Mengolek (Agama) Islam yang Diyakini dan yang Diamalkan

Mengolek (Agama) Islam yang Diyakini dan yang Diamalkan
©Kompas

Mengolek (Agama) Islam yang Diyakini dan yang Diamalkan

Umat Islam sudah pasti sepakat bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan figur tunggal muslim yang paling ideal (tak ada duanya), di mana wahyu Tuhan dan praktik keislaman menyatu dan tidak ada perbedaan sedikit pun. Akhlak dan perilaku Nabi Muhammad Saw adalah al-Qur’an itu sendiri (kana khuluquh al-Qur’an).

Karena itu, tak mengherankan jika Nabi Muhammad Saw disebut-sebut sebagai al-Qur’an yang berjalan. Islam sejati atau Islam murni (true Islam atau pure Islam) betul-betul ditemukan pada pribadi Kanjeng Nabi dan beserta para sahabat yang menyertainya. Lebih dari itu, sabda Kanjeng Nabi menyelesaikan seluruh perbedaan pendapat yang mungkin ada saat itu (bahkan sampai sekarang).

Mafhum, ketika Kanjeng Nabi meninggal dunia, hanya dua hal yang diwariskan kepada umatnya yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul. Nabi tak lagi bisa ditanya tentang berbagai masalah dalam Islam. Sejak saat itu, umat Islam harus menyelesaikan sendiri setiap permasalahan yang dihadapi berdasarkan pemahamannya terhadap kitab suci dan hadits Nabi.

Sekalipun guru para sahabat itu sama, yaitu Kanjeng Nabi, namun tak menjamin mereka memiliki pikiran yang seragam. Perbedaan pikiran dan pemahaman mereka disebabkan karena latar belakang kehidupannya yang tidak sama atau metode ijtihad yang digunakan berbeda. Bahkan, dalam melafalkan al-Qur’an saja, para sahabat bisa berbeda antara satu dengan yang lain.

Rupanya, semakin jauh dari masa sahabat, ketika Islam mulai menyebar ke seluruh penjuru dunia dan penganut Islam beragam bahasa, suku dan budaya, demikian makin kompleks pula problem yang dihadapi umat Islam. Pemahaman terhadap sumber ajaran Islam makin terbuka dan berwarna.

Lahirnya mazhab-mazhab dalam fiqh maupun kalam menunjukkan bahwa sumber ajaran Islam ibarat menu prasmanan, di mana semua umat Islam bebas memilih makanan yang disukai. Pilihan itu sangat dipengaruhi oleh latar pendidikan dan pengetahuan, politik dan mungkin pertimbangan pribadi. Karena itu, Islam akhirnya memang tidak satu warna. Pluralitas pemahaman atas Islam merupakan fakta tidak mungkin dipungkiri dan dihindari.

Hingga kehidupan Islam di akhir zaman seperti sekarang, keragaman pemahaman, pemaknaan dan praktis Islam makin terkonfirmasi kebenarannya, meski diiringi menguatnya fundamentalisme, radikalisme dan gerakan jihad. Pada bidang pokok agama, umat Islam memang satu keyakinan seperti dalam keesaan Allah Swt., rasul terakhir pembawa risalah Islam dan kitab suci umat Islam. Pada bidang cabang-cabang Islam, begitu banyak keyakinan dan praktik Islam yang dianut masyarakat Muslim.

Kita tahu, dalam bidang fiqh, dikenal mazhab fiqh Sunni dan Syiah. Di dalam mazhab Sunni setidaknya terdapat empat mazhab yang hidup dan dipraktikkan umat Islam. Di luar itu, organisasi-organisasi Islam yang berkembang di masyarakat juga melakukan intrepretasi sendiri terhadap kitab suci.

Baca juga:

Mereka seperti mau membentuk aliran sendiri. Namun malu mengakuinya. Masing-masing pengikut organisasi Islam itu memiliki identitas, simbol dan karakter Islam tersendiri yang berbeda dengan lainnya. Puluhan atau mungkin ratusan organisasi Islam, komunitas, jamaah atau sebutan lainnya tak bisa disatukan dalam kesatuan agama, nabi dan kitab suci.

Dengan demikian, setidaknya selalu antara Islam yang ada dalam kitab suci dan Islam yang ada di masyarakat. Islam yang pertama adalah Islam yang suci, murni dan ideal, yakni Islam yang belum tereduksi olek akal pikiran manusia. Islam yang termaktub dalam al-Qur’an dan hadits ini menjadi Islam paripurna, di mana Kanjeng Nabi menjadi figur utamanya.

Sedang Islam yang kedua merupakan Islam yang dipraktikkan di masyarakat. Bentuk Islam yang kedua ini beragam dan bermacam-macam. Ada Islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam FPI, Islam MTA, Islam Sasak, Islam Jawa dan sebagainya merupakan implementasi dan aktualisasi Islam yang telah terdefinisikan dan ditafsirkan oleh masyarakat.

Dalam bukunya yang sangat klasik, The Elementary Form of Religious Life, Emil Durkheim mendefinisikan suatu agama sebagai kesatuan sistem keyakinan (beliefs) dan praktik-praktik (practices) yang berhubungan dengan suatu yang suci (sacred). Dalam definisi di atas, Durkheim mengenalkan dua aspek dalam agama, yaitu keyakinan-praktik (beliefs-practices) dan suci-tidak suci (sacred-profane).

Jika dikaitkan dengan Islam, maka Islam beliefs dan Islam practices adalah dua hal berbeda. Islam beliefs adalah Islam yang diyakini berdasar pertimbangan keimanan. Islam practices adalah Islam yang diamalkan sehari-hari. Islam yang diyakini dan yang diamalkan belum tentu sejalan-seirama. Tiap orang Islam di daerah yang berbeda mungkin saja punya keyakinan dan praktik Islam yang berbeda.

Seorang pemikir yaitu Amin Abdullah mengenalkan istilah Islam normatif dan Islam historis. Meski gagasan awalnya merupakan metode dalam studi agama, namun ide tersebut tepat juga untuk membingkai dua jenis Islam. Islam normatif merujuk pada Islam sebagaimana dijelaskan dalam kitab suci dan cara mengkajinya menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang dogmatis.

Dan begitu juga sebaliknya, Islam historis merupakan Islam yang menyejarah sebagaimana yang dipraktikkan oleh umat Islam. Aktualisasi Islam historis ini beragam wujud, baik yang mayoritas maupun yang minoritas.

Syahdan, Islam yang dipraktikkan oleh masyarakat atau Islam historis dapat dipilah menjadi beberapa bagian. Gus Dur misalnya membagi Islam yang demikian menjadi tiga kategori, yaitu Islamku, Islam Anda dan Islam Kita. Buku itu menggambarkan bahwa Islam tidaklah satu tapi banyak wajah. Setiap orang memiliki Islam yang diyakini dan dipraktikkannya sendiri, itulah Islamku. Orang lain boleh setuju boleh pula tidak. Islamku adalah Islam yang khas berdasarkan pengalamanku sendiri.

Halaman selanjutnya >>>
Salman Akif Faylasuf
Latest posts by Salman Akif Faylasuf (see all)