Mengulik Akun @eliya_mkom Penebar Konten ‘Negatif’

Mengulik Akun @eliya_mkom Penebar Konten 'Negatif'
Akun Twitter @eliya_mkom

Baik. Menjelang subuh, saya mencoba mengulik akun @eliya_mkom yang awalnya sempat saya kira laki-laki yang bersembunyi di balik akun perempuan.

Beberapa teman memang menunjukkan bukti bahwa @eliya_mkom adalah benar sebagai perempuan, dan terafiliasi ke kalangan oposisi. Ia sempat tenar dan jadi buah bibir dengan konten hasutan, menuding ada bagian tanah negara dicaplok negara tetangga.

Ia masih aman karena ulahnya itu cuma berujung klarifikasi dari TNI Angkatan Udara yang menegaskan bahwa tidak ada tanah dicaplok.

@eliya_mkom juga sempat memelintir kasus di Mako Brimob sebagai pengalihan isu.

Bahkan, saat terjadi aksi bom bunuh diri beberapa waktu lalu, ia pun lagi-lagi memelintir kasus tersebut. Dan tujuannya begitu-begitu saja: menyerang pemerintah.

@eliya_mkom ini memiliki kebencian kuat terhadap pemerintah, dan gemar menjadikan hasutan dan fitnah sebagai senjata menyerang. Bahkan, usaha Chilli Pari Catering yang kebetulan putra presiden jadi sasarannya. Ia beruntung karena negeri ini tidak dipimpin presiden tangan besi.

Persoalan paling serius dari keberadaan akun @eliya_mkom bukan karena ia menyasar anak presiden dan lain sebagainya. Namun, bagaimana ia memainkan hasutan-hasutan berbahaya dengan berbagai macam cara, yang di sisi lain ia dengan mudah cuci tangan.

Ingat bagaimana saat ia mengangkat ada tanah di Kalimantan dicaplok negara tetangga? Dengan ekspresi tanpa rasa berdosa, @eliya_mkom ini menganggap masalah clear karena ada klarifikasi (dari pihak) TNI Angkatan Udara.

@eliya_mkom ini berbahaya karena bisa saja mengarahkan fitnahnya kepada siapa saja yang dianggap berlawanan dengannya, atau yang dipandang mengusik kebiasaannya menebar hasutan di linimasa. Menyimak bahaya itulah maka kenapa dari kemarin saya terlihat iseng di linimasa mengusik akun @eliya_mkom tersebut.

Saat mengusik @eliya_mkom dari kemarin, saya tidak melihat dia perempuan atau bukan, melainkan apa isi dari cuitan-cuitannya.

Soal pemilik akun @eliya_mkom ini di kubu oposisi bukanlah masalah. Demokrasi menghalalkan perbedaan. Namun, yang mesti ditentang keras adalah upayanya yang menghasut di banyak kesempatan. Silakan simak isi linimasanya.

Tindak-tanduk @eliya_mkom di Twitter Indonesia ini sama sekali tidak mengedukasi. Bisa disimak bagaimana ia menulis cuitan demi cuitan dan muatan apa yang dibawanya. Maka kenapa semoga @aduankonten bisa lebih proaktif melihat akun-akun seperti @eliya_mkom ini. Bukan soal ia mengusik pemerintah, tapi lebih ke sisi efek yang bisa ditimbulkan akun seperti ini terhadap publik.

Kalau sekadar kritikan @eliya_mkom terhadap pemerintah, itu wajar, haknya sebagai warga negara. Masalahnya adalah ia turut menyebar hasutan dengan dalih sebagai kritikan. Di sinilah bahaya terhadap publik, terutama yang kebetulan bersimpati ke kubu oposisi.

Lihat juga: Politisi Hitam, Dalang Jahat Produsen Fitnah

Menghasut dengan menggunakan akun perempuan atau benar-benar dari kalangan perempuan lebih riskan. Sebab kalangan pria pun terkadang ragu menghadapi akun perempuan karena segan, khawatir dicibir, sampai dengan dianggap “kurang laki”.

Makanya banyak pengguna media sosial pria, kalaupun menolak dan anti terhadap upaya-upaya hasutan sampai dengan fitnah, menghindar berhadapan dengan akun yang membawa status sebagai perempuan seperti dimainkan oleh akun @eliya_mkom karena alasan-alasan tadi. Walaupun mereka tahu, hasutan yang dibawa siapa saja sama bahayanya.

Di ranah media sosial, melawan akun-akun penebar hasutan, fitnah, atau hate speech semestinya tidak perlu digoyahkan oleh cover-cover seperti dimainkan @eliya_mkom. Kita coba membaca dampak. Sebab risiko konten diusungnya terlalu berisiko terhadap nalar sampai dengan realitas luar media sosial.

Seperti kasus @eliya_mkom, kita menghormatinya sebagai perempuan jika ia riil perempuan. Namun, mencegah akun-akun berwajah perempuan begini menebar konten berbau penyesatan publik menjadi suatu hal serius. Jadi tanggung jawab siapa saja yang tidak ingin risiko besar terjadi karena semena-mena di media sosial.

Kenapa saya memilih tidak menggubris soal citra dan menghadapi akun seperti @eliya_mkom? Tak lain agar publik bisa melihat apa saja yang sudah dilakukan oleh akun tersebut. Apakah ia cuma biasa saja, atau benar-benar bahaya.

