Menjaga Marwah Kewarasan Berpikir

Menjaga Marwah Kewarasan Berpikir
┬ęKompas

Kita perlu menjaga dan menyelamatkan marwah kewarasan berpikir kita agar kesalahan-kesalahan di masa lampau tidak kembali terulang.

Dalam beberapa kurun waktu terakhir, kita disajikan berbagai berita dan informasi mengenai uniknya sebuah kasus dari hal sepele sampai hal yang cukup serius untuk kapasitas masalah yang melanda negeri ini.

Budaya bangsa kita memiliki proses hierarki yang bertahap bahkan berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di masa lalu. Menelisik sejarah klasik Majapahit hingga memasuki era konstitusi modern sebuah negara yang presidensial dan parlementer apalagi sebuah negara demokrasi seperti Indonesia ini bahwa mental dan moral masyarakat Indonesia mulai mengalami degradasi kemanusiaan yang cukup besar.

Berbeda ketika dulu nusantara masih berbentuk kerajaan, era Majapahit adalah era kesatria dan benar-benar memiliki keberanian layaknya seorang pendekar. Raden Wijaya adalah sosok yang dihormati di kalangan rakyatnya dan memiliki kewibawaan di hadapan perwira dan para pengawalnya. Siapa yang mencoba memberontak maka akan dibunuh.

Ranggalawe adalah sebuah prajurit yang salah satunya menjadi prajurit pertama yang bertujuan memberontak kepemimipinan Raden Wijaya. Tetapi Ranggalawe adalah seorang korban yang ditumbalkan akibat terhasut oleh mulut licik Halayudha.

Tanpa pikir panjang, Ranggalawe pun segera menyerang kepemimpinan Raden Wijaya yang saat itu sedang mengadakan rapat dan berkumpulnya para perwira pengawal raja. Salah satu pengawal raja lainnya yang bernama Kebo Anabrang pun geram dengan perbuatan Ranggalawe. Kebo Anabrang segera menyeret keluar Ranggalawe dari istana kerajaan yang saat itu Ranggalawe sudah mencapai istana kerajaan untuk melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Raden Wijaya. Ranggalawe dan Kebo Anabrang bertarung dengan sengit, akhirnya Ranggalawe kelelahan dan lengah.

Melihat Ranggalawe yang sedang lengah, maka Kebo Anabrang pun tidak ingin melewatkan kesempatan yang ada. Dipegangnya kepala Ranggalawe oleh Kebo Anabrang yang sedang menggenggam sebilah pedang di tangannya, tanpa lama-lama Kebo Anabrang langsung menggunakan pedang tersebut untuk memotong kepala Ranggalawe hingga putus leher beserta urat nadinya.

Berbeda zaman dengan sekarang ini, perang di era modern ini menggunakan senjata media informasi dan propaganda sepihak. Budaya masyarakat Indonesia selalu menerima berita informasi tanpa adanya penyaringan apakah informasi yang diterima ini benar atau salah. Sedangkan elite politik dengan mudahnya memanipulasi informasi sesuai keinginan mereka demi sebuah bisnis yang menjanjikan.

Justru pemberitaan mengenai penggusuran dan eksekusi lahan secara brutal oleh polisi dan TNI tidak disorot sedikit pun oleh media. Demi rating dan bisnis, maka media tidak ingin merugi sehingga diberitakan informasi-informasi mengenai hal-hal umum yang terjadi di sekitar masyarakat.

Terlebih lagi adanya kongkalikong yang terjadi di antara media informasi, pemilik saham situs media online maupun televisi yang diakusisi oleh beberapa elite politik untuk tidak memberitakan kebusukan mereka. Demi menghalalkan segara cara, elite politik tidak segan-segan menipu rakyat demi kepentingan pribadi. Mereka secara terus-menerus memberi berita yang berupa propaganda kepalsuan kepada rakyat sehingga ketika berita yang ditayangkan secara berkala maka berita tersebut bertujuan untuk membuat rakyat percaya akan informasi yang diberitakan itu.

Baca juga:

Polemik publik dan pengalihan isu merupakan ciri khas media informasi pemberitaan di Indonesia agar kasus-kasus lama tidak tersorot oleh kalangan aktivis masyarakat maupun mahasiswa. Munculnya RUU (Revisi Undang-Undang) seperti Omnibus Law, HIP (Haluan Ideologi Pancasila), Minerba, dan RUU lainnya yang mendapat protes keras dari masyarakat membuktikan bahwa pemerintah benar-benar sudah mengkhianati kepercayaan masyarakat.

Rakyat menjadi mainan oleh para elite politik. Hutan dibabat menjadi lahan perusahaan, rumah dan sawah digusur demi proyek jalan tol, kritik tentang penyelewengan kekuasaan diancam penjara, serta banyak hal yang cukup menyimpang dan perlu ditanyakan.

Masyarakat negara kita cukup dibungkam dengan kebijakan-kebijakan protektif yang dibuat oleh para elite politik agar tidak coba-coba mengkritik kegiatan mereka. Ancaman penjara dan dibunuh secara diam-diam adalah bentuk nyata bahwa elite politik benar-benar masih menjajah hak prerogatif setiap orang yang memiliki kehendak untuk mengkritik kebijakan pemerintah.

Kasus Munir, Wiji Thukul, Marsinah, dan beberapa aktivis era Orde Baru lainnya adalah sebuah fenomena kemanusiaan yang dijajah haknya dan dibungkam secara sadis. Sampai sekarang, tidak ada yang tahu tentang siapa pelaku di balik pembunuhan dan penculikan para aktivis yang sampai sekarang tidak ditemukan siapa otak dan dalang di balik kasus ini.

