Mengupas Mandar, IPMMY Hadirkan Dialog Kemandaran di Tanah Mataram

Mengupas Mandar, IPMMY Hadirkan Dialog Kemandaran di Tanah Mataram
Dialog Kemandaran Ikatan Pelajar Mahasiswa Majene Yogyakarta (IPMMY), Sabtu (13/1/2018).

Nalar Politik Sejumlah mahasiswa asal Sulawesi Barat yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Mahasiswa Majene Yogyakarta (IPMMY) menghadirkan Dialog Kemandaran di Tanah Mataram. Bertempat di Wisma Ammana I Pattolawali, dialog ini mengangkat tema Mengupas Mandar dalam Budaya Lisan dan Tulisan.

“Kami merasa perlu untuk membincang tanah leluhur (Mandar) dengan segala problematika budaya dan masyarakatnya. Untuk itu, dialog semacam ini menjadi penting kami hadirkan di tengah-tengah kejumudan berpikir mahasiswa Mandar tentang kemandarannya sendiri,” terang Ketua Umum IPMMY, Muhammad Ihsan Tahir, dalam sambutannya, Sabtu (13/1/2018).

Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini juga menegaskan, Dialog Kemandaran IPMMY adalah upaya memahami kembali identitas Mandar, terlebih melalui pengkajian budaya lisan dan tulisan.

“Tema ini kami angkat untuk mengajak teman-teman mahasiswa se-Sulbar di Yogyakarta, khususnya Majene, untuk memahami betul akan Mandar. Salah satu aspeknya bisa kita identifikasi dari budaya lisan dan tulisan yang ada di daerah kita,” pungkasnya.

Pada dialog kali ini, panitia menghadirkan Bustan Basir Maras, antropolog jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang sekaligus merupakan senior IPMMY. Kegiatan ini sendiri merupakan agenda rutin bulanan dalam kerja kepengurusan IPMMY periode ini.

Ketua Panitia, Muhammad Afif Tarjih, mengharapkan dialog ini dapat memberi vitamin intelektual kepada para peserta. Terlebih menghadirkan pemateri yang memang kompeten membicarakan seluk-beluk Mandar dan kemandaran secara umum.

“Semoga kegiatan ini bisa menambah wawasan teman-teman mahasiswa di Yogyakarta. Saya yakin, dialog ini adalah nutrisi yang kita butuhkan untuk bicara mengenai Mandar, apalagi pemantik yang dihadirkan kompeten untuk membicarakan tema tersebut,” ungkap Afif yang lebih akrab dengan sapaan Divo.

Palaio Potaq, Pettamao Randang

Selaku pemateri, Bustan Basir Maras membuka dialog dengan ungkapan Mandar: Palaio potaq, pettemao randang. Ungkapan ini, menurutnya, harus mampu dimaknai secara kontekstual, terutama dalam konteks dunia mahasiswa sebagai upaya penjernihan intelektualitas.

“Istilah ini harus bisa dipahami oleh semua mahasiswa Sulbar sebagai semangat menjernihkan pikiran mahasiswa dari hal-hal yang kontraproduktif. Salah satu caranya, terus menjaga semangat berdialog seperti ini,” terang penulis buku sekaligus budawayan Mandar itu.

Lebih lanjut, Bustan juga menjelaskan budaya lisan dan tulisan yang ada di Mandar. Ia melihat budaya lisan lebih sering digunakan oleh pendahulu Mandar ketimbang tulisan.

“Dalam konteks Sulbar, budaya tutur kita lebih banyak daripada tulisan. Ini bisa dilihat dari krisisnya referensi tentang mandar yang dapat ditemukan dalam buku-buku terdahulu. Cerita Mandar lebih sering kita dapatkan dalam warisan cerita turun-temurun dari orang-orang terdahulu,” terang Bustan kembali.

Guna mengabadikan pengetahuan tentang Mandar, tambahnya, keadaan ini harus bisa diseimbangkan. Bahkan harus lebih fokus pada tradisi budaya tulisan.

“Hal ini harus bisa dibaca mahasiswa sebagai ancaman. Jika hari ini kita tak mulai menulis budaya kita sendiri, maka perlahan-lahan Mandar akan hilang dalam referensi akademik. Karena segala yang kita ucapkan akan hilang, tapi segala yang kita tulis akan abadi.”

Bustan berpendapat, salah satu faktor yang menyebabkan orang-orang terdahulu lebih sering mewariskan pengetahuan melalui budaya lisan adalah karena adanya sakralisasi terhadap teks lontar sebagai wadah budaya tulisan saat itu.

“Tidak mudah untuk mencari jejak budaya tulisan di Mandar. Salah satu penyebabnya karena lontar sebagai bentuk pengabadian pengetahuan melalui budaya tulisan sangat sulit untuk didapatkan. Sangat disakralkan. Bahkan, di beberapa tempat, butuh ritual adat untuk membukanya.”

Sebagai penutup, Bustan menantang mahasiswa Sulbar di Jogja untuk mengambil peran konkret. Ia pantik mahasiswa Mandar di Kota Pendidikan ini agar senantiasa menumbuh-suburkan budaya tulisan.

“Untuk konteks hari ini, setidaknya mahasiswa Jogja sebagai kaum intelektual dapat merumuskan kitab tentang Mandar dan menerbitkannya menjadi sebuah buku. Berani?” tantangnya. (ra)

___________________

Artikel Terkait:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi
    Share!