Menolak Jadi Dokter Koboi

Menolak Jadi Dokter Koboi
Ahok & adik-adiknya | Net

Jika saya menjadi seorang dokter, maka pasien akan lebih cepat meninggal karena dokternya dokter koboi.

Sejak kecil kami telah diarahkan untuk menempuh pendidikan sesuai harapan bapak. Tapi, tentu yang didasari oleh bakat dan kemampuan kami.

Saya sendiri sesungguhnya diharapkan menjadi seorang dokter. Sangat mendesaknya kebutuhan tenaga medis di kampung halaman kami saat itu menjadi salah satu alasan bapak mengarahkan saya untuk menjadi dokter.

Minimnya tenaga medis di kampung kami kala itu memang cukup memprihatinkan. Apalagi setelah fasilitas rumah sakit PT Timah ditutup. Praktis, pasca itu, warga di kecamatan kami sangat kesulitan mengakses fasilitas maupun tenaga kesehatan.

Saya sendiri sempat mendaftarkan diri di fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI). Tapi karena saya sendiri merasa tidak cocok menjadi dokter, di sana saya hanya sempat menjalani perkuliahan selama 1 minggu. Setelah itu, saya pindah kuliah ke Fakultas Teknologi Mineral Jurusan Teknik Geologi Universitas Trisakti.

Keputusan saya ini disambut dengan kekecewaan oleh bapak. Beliau langsung menulis surat bernada sedih dengan menandaskan bahwa kondisi kesehatan rakyat akan semakin sulit karena ketiadaan dokter.

Saya membela diri dengan mengatakan bahwa jika saya menjadi seorang dokter, maka pasien akan lebih cepat meninggal karena dokternya dokter koboi. Karena itu, saya lebih memilih menjadi seorang insinyur yang dapat bekerja di dunia pertambangan daripada jadi dokter koboi. Akhirnya, dengan bijaksana bapak merestui dan bersyukur atas keputusan saya.

Pada tahun 1991, bapak jatuh sakit. Kemudian saya diminta menggantikan posisinya untuk mengatur usaha tambang timah. Lalu adik kedua saya memutuskan memenuhi harapan bapak dengan menjadi seorang dokter.

Sekarang, adik saya sedang menjalankan tugas medis di kampung halaman kami dengan status dokter spesialis dan pegawai negeri sipil Kabupaten Belitung Timur. Pesan terakhir bapak menggugah kesadaran adik saya untuk mengabdi kepada kampung halaman.

Di saat sakit, bapak semakin kritis, beliau sempat berkata: “Saya tidak lama lagi akan meninggalkan kalian. Percuma saya memaksamu pulang kampung sebagai dokter. Toh saya tidak punya kesempatan melihat itu. Tetapi perlu kamu ketahui betapa banyak rakyat akan mati karena diharuskan menempuh jalan yang buruk hanya untuk berobat ke ibukota.”

Waktu