Saya tidak mempersoalkan bahwa jagat Twitter akan berpihak kepada pemilik akun @eliya_mkom karena ia adalah perempuan yang semestinya memang dihormati. Concern saya hanya muatan atau konten cuitan-cuitannya yang memang sarat hal-hal negatif yang terlalu berisiko.

Bahwa kemarin saya hanya menghadapi akun @eliya_mkom dengan joke-joke kecil, karena berpikir bahwa akun sekelas ini memang tidak perlu diseriusi. Setelah berdiskusi dengan teman-teman, saya teryakinkan, bahwa publik sampai dengan @aduankonten dan Twitter Indonesia perlu melihat serius keberadaan akun ini.

Maka itu, pagi ini saya meneruskan kecerewetan untuk menunjukkan rawannya keberadaan akun-akun seperti @eliya_mkom. Agar ia berpikir seribu kali untuk menebar konten negatif karena publik sudah lebih awas.

Lihat juga: Kenapa SARA dan Hoaks Muncul Menyerang Jokowi?

“Anda, kan, menyorot @eliya_mkom karena dia beda pandangan politik dengan Anda saja?” FYI, istri saya sendiri pemilih Pak Prabowo di Pilpres lalu. Sama sekali tidak saya dikte istri bahwa kamu harus mengikuti pilihanku untuk mencoblos Pak Jokowi.

Kenapa perlu saya ceritakan itu? Karena memang perbedaan itu bukan masalah. Masalah hanya jika karena perbedaan lalu membenarkan fitnah, hasutan, dan lain sebagainya.

Saat istri saya sendiri memutuskan mencoblos Pak Prabowo di Pilpres lalu, saya hanya memintanya jangan ikut-ikutan menebar fitnah dan hal-hal SARA. Dia mengikuti itu tanpa perlu mengubah pilihannya. Inilah demokrasi yang saya pahami.

Jika demokrasi direndahkan dengan membenarkan hasutan sampai dengan fitnah, maka itulah musuh demokrasi yang perlu dilawan.

Sekarang, banyak yang tampil sebagai intelektual, menjalankan gelar, tapi menyetarakan fitnah sampai dengan hasutan sebagai bagian demokrasi, sebagai bentuk kritikan penguat demokrasi. Itu saya pikir intelektual keblinger yang perlu bantuan agar nalar tidak terpagar oleh gelar.

Itu juga kenapa saat pemilik akun @eliya_mkom tampil sebagai “intelek”, lengkap dengan gelar, tampil dengan sederet konten bermuatan fitnah sampai dengan hasutan, membuat saya tidak menggubris soal citra. Sebab figur-figur seperti inilah paling riskan membodohi publik.

Kalau figur seperti @eliya_mkom ini bisa tampil dengan konten yang memang edukatif, baik, tak masalah walaupun yang bersangkutan berseberangan secara kacamata politik.

Alasan mirip juga kenapa saya pribadi terkesan rewel dengan figur-figur yang jauh di atas sosok @eliya_mkom, seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah, sampai dengan Hidayat Nur Wahid yang punya embel-embel ketokohan. Sebab figur publik yang sembarangan dalam berpendapat, hanya bertumpu pada kepentingan politis tanpa menggubris impact kepada publik, bisa menjadi “bom atom” yang bisa menghancurkan apa saja.

Maka itu, bagi saya, media sosial bukanlah alat untuk memanis-maniskan diri. Sebab manis saja rentan meracuni. Perlu sikap tegas terhadap penebar hasutan-hasutan dan penyebar fitnah-fitnah yang mengotori nalar publik, terutama—maaf—kalangan awam media sosial, yang hanya tahu menggunakan tanpa mengetahui ada permainan apa di tengah keriuhannya.

Lihat juga: Kepercayaan Publik terhadap Media

Jadi Mbak @eliya_mkom dan lingkaran Anda, sepanjang kalian masih rajin menebar konten penyesatan publik, dan merasa aman-aman saja memainkan fitnah, karena tidak ada akun bercentang biru menggubris ulah Anda, maka saya pertaruhkan centang-centangan itu untuk bikin Anda berpikir seribu kali.

Terus, bagaimana istri saya sendiri yang sempat memilih Pak Prabowo di Pilpres lalu? Apakah berubah pikiran? Ya, istri saya sendiri, sejak melihat klaim sepihak pendukung Prabowo sebagai pemenang di Pilpres lalu, berterus terang menyesal menjatuhkan pilihan terhadap tokoh tersebut.

Apa lagi yang membuatnya menyesal turut mendukung sosok tersebut? “Karena ternyata mereka terlalu banyak bermain fitnah dan hasutan,” kata istri.

Ia kini bahkan mendukung pilihan politik saya, mengikutinya, tanpa dikte sama sekali bahwa ia harus mengikuti pilihan saya.

Pesan apa yang ingin saya angkat di sini? Tidak masalah dengan perbedaan politik atau perbedaan apa saja. Menjadi masalah jika karena alasan politik menghalalkan untuk menipu publik. Anda berhak untuk memilih garis politik mana saja, mendukung apa saja. Tapi, di media sosial, saya hanya menjadi lawan bagi siapa saja yang menghalalkan cara apa saja.

Tidak takut diberangus akun-akun pendukung @eliya_mkom karena sikap itu? Lagi, dia lihai menghasut lho?

Yang mengira saya akan diam cuma karena dikeroyok, hanya karena belum berkenalan saja dengan saya. Berkenalan lebih membantu melihat yang sebenarnya.

Zulfikar Akbar