Meningkatkan Pasokan Barang Konsumsi di Masa Pandemi

Meningkatkan Pasokan Barang Konsumsi di Masa Pandemi
©Economic Times

Tujuan dasar dari kegiatan ekonomi adalah meningkatkan pasokan barang konsumsi untuk masyarakat.

Sudah lebih dari 1,5 tahun virus korona Covid-19 menyerang manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi, jika penyebaran varian Delta terus pesat dan masih longgarnya protokol kesehatan, bukan tidak mungkin bahwa akumulasi yang saat ini 196,55 juta kasus akan tembus 200 juta kasus dalam dua pekan ke depan (Kompas, 1 Agustus 2021).

Tentu, fakta mengerikan itu tidak hanya berhasil memakan korban berupa jiwa, melainkan pula telah berdampak secara langsung terhadap ekonomi regional juga global. Bank Dunia bahkan menilai kerusakan ekonomi yang terjadi akibat pandemi Covid-19 ini sebagai guncangan terbesar dunia dalam beberapa dekade. Untuk mengakhirinya, diperlukan koordinasi global guna memutus mata rantai, baik melalui vaksinasi secara masif maupun dengan pengelolaan makroekonomi secara cermat.

Memang, di masa pandemi begini, adalah persoalan besar bagi kita semua untuk senantiasa menjaga ketahanan ekonomi sembari tetap memperhatikan aspek kesehatan di sisi lainnya. Terus mempertentangkan keduanya bukanlah pilihan logis, terlebih memberi penekanan pada satu aspek saja. Kita harus membuka mata bahwa korban yang jatuh tidak hanya berasal dari kalangan yang terinfeksi Covid-19, melainkan pula karena dampak yang menyertainya.

Ya, pembatasan aktivitas seperti PSBB dan PPKM bisa jadi menurunkan angka kasus harian. Makin kecil kasusnya, makin besar peluang untuk kembali menatap masa depan yang lebih cerah. Namun, suara-suara kelaparan yang terdengar nyaring di mana-mana selama pembatasan aktivitas itu tetaplah menjadi seburuk-buruknya mimpi. Sekadar berharap pada bantuan sosial sebagai pereda bukanlah sikap yang sepadan.

Dengan demikian, perekonomian menjadi aspek terpenting lainnya di luar kesehatan. Apalah guna memiliki badan sehat jika sumber-sumber daya penunjang kehidupan warga seperti roda ekonomi tidak mampu berputar lagi?

Memutar Kembali Roda Perekonomian

Seperti dicatat Badan Koordinasi Penanaman Modal, pertumbuhan konsumsi di Indonesia benar-benar terhambat oleh pandemi Covid-19. Namun, di tengah kesulitan tersebut, realisasi investasi triwulan II-2021 menunjukkan kinerja yang positif. Hal ini menjadi alasan pemerintah untuk tetap mengandalkan investasi sebagai motor pertumbuhan ekonomi yang berkualitas di tengah terpuruknya konsumsi akibat pandemi.

Pemerintah, melalui Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu, menyebut investasi dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Apalagi, kinerja investasi akan terus diakselerasi sejalan dengan implementasi aturan turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Kompas, 30 Juli 2021).

Realisasi harapan tersebut menjadi begitu krusial mengingat pertumbuhan ekonomi yang diukur dari tingkat konsumsi rumah tangga terhambat oleh pandemi Covid-19. Padahal, mengutip data Badan Pusat Statistik 2020, konsumsi rumah tangga ini adalah komponen penting pada perekonomian Indonesia. Komponen ini berkontribusi paling besar, yakni 56,9 persen, terhadap produk domestik bruto (PDB).

Tidak salah jika peluang pertumbuhan investasi di Indonesia untuk tahun ini juga sangat bergantung pada seberapa besar pemulihan konsumsi masyarakat. Seperti juga diingatkan oleh Kepala Ekonom PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) I Kadek Dian Sutrisna, permintaan yang membaik akan dapat memperbaiki sisi penawaran yang berujung pada pemulihan investasi.

Namun, yang perlu dicatat di sini adalah tujuan utama yang seharusnya dicanangkan bukanlah peningkatan pertumbuhan ekonomi dalam bentuk agregat statistik seperti produk domestik bruto atau pendapatan nasional. Tujuan dasar dari kegiatan ekonomi adalah untuk meningkatkan pasokan barang konsumsi untuk masyarakat. Mungkin sulit mengukurnya secara akurat, tetapi harus diingat bahwa perhatian kita adalah barang nyata dan layanan, bukan statistik.

Sumber Kemakmuran

James D Gwartney dan Richard L Stroup (1993) pernah memberi panduan sederhana tentang cara menuju sumber-sumber kemakmuran. Menurut mereka, untuk bisa mengonsumsi lebih banyak, orang harus mampu memproduksi lebih banyak juga. Hal ini mempertegas bahwa keinginan manusia selalu akan lebih besar dari sumber-sumber daya yang tersedia.

Namun, kelangkaan juga selalu akan menjadi bagian dasar dari kondisi alamiah manusia. Sehingga, untuk memuaskannya, orang harus belajar menggunakan sumber-sumber daya secara lebih efisien lagi. Tetap bertahan pada cara-cara konvensional tidak akan banyak membantu di tengah limpahan keinginan-keinginan tanpa batas itu.

