Mengontrol Tubuh Perempuan

Mengontrol Tubuh Perempuan
ยฉFacebook

๐น๐‘œ๐‘Ÿ๐‘”๐‘’๐‘ก๐‘ก๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘–๐‘  ๐‘‘๐‘–๐‘“๐‘“๐‘–๐‘๐‘ข๐‘™๐‘ก. ๐‘…๐‘’๐‘š๐‘’๐‘š๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘–๐‘  ๐‘Š๐‘œ๐‘Ÿ๐‘ ๐‘’ (Melupakan itu sulit. Mengingat itu lebih buruk)

Apa yang kita bicarakan ketika kita berbicara tentang pemerkosaan?

Setelah merenung selama beberapa tahun, saya menemukan kesimpulan tulisan ini sebagai berikut: ๐‘ƒ๐‘’๐‘Ÿ๐‘’๐‘š๐‘๐‘ข๐‘Ž๐‘› ๐‘ก๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘˜ ๐‘š๐‘’๐‘š๐‘๐‘ข๐‘ก๐‘ขโ„Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘Ž๐‘๐‘Ž ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐ด๐‘›๐‘‘๐‘Ž ๐‘ ๐‘’๐‘๐‘ข๐‘ก ๐‘ ๐‘’๐‘๐‘Ž๐‘”๐‘Ž๐‘– ๐‘๐‘’๐‘š๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘‘๐‘Ž๐‘ฆ๐‘Ž๐‘Ž๐‘›. ๐‘€๐‘’๐‘Ÿ๐‘’๐‘˜๐‘Ž โ„Ž๐‘Ž๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘š๐‘’๐‘š๐‘๐‘ข๐‘ก๐‘ขโ„Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘ ๐‘Ž โ„Ž๐‘œ๐‘Ÿ๐‘š๐‘Ž๐‘ก ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘˜๐‘’๐‘Ž๐‘š๐‘Ž๐‘›๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐‘š๐‘Ž๐‘ ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘ก.

Dalam rangka memerinci jawaban di atas, tulisan ini dibagi ke dalam beberapa bagian, antara lain: Pertama, definisi operasional tentang pemerkosaan dan karakteristiknya. Kedua, pemerkosaan sebagai fenomena struktural dan kultural. Ketiga, apa yang harus dilakukan.

๐€๐ฉ๐š ๐ˆ๐ญ๐ฎ ๐๐ž๐ฆ๐ž๐ซ๐ค๐จ๐ฌ๐š๐š๐ง?

Konsep โ€œpemerkosaanโ€ berasal dari kata bahasa Latin rapere yang berarti merebut, mengambil atau membawa pergi. Konsep tersebut mengalami perluasan makna, terutama sejak abad ke-14, menjadi โ€œmengambil dan merebut secara paksaโ€.

Akibatnya, pemerkosaan selalu inheren dengan relasi kekuasaan di mana korban pemerkosaan dilihat sebagai properti yang dapat dimiliki atau direbut secara paksa oleh orang lain.

Akhirnya, pada masa perang Dunia II, pemerkosaan menjelma senjata perang. Memerkosa warga negara atau bangsa lain yang dianggap musuh senantiasa berarti tindakan legitim merebut infrastruktur kekuasaan dan properti musuh.

Meskipun fenomena di atas tidak berulang secara sistematis pada masa kini, namun tendensinya selalu sama: perempuan masih dianggap sebagai properti yang mesti dilindungi. Hal itu tersurat dalam definisi yang diberikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengartikan pemerkosaan sebagai bentuk serangan seksual atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) yang memasukkan pemerkosaan ke dalam definisi mereka tentang kekerasan seksual.

Tidak ketinggalan, Pengadilan Kriminal Internasional (dikutip dari thewillnigeria.com) juga mendefinisikan pemerkosaan sebagai โ€œinvansi fisik yang bersifat seksual yang dilakukan pada seseorang dalam keadaan yang memaksaโ€.

Baca juga:

Namun, beberapa definisi di atas masih bertolak dari asumsi bahwa pemerkosaan terjadi ketika pelakunya adalah orang asing yang berada jauh di luar jangkauan sebuah sistem masyarakat. Itu tampak juga dalam asumsi kebanyakan orang.

Padahal, 85% dari semua laporan pemerkosaan terjadi antara orang yang saling mengenal. Beberapa pertemuan ini jelas dipaksakan, tetapi banyak yang tidak sebab pelaku adalah orang yang dekat.

Bagian yang paling mengerikan dari itu adalah adanya kenyataan bahwa orang tidak diperkosa di tempat-tempat terbatas di luar rumah mereka hari ini, tetapi tepat di dalam rumah mereka oleh orang-orang yang seharusnya melindungi mereka.

Dalam Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2021, kekerasan terhadap perempuan yang terjadi dalam ranah privat atau personal sebanyak 1.404 kasus (65%), publik/komunitas sebanyak 706 kasus (33%), dan negara sebanyak 24 kasus (1%).

Artinya, pengaduan terbanyak untuk kasus kekerasan terhadap perempuan dilakukan oleh orang terdekat yang mempunyai relasi personal dan sangat dikenal oleh korban. Itu tampak dalam data yang sama, bahwa pelaku kekerasan seksual ranah komunitas didominasi oleh teman (330 kasus) dan tetangga (290 kasus).

Dengan demikian, perluasan definisi di atas menghantar kita pada pembahasan selanjutnya, yakni bahwa analisis terhadap tindakan pemerkosaan mesti diletakkan dalam dua konteks utama, yakni hubungannya dengan dimensi struktural dan dimensi sosio-kultural.

๐ƒ๐ข๐ฆ๐ž๐ง๐ฌ๐ข ๐’๐ญ๐ซ๐ฎ๐ค๐ญ๐ฎ๐ซ๐š๐ฅ

Sebagai bagian dari tindakan kekerasan, pemerkosaan terjadi karena adanya ketidakseimbangan kekuasaan dalam masyarakat. Anda dapat menemukan ini di mana-mana, setiap hari.

Bentuknya, yakni relasi yang timpang antara pemimpin dan bawahan, antara dosen dan mahasiswa, antara orang-orang kaya dan miskin, antara orang kota dan desa, antara majikan dan karyawan, antara orang tua dan anak, dan seterusnya.

Halaman selanjutnya >>>
    Hans Hayon
    Latest posts by Hans Hayon (see all)