Menjadi Bebas

Menjadi Bebas
©Indiatvnews

Sama halnya dengan terantuk, kesepian juga menyimpan rasa pilu yang melibatkan perasaan yang menetap dan menitip goresan yang perlahan menyakitkan.

Satu minggu terakhir ini, rasa luka makin membara tak tahu arah. Aku ingin sekali mengabaikan, tapi sulit rasanya karena yang menitip luka kepadaku adalah insan yang berperan penting dalam hidupku. Bukannya ingin melibatkan dia dalam isi kepala dan hati, tapi pola hidup yang mungkin mengarahkan dia sehingga berbuat di luar kendali.

Aku ingin sekali berdamai dengan perilakunya yang senonoh, hanya saja itu di luar kemampuanku untuk menyikapi gaya hidupnya. Suatu waktu, aku mengajak isi kepalaku dan hatiku berbincang mengenai apa yang aku baca pada novel Alana, novel setebal 357 halaman oleh Mulya Fitri Anggriani; Alana yang hamil di luar nikah pada usia 18 tahun, dan itu membuat pikiranku berkecamuk terhadap perilaku yang bertindak tanpa berpikir.

Memang itu bukan sepenuhnya salah Alana melainkan kesalahan Saski. Aku berpikir bahwa itu tidak jauh berbeda dengan rutinitas yang mengharuskan seorang perempuan yang selalu berkendara di malam hari; ia seorang diri tanpa berpikir pun menjadikan hal itu menjadi kebiasaan.

Memberi nasihat saja tak cukup untuk perempuan yang hampir 22 tahun. Takut disalahkan karena memperdebatkan hal yang tidak seharusnya. Sering, hingga berulang kali menasihati, namun saja itu tidak begitu penting untuk dibahas.

Mungkin baginya tindakan yang dilakukan adalah hal sepele. Kami sama-sama manusia biasa yang pastinya akan merasa bosan jika diabaikan. Hingga tak ingin lagi menasihati, karena itu membatasi ruang geraknya, bukan berarti dia seenaknya saja melakukan sesuatu, bukan?

Dia sudah cukup dewasa untuk menyikapi persoalan itu. “Saya tidak terlalu bodoh dan semua hal yang saya lakukan, saya berpikir sebelum berbuat.’’ Itu katanya

“TERSERAH!!!” Itu jawabanku ketika mendapat jawaban darinya.

Baca juga:

2 hari lagi aku genap 22 tahun. Kemungkinan, ini bentuk hadiah ulang tahun untuk dirayakan 2 hari mendatang. Mencoba berdamai dengan semua ini kiranya membuatku makin sadar untuk melangkah lebih dewasa.

Campur aduk, aku berhadapan dengan tumpukan buku yang tiap harinya kubaca; itu membuatku lebih tenang. Namun, pikiranku terantuk karena melompat-lompat dari sejarah ke filsafat.

Inginku melihat lebih dalam mengenai dinamika masyarakat yang perlahan menghilangkan nilai-nilai yang ada pada budaya. Ada sebagian dari mereka merasakan ketidaknyamanan dengan pengaruh-pengaruh dari luar maupun dalam negeri. Apalagi terhadap pengaruh politik yang untuk kepentingan pribadi.

Menanggapi hal itu, mungkin sebaiknya mari kita sama-sama memerangi dengan budaya literasi. Mengonsumsi buku-buku yang baik pasti juga membentuk perilaku dan cara berpikir yang baik.

    Yovinianus Olin
    Latest posts by Yovinianus Olin (see all)