Lantas, bagaimana mempertahankan sumber kemakmuran tersebut di tengah kelangkaan yang membuntutinya?

David Boaz punya cara-cara apik untuk mempertahankan. Dalam Alam Pikiran Libertarian; Manifesto untuk Kebebasan (Indeks & Cato Institute, 2018), ia menawarkan 5 (lima) cara mempertahankan sumber kemakmuran manusia. Hal ini selanjutnya akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi sebuah negara yang sangat potensial.

Cara pertama, yang paling riil, adalah melalui tabungan dan investasi. Meski terdengar agak klise, menyisihkan sesuatu atau mengonsumsi lebih sedikit hari ini adalah upaya yang patut dicanangkan sejak dini. Selain sebagai bekal berjaga-jaga untuk hari esok, menyimpan dan mengivestasikan sumber daya hari ini juga bertujuan agar bisa menghasilkan lebih banyak di masa depan.

Bayangkan misalnya Anda adalah seorang pelaut atau nelayan. Jika Anda mampu menyisihkan makanan untuk beberapa hari ke depan, tentu Anda bisa memiliki waktu luang untuk membuat peralatan menangkap ikan yang lebih efisien. Tentu, dengan peralatan efisien ini, Anda bisa menangkap lebih banyak ikan di hari esok.

Dalam ekonomi yang kompleks, tabungan memungkinkan seseorang untuk membuka lahan bisnis. Tabungan yang selama ini mampu disisihkan akan sangat membantu untuk menciptakan atau membeli peralatan baru. Pada akhirnya, ini bisa membuat yang bersangkutan lebih produktif lagi.

Cara kedua yang Boaz tawarkan adalah mengukuhkan pasar modal. Kita tahu bahwa pasar modal, meliputi pasar saham, pasar real estate, dan bisnis, serta lembaga-lembaga keuangan seperti bank, perusahaan asuransi, perusahaan reksadana, hingga perusahaan investasi, membantu orang untuk bisa menabung secara lebih produktif. Dengan pasar modal, orang bisa menarik simpanan serta menyalurkannya menjadi investasi yang akan menghasilkan kekayaan baru.

Sudah sejak dulu pasar modal telah terbukti memberi keuntungan yang cukup baik. Perdagangan efek ini sekaligus memberi kontribusi besar bagi perkembangan perekonomian sebuah negara. Beberapa fungsinya, seperti menambah modal usaha, pemerataan pendapatan, menciptakan tenaga kerja, meningkatan pendapatan negara, dan sebagai indikator perekonomian negara, patut dilirik sebagai satu acuan awal ke depan.

Sumber kemakmuran yang lain adalah perbaikan sumber daya manusia, dalam hal ini keterampilan pekerja. Kita tahu, makin tinggi tingkat keterampilan seseorang, makin potensial ia untuk mendapatkan pendapatan yang tinggi pula.

Baca juga:

Pada ranah ini, investasi di wilayah pendidikan menjadi keutamaan. Layaknya modal bagi pembiayaan kehidupan sehari-hari, pendidikan dengan keterampilan khusus adalah tabungan yang juga bersifat produktif.

Cara lainnya adalah dengan melakukan perbaikan di sisi teknologi. Cara ini pun turut berkontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi. Kita tahu, Revolusi Industri yang sudah dimulai sekitar 250 tahun lalu telah secara nyata mengubah tatanan dunia. Jika dulu orang hanya mengandalkan kekuatan fisik atau kekuatan hewan sebagai sumber utama energi, kini, dengan kecanggihan teknologi, mesin uap, listrik, dan tenaga nuklir telah menjadi pengganti terbaik.

Dalam hal tranportasi juga demikian. Kereta api, mobil, hingga pesawat terbang adalah bukti bahwa teknologi benar-benar telah menciptakan revolusi penting bagi kehidupan manusia. Makin canggih teknologi, makin potensial bagi seseorang untuk menggali sumber-sumber kemakmurannya.

Terakhir, dan ini yang sering diabaikan, yakni perbaikan dalam organisasi ekonomi. Kita tidak bisa menyangkal jika organisasi-organisasi ekonomi yang hari ini eksis masih tidak efisien. Alih-alih membantu pertumbuhan ekonomi negara, praktik-praktik seperti korupsi di tubuhnya malah bersumbangsih besar bagi kehancuran ekonomi, menggerogoti pundi-pundi pendapatan negara.

***

Di luar uraian-uraian di atas, adalah penting bagi negara untuk tahu batas. Kehadirannya dalam menangani kasus mendunia ini sangat tidak dibutuhkan jika kebijakan-kebijakannya seperti PSBB dan PPKM hanya membuat kasus besar ini makin membesar saja.

Saya selalu percaya pada “spontaneous order”. Sebagai manusia, seperti pula makhluk-makhluk hidup lainnya, kita akan selalu berusaha agar tetap eksis. Justru, tanpa pembatasan, semua orang akan mampu mencari jalan penghidupannya masing-masing dengan senyaman dan seaman mungkin—sebuah tatanan yang sebenarnya selalu berjalan tanpa disadari tapi sering disalahpahami.