Menghidu Banua

Menghidu Banua
©Pixabay

Menghidu Banua

Angka itu sudah digit dua. Pronasi mulai goyah. Bantalan berbahan empuk ini makin terkikis saja. Geram kugesek-gesek.

Kesejukan hanya tersisa di rongga. Sisanya, semua lobang berasa panas dan perih, melumur lebur hingga himpitan terlembab, selangkangan. Kunikmati pacuan terengah-engah ini untuk menjambak kenikmatan tiada tara. Yang itu, loh, muncratan endorfin, candu yang diizinkan.

Kugenjot keras lagi hingga titik tertinggi. Mulutku sudah tak bisa mengatup lagi. Mengangah bak kepundan yang menyembur cecair panas. Keringat melicinkan gesekan lenganku, hingga berkecipuk liar.

“Ah, lagi, lagi!” terdengar hiba itu.

Aku makin liar. Kedutan mulai terasa, otot-otot tegang berebut cecair elektrolit.

“Teruskan saja….,” nikmat, kok.

Persetan dengan para penunggang beroda penggaruk itu. Angkuh berjejer pamerkan keserakahan. Penuh remahan warna cokelat menempel sedih, yang seenaknya saja tercecer di aspal.

Bulir-bukir humus yang tak lama tercabut dari kawanan yang penuh kesuburan. Mereka terkoyak oleh nafsu penggenjotnya yang kini duduk puas, nyengir kuda, sambil menikmati hidangan.

“Ulun handak lawan pian!” terdengar merintih. Seolah menghiba pinta pertolongan dengan rasa cinta dan sayang.

Matahari mulai meninggi. Sudah satu jam lebih aku menggenjot. Namun, tak sampai juga. Tujuan yang dikatakan sebagai sebuah “geosite”. Sebuah kata eksklusif, namun terancam!

Di sela pandangan mataku yang perih keringat, entah bulu alis mataku yang sudah tak mampu membendung lagi air asin. Mengucur bercampur “pomade”, kulihat puncaknya yang abadi menghijau nun jauh di sana.

Aku berdegup, inikah? Terngiang, “Ulun handak lawan pian!”

“Ulun”-kah yang di pucuk-pucuk itu? Melihat ke bawah sejawatnya yang sekarat, haruan banua, yang sudah setengah mati bernapas.

Kumatikan saja hitungan berdigit dua itu. Sudah, sudahlah, aku puas. Cukup, cukup sampai di sini saja. Aku tak kuat.

Kujejakkan kakiku agar berdiri sekokohnya. Sudah perih ini. Pasti ujung jariku sudah penuh dengan cairan. Ingin kusumbangkan saja untuk haruan Banua. Agar insangnya lega bernapas.

Halaman selanjutnya >>>