Menjadi Bahagia ala Augustinus

Menjadi Bahagia ala Augustinus
©Kompasiana

Adakah etika yang tak hanya mengajarkan tentang kebahagiaan di dunia sini, melainkan juga di dunia sana? Adakah etika yang tak hanya merumuskan kebahagiaan dalam kaitannya dengan imanensi dunia, melainkan juga transendensi Tuhan? Adakah etika yang menghubungkan tindakan moralitas sebagai bentuk cinta terhadap Yang Mutlak? Jawabannya adalah ada.

Santo Augustinus adalah salah seorang pemikir yang merumuskan etika dalam paradigma seperti di atas. Dalam konteks tersebut, ia berupaya untuk mensintesa rasionalitas Yunani dan iman Kristiani. Walau demikian, pemikiran etikanya melampaui sekat-sekat kekristenan yang karenanya bisa diaplikasikan oleh semua orang beragama atau orang yang percaya pada Tuhan.

Sekilas tentang Augustinus

Kita semua tahu Augustinus adalah salah seorang filsuf dan teolog yang hidup pada zaman Abad Pertengahan. Zaman ketika filsafat mempunyai kaitan erat dengan agama. Filsafat pada masa itu digunakan sebagai alat untuk membuktikan kebenaran agama.

Filsafat tak bisa berdiri sendiri dalam kaitannya sebagai displin ilmu, melainkan harus berjalan beriringan dengan agama. Sehingga, banyak orang menyebut zaman Abad Pertengahan sebagai zaman ketika filsafat diperbudak oleh agama. Karena itulah, tak heran, pikiran-pikiran Augustinus kental dengan nuansa keagamaan.

Augustinus lahir pada tahun 354 M di Tagaste, sebuah kota kecil di Karthago yang kini letaknya dekat dengan kota Tunis. Ibunya adalah seorang kristiani, sementara auahnya penganut agama Romawi Kuno. Ia mendapatkan pendidikan yang baik dan menjadi guru ilmu bicara (Rhetor). Pada masa muda, ia tertarik kepada aliran yang bernama Manikeisme.

Aliran yang berasal dari Persia ini mengajarkan tentang dualisme: realitas terdiri dari dua unsur yakni, yang baik seperti, roh, Allah, cahaya dll serta yang jahat seperti, kegelapan dll. Orang dituntut untuk menuju yang baik dan meninggalkan yang jahat. Aliran ini dianutnya hingga ia berumur 28 tahun.

Pada saat itu ia pindah ke Roma dan selama beberapa waktu menganut skeptisisme. Namun, aliran ini segera ditinggalkan ketika ia tertarik dengan Neoplatonisme. Ia kemudian pindah ke Milano dan di bawah pengaruh Uskup Ambrosius, ia diibaptis lalu kembali pulang ke Afrika.

Di sana, tepatnya di Kota Hippo, ia diangkat menjadi uskup. Di masa inilah ia mengarang banyak karya tentang teologi dan spiritualitas, di samping menjalan tugas-tugas sebagai gembala umat. Karya utamanya ialah Confessioness (Pengakuan) yang diklaim sebagai autobiografi pertama dalam sejarah sastra dan Civitate Dei (Tentang Komunitas Allah) yang dikarangnya pada masa kota Roma dijarah oleh suku Got. Ia meninggal pada tahun 430 ketika kota Hippo dikepung oleh suku Vandal, sebuah suku Barbar Jerman yang telah menaklukan Afrika Utara dan Spanyol Selatan.

Trasendensi dan Kebahagiaan

Apa yang membedakan etika Augustinus dengan etika Yunani-Romawi sebelumnya? Adanya dimensi transendensi untuk menuju kebahagaiaan. Augustinus percaya bahwa manusia mencapai identitas definitinya justru ketika berhadapan dengan Allah. Dengan lain kata, manusia dapat merengkuh kepenuhan dirinya justru ketika mencapai kesadaran akan Yang Transenden.

Dalam konteks ini, Augustinus tak memahami Allah sebagai prinsip abstrak atau seperti daya kosmis, melainkan Allah personal yang menyapa dan turut mengarahkan kehidupan manusia. Dengan pemaham sepert ini, manusia tak bisa mendapatkan kebahagiaan di luar Allah. Hanya dalam Allah-lah, manusia dapat memperoleh kebahagiaan.

Allah dapat didekati dari dua sudut pandanag: secara objetif dan secara subjektif. Secara objektif Allah adalah Nilai Tertinggi. Segala hal yang baik ada kaitannya dengan Allah. Segala sesuatu dapat dikatakan bernilai karena menyertakan nilai mutlak yakni, Allah. Sementara secara subjektif, mengingat manusia diciptakan oleh Allah, hakikat manusia selalu tertuju pada Allah. Sehingga, manusia secara batin sudah selalu tertarik kepada Allah.

Maknanya, manusia juga selalu tertarik kepada yang baik. Namun, yang baik itu dapat dikatakan benar-benar baik apabila diletakkan dalam perspektif nilai mutlak. Lebih jelas lagi, nilai yang terdalam bagi manusia dalah sumber eksitensinya yakni, Allah.

Plato sebenarnya sudah berbicara tentang hal tersebut. Akan tetapi, ia memahami ketertarikan itu secara intelektual sebagai kekerarahan manusia kepada Idea Yang Baik. Augustinus mengatakan bahwa pikiran tak bisa benar-benar mencapai Tuhan. Manusia hanya dapat mencapai Tuhan dengan dorongan hati yang disebut kehendak. Kehendak itu didasari atas nama cinta.

Manusia memang tidak dapat melihat Allah, tapi ia sudah dapat mencintai-Nya. Segala dorongan hati manusia yang kemana-mana sebenarnya terarah kepada Allah. Entah keinginan, kerindungan atau kegelisahan sebenarnya menyatakan fakta yang mendasar: bahwa hati kita selalu tertarik kepada Allah. Sebab, Allah berada dalam lubuk hati manusia.

Karena itu, taat kepada hukum moral yang ditetapkan oleh Allah sebenarnya berasal dari dorongan hati yang terdalam manusia. Ia tak bisa dikatakan semacam etika teonom yang dicela oleh Kant karena mengikuti wewenang di luar diri manusia. Justru dengan menaati hukum moral Allah manusia sebenarnya mencapai otensitasnya dan lepas dari keterasingannya.

Persatuan antara yang objektif dan yang subjektif itulah tujuan hidup manusia. Dengan kata lain, manusia dapat mencapai kebahagiaan ketika kehendaknya selalu diarakan demi Allah. Segala tindakan moralitasnya bersumber dari wujud cinta kasih kepada Allah. Semakin ia cinta kepada Allah, semakin ia tahu mana perbuatan yang baik dan mana yang tidak. Semakin ia cinta kepada Allah, semakin terarah jalan hidupnya.

Baca juga:
Latest posts by Ahmad Syaikhu Nasrul Ilahi (see all)