandai berhitung, berlogika, dan berteori, tetapi tidak ada tendensi sosial-politik atas pengetahuan yang mereka peroleh.

Seperti saling mendukung, pemerintah juga menetapkan peringkat sebuah sekolah melalui prestasi-prestasi semacam itu. Seberapa banyak piala, piagam, dan setifikat yang sekolah dapatkan; seberapa lengkap fasilitas yang tersedia serta seberapa kompeten guru dan siswa; semua ini menentukan tinggi-rendahnya peringkat sekolah.

Tidak ada penjelasan serius mengapa pemerintah menetapkan standar semacam itu. Jarang sekali sebuah sekolah terukur dari sejauh mana siswa dan alumninya mampu mengubah kondisi kesadaran atau realitas masyarakatnya.

Padahal, bukan pengetahuan yang menjadi puncak ilmu (dibuktikan dengan perolehan piala-piala atau piagam-piagam), melainkan aktualisasinya dalam kehidupan nyata, baik terhadap lingkungan, sosial, hingga politik.

Aktualisasi terhadap kondisi sosial masyarakat (praksis tingkah-laku) itulah yang menjadikan ilmu mencapai puncaknya. Karena tingkah-laku akan membentuk budaya, yang pada gilirannya menjadi sebuah peradaban.

Bisa kita bayangkan peradaban seperti apa yang akan terbentuk jika pendidikan hanya menekankan pengetahuan produktif. Pemahaman, tingkah-laku, dan paradigma manusia akan sama seperti kacamata kuda: hanya mampu melihat ke depan, tanpa ada implikasi signifikan bagi sektor kehidupan lain di sekitarnya.

Ya, kesadaran yang terbatas dan hanya memiliki satu aspek akan mendominasi eksistensi manusia, seperti yang Herbert Marcuse sampaikan dalam One Dimensional Man-nya.

Baca juga:

Fakta sosial semacam ini bisa kita lihat di masyarakat Eropa. Banyak dari negara Eropa yang lebih mengarahkan pendidikannya untuk menghasilkan pengetahuan produktif. Akibatnya, karakter masyarakatnya pun lebih individualis dalam pola relasinya di masyarakat, terspesialisasi dalam kerjanya, dan tidak berimplikasi sosial dalam pengetahuannya.

Masyarakat yang awalnya merupakan masyarakat organis bergeser menjadi masyarakat mekanis. Dari yang bekerja secara bersama-sama menjadi sendiri-sendiri.

Arah Pendidikan

Meminjam istilah Marxisme, kelas dalam masyarakat terbagi atas borjuis dan proletar. Borjuis, di satu sisi, merupakan kelas eksploitator. Sementara di sisi lain, proletar sebagai kelas yang tereksploitasi.

Sebagai penegasan, pendidikan seharusnya berangkat dari kondisi-kondisi ketidakadilan yang para proletar alami. Pendidikan yang mampu membentuk tatanan sosial yang lebih adil, tanpa ketertindasan dan emansipatif.

Meski demikian, pendasaran atas kondisi sosial masyarakat proletar tidak serta-merta bertujuan mencipta dominasi yang baru. Karena hal itu bertentangan dengan prinsip emansipatif sebagai tujuan pendidikan. Namun, pendasaran tersebut lebih kepada pembentukan kesadaran ketertindasan yang manusia alaminya sendiri.

Artinya, pendidikan harus mampu membebaskan manusia dari ketertindasannya, sekaligus membebaskan penindas dari sikap menindasnya. Inilah yang Paulo Freire sebutkan bahwa pendidikan bertujuan memanusiakan manusia, bukan mengganti dominasi yang satu dengan dominasi yang lain.

Kesetaraan inilah yang nantinya membantu kita membentuk sebuah peradaban baru. Peradaban yang kita peroleh melalui proses pendidikan—proses mengetahui.

Bukankah pengetahuan manusia butuhkan untuk mengolah alam lingkungannya, mengenali masalah yang dihadapi, menganalis hingga mengambil keputusan atasnya?

Pengetahuan pada dasarnya membentuk sebuah peradaban. Oleh karena itu, penting bagi setiap lembaga pendidikan untuk tidak hanya menghasilkan pengetahuan produktif, melainkan juga harus lengkap dengan pengetahuan direktif. Suatu pengetahuan yang menekankan hakikat ilmu pengetahuan, bukan kulit luarnya.

Baca juga:
Nia Annasiqie
Latest posts by Nia Annasiqie (see all)