Menghidupkan Gus Dur, Yahya: Kita Masih Butuh Kegusduran

Menghidupkan Gus Dur, Yahya: Kita Masih Butuh Kegusduran
©JPNN

Nalar Politik – Dalam acara peluncuran buku berjudul Menghidupkan Gus Dur, Yahya Cholil Staquf menyebut Indonesia masih membutuhkan kegusduran. Meski raga sudah tiada, jiwa (pemikiran) akan tetap menyala.

“Gus Dur-nya memang sudah tidak ada, tapi kita masih membutuhkan kegusduran,” kata Yahya di Jakarta, Minggu (19/12).

Ia menilai idealisme, visi, dan cita-cita Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid masih relevan hingga sekarang. Bahkan, secara sosiologis, ia yakin idealisme, visi, dan cita-cita Gus Dur akan relevan hingga tahun-tahun ke depan.

Penilaian dan keyakinan itulah yang mendorong Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut meluncurkan buku berjudul Menghidupkan Gus Dur. Buku setebal 158 halaman ini bercerita tentang kenangannya bersama dengan sang idola Gus Dur.

Buku yang ditulis oleh AS Laksana ini sengaja diluncurkan menjelang peringatan haul Gus Dur ke-12 pada 30 Desember 2021 mendatang. Lantaran sangat mengidolakan Gus Dur sejak kecil, Yahya terdorong untuk menuangkannya lewat sebuah buku.

Dikisahkan di dalamnya tentang awal perkenalan dirinya dengan Gus Dur hingga didapuk menjadi juru bicara Gus Dur saat menjabat Presiden RI. Yahya pun kerap menemaninya bertemu dengan para tokoh negara bahkan pemimpin-pemimpin dunia.

Terselip pula tentang kenangannya dengan Gus Dur yang menurutnya adalah bangsawan humoris.

Misalnya, pertemuan Gus Dur dengan Raja Saudi Arabia Fahd, Presiden Amerika Bill Clinton, Presiden Prancis Jacques Chirac, dan pemimpin Kuba Fidel Castro. Menurut Yahya, semua pemimpin dunia itu pernah dibuat tertawa oleh lelucon Gus Dur.

“Gus Dur memiliki rasa humor yang luar biasa, yang memang dia asah sejak kanak-kanak, sehingga dia bisa menggunakan secara spontan dalam situasi apa pun dan ketika bertemu siapa pun.”

Baca juga: