Mengkaji Tuhan Yang Maha Abadi

Mengkaji Tuhan Yang Maha Abadi
©Geotimes

Mengkaji Tuhan Yang Maha Abadi

Dalam al-Qur’an surah Al-Hadid [57]: 3 di firmankan, “Huwa al-awwalu wa al-akhiru, wa al-zhahiru wa al-bathinu, wa huwa bi kulli syay’in alim.” Jadi jelas bahwa Allah itu Realitas Sejati yang tidak awal dan akhirnya. Itulah Dia! Dia bebas dari ikatan waktu. Maka carilah Dia yang unlimeted atau tak terbatas itu. Kalau kita hanya mencari yang tak terbatas, malang nian hidup kita ini.

Segala sesuatu yang terbatas akan membatasi atau memenjarakan kehidupan manusia. Sedangkan yang tak terbatas akan membebaskan manusia dari belenggu hidupnya. Ingat! Kebebasan atau kemerdekaan adalah anugerah Allah yang tidak ada taranya. Bagaimana cara mencari Yang Tak Terbatas itu? Tentunya dengan meningkatkan kesadaran kita. Kita harus berusaha meningkatkan diri kita menjadi manusia yang dalam sekali kesadarannya.

Allah adalah realitas lahir dan batin, yang tampak sekaligus yang tersembunyi. Lho, kok ada sifat paradoks? Bagaimana mungkin ada sesuatu yang tampak sekaligus tersembunyi? Itulah Allah. Karena itu, di al-Qur’an surah Asy-Syura [42]: 11 dinyatakan bahwa “tak ada sesuatu yang serupa dengan Dia.”

Jika hanya tersembunyi bukanlah Dia. Kalau cuma tampak bukanlah Dia. Dia itu nyata sekaligus tersembunyi. Dengan demikian, kalau kita hendak melihat dan menyentuh-Nya dengan indra fisik kita, maka Dia tersembunyi. Dia tak tersentuh oleh penglihatan (QS. Al-An’am [6]: 103).

Syahdan, kalau kita hendak merasakan kehadiran-Nya dan melihat diri-Nya dengan indra bathin kita, maka Dia sungguh-sungguh tampak. Di setiap apa yang kita lihat ada Dia. Ya, Dia itu meliputi segala sesuatu. Kemana saja kita memandang, disitulah wajah Allah. Ditegaskan pada surah Al-Baqarah [2]: 115 bahwa “kepunyaan Allah timur dan barat, maka kemana saja kamu menghadap di situlah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetauhi.”

Jika anda melihat sesuatu secara fisik, maka kita hanya melihat sebuah benda ciptaan-Nya. Kalau hanya itu yang di lihat, maka benda itu akan mengalami perubahan dan akhirnya kemusnahan semata. Tetapi, jika kita melihatnya dengan indra batin kita, maka kita akan menyadari bahwa di balik itu ada hukum Allah yang bekerja. Di balik itu ada Wajah Allah. Tiap-tiap sesuatu binasa, kecuali Wajah-Nya (QS. Al-Qasas [28]: 88).

Jika Allah diumpamakan sebagai pusat semesta, dan semesta alam ini sebagai bayi yang menetas dari pusat semesta, maka alam semesta ini sebenarnya tumbuh dan berkembang menuju kesempurnaan. Bentuk sesuatu mengalami perubahan dan akhirnya kepunahan. Tetapi Wajah-Nya tetap abadi. Kehadiran-Nya tetap kekal tak terbatas oleh waktu dan tempat. Yang demikian itulah Allah.

Jika Allah itu meliputi segala sesuatu (kana Allah bi kulli syay’in muhitha), dan di qur’an surah Al-Hadid [57]: 4 ditegaskan bahwa Allah bersama manusia dimana saja manusia berada, mengapa kita dinyatakan kembali kepada Allah? Dan, pada al-Qur’an surah Al-Hadid [57]: 5 dikatakan bahwa, kepunyaan-Nya segala apa yang di langit dan di bumi, dan kepada-Nya segala seuatu dikembalikan.

Baca juga:

Mengapa bisa paradoks begini? Di satu sisi, katanya segala sesuatu akan kembali kepada Allah. Di sisi yang lain, Allah meliputi segala sesuatu. Bagaimana ini? Di sinilah sebenarnya kita harus berusaha mengungkap makna yang terkandung di dalam al-Qur’an atau hadits. Jadi, ayat yang menyatakan bahwa segala sesuatu kembali kepada Tuhan, tidak berarti Tuhan saat ini berada di suatu tempat. Dia bukanlah sosok yang relaks di suatu tempat. Setiap saat Dia berada dalam kesibukan (QS. Ar-Rahman [55]: 29).

Dia senantiasa mencipta, memelihara, dan memberi petunjuk. Secara all in dapat disebut Allah senantiasa menyempurnakan ciptaan-Nya. Hukum-hukum Allah yang terpelihara (lawh al-mahfuzh) bekerja sesuai dengan ketetapan-Nya. Karena, menetapkan hukum itu hak Allah (QS. Al-An’am [6]: 57 dan Yusuf [12]: 40).

Kesibukan-Nya menunjukkan kehadiran-Nya ada dimana-mana. Dengan demikian, kembali kepada Allah berarti kembali pada “Jalan yang benar” jalan yang ditetapkan-Nya. Bukan kembali ke suatu tempat dimana Allah berada. Saat ini pun Allah beserta kita, Allah meliputi segala sesuatu.

Nah, orang syirik adalah orang yang tidak menemukan jalan-jalan-Nya. Mereka berjalan di luar perlindungan atau penjagaan Tuhan. Padahal energi kosmik di sekeliling kita ini sangat dahsyat. Kondisi tanpa perlindungan Tuhan bagaikan orang yang mendaki gunung, yang ketika sampai pada ketinggian tertentu jatuh lagi.

Ia tak pernah sampai ke puncak. Itulah sebabnya, orang-orang yang berbuat syirik, dosanya tak terampuni. Bukan karena Tuhan kecewa atau sakit hati terhadap ulah mereka. Tetapi, mereka memilih tak mau berjalan di atas jalan kebenaran yang ditetapkan Tuhan. Lalu kemudian jika ditanya, apakah ada dosa lain selain syirik yang tidak diampuni?

Jawabannya sudah tentu ada. Dalam al-Qur’an dinyatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari kebenaran dan melakukan kezaliman (melanggar kebenaran), Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka.” (QS. An-Nisa’ [4]: 168).

Lho, gamblag kan? Jadi, orang-orang yang kafir adalah orang-orang yang mengingkari kebenaran dan berbuat melanggar kebenaran atau melanggar batas-batas kebenaran. Melanggar batas-batas yang telah ditetapkan mengakibatkan mereka terlempar jauh dari jalan yang seharusnya di lalui. Akhirnya, mereka tak dapat bertemu dengan Dia.

Agar manusia tak terjerumus dan jatuh pada jalan yang salah, maka ia harus bersungguh-sungguh untuk meningkatkan kesadarannya. Kesadaran akan meningkat bila kita memiliki ketenagan hidup. Dan, hidup akan menjadi tenang bika kita senantiasa berdzikir kepada Allah (QS. Ar-Ra’d [13]: 28). Dan, Allah adalah Dzat yang Rabb al-alamin, al-rahman, al-rahim, dan yang memiliki nama-nama baik. Allah yang demikian inilah yang bisa kita rasakan kehadiran-Nya bila kita betul-betul berdzikir kepada-Nya. Wallahu a’lam bisshawab.

Baca juga:
Salman Akif Faylasuf
Latest posts by Salman Akif Faylasuf (see all)