Contoh kasus di atas adalah bukti bahwa negara kita adalah negara yang tidak serius dalam menjalankan konstitusi serta menghalalkan segala cara dalam meraih keinginan individu mereka sendiri. Bagi mereka, menjalankan negara adalah proyek dan bisnis, tidak peduli harus menindas rakyat, membungkam kritik, bahkan tidak segan-segan membunuh rakyat demi kepentingan pribadi mereka.

Mana mungkin kasus Munir akan diselesaikan sedangkan kasus ini sudah berjalan selama 16 tahun dan 2 tahun setelahnya kasus ini akan kedaluwarsa. Mana mungkin pemerintah akan menyelesaikan kasus ini sedangkan para pelaku mungkin adalah mereka yang pernah dan masih memiliki jabatan khusus di pemerintahan.

Di sini saya tidak menuduh siapa pun. Tetapi saya memiliki asumsi bahwa, jika memang ini kasus yang serius, seharusnya otak dibalik pembunuhan Munir sudah bisa diketahui dan dilacak dalam kurun waktu yang singkat.

Bahkan kasus yang menimpa Novel Baswedan butuh 2 tahun lebih untuk diketahui siapa pelakunya, dengan putusan sidang yang kontroversial serta hukuman yang tidak setimpal dengan perbuatannya serta alasan pelaku yang tidak masuk akal.

Negara kita perlu melakukan perubahan besar-besaran dan bukan berarti revolusi adalah jalan keluar. Kita akan mengalami kehancuran yang luar biasa jika ini dibiarkan begitu saja.

Kita sebagai rakyat memang harus memiliki hak bernegara. Jangan sampai kita memiliki batas tertentu untuk melakukan sesuatu demi keselamatan bangsa. Masyarakat kita perlu sadar dan jangan sampai apatis begitu saja.

Baca juga:

Kita benar-benar sedang dimanipulasi dan diperdaya oleh kebohongan-kebohongan media dan para elite politik.

Apa yang terjadi di luar sana tidak seperti apa yang kita pikirkan. Bahkan di luar dugaan kita, yang kita pelajari waktu di sekolah ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Kita perlu sadar dan melihat fakta-fakta yang jelas dan semuanya sudah ada di depan mata. Kita perlu melawan dengan kesadaran. Kita bukan boneka yang dimainkan lalu dibuang ketika sudah rusak.

Demi menjaga marwah kewarasan demokrasi serta kebebasan berpikir, masyarakat Indonesia memang harus bergerak berdasarkan naluri kepedulian mereka terhadap negeri ini. Sia-sia perjuangan para pahlawan bangsa ini jika masyarakat tidak peduli dengan apa yang terjadi.

Kita belum benar-benar merdeka. Kewarasan pikiran kita masih terjajah oleh hedonisme. Kita belum berdaulat. Kebebasan kita dirampas, hak kita dihancurkan. zdemua yang kita miliki dicuri oleh mereka para elite politik.

Beruntunglah bagi kita yang punya kewarasan berpikir dan tidak buta akan sejarah, tidak buta akan masalah bangsa, tidak apatis tentang konstitusi yang bermasalah. Dunia sudah dikendalikan oleh elite blobal. Kita sudah telanjur tenggelam dalam lingkaran setan yang dibuat oleh mereka.

Sejarah dunia adalah sejarah yang dibuat oleh mereka para penguasa, sedangkan kebenaran sejarah yang sebenarnya adalah milik kita yang membaca. Banyak sekali hal-hal yang disembunyikan, banyak misteri yang belum terpecahkan.

Tugas kita adalah membongkar semua kebusukan yang dilakukan oleh para elite selama bertahun-tahun dengan menyadarkan semua orang, dengan sendirinya sistem penjajahan ini akan hancur. Sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi perlu adanya revolusi kurikulum. Fakta dan sejarah perlu dijelaskan dengan jujur. Penguatan ilmu agama perlu diperluas dan lebih berhati-hati dengan ilmu sains modern.

Ilmu sains modern selama ini menjauhkan kewarasan kita dari kepercayaan akan firman Tuhan. Ilmu sains modern merupakan bentuk hasil evolusi dari sains klasik yang sudah tercampur doktrin dari sekte-sekte Lucifer Abad Pertengahan. Ilmu sains klasik ini bertahan lama hingga sekarang dan menjelma menjadi ilmu baru sains modern. Ilmuwan-ilmuwan hingga para profesor pun menjadi ateis dan mereka merasa bahwa kosmos Tuhan tidaklah nyata. Mereka menganggap alam semesta adalah proses pembentukan partikel alam yang hanya kebetulan terjadi.

Terlepas dari itu semua, kita wajib mempelajari lagi, serta kritis terhadap masalah-masalah, membuka kewarasan untuk sejarah masa lalu yang menimpa negara kita bahkan di seluruh dunia hingga sekarang. Berabad-abad lamanya negara kita dan dunia mengalami proses sejarah yang rumit dan misteri.

Manipulasi sejarah oleh para elite politik adalah representasi bahwa sejarah dalam sebuah negara bisa diubah dan dipalsukan. Dunia pun juga mengalami hal yang serupa oleh mereka para elite global. Kita perlu menjaga dan menyelamatkan marwah kewarasan berpikir kita agar kesalahan-kesalahan di masa lampau tidak kembali terulang lagi dan sistem yang zalim ini semoga cepat berakhir. Anak cucu kita perlu tahu apa yang sesungguhnya terjadi dan mereka berpotensi membawa perubahan besar dalam sejarah baru yang akan datang.

Farouq Syahrul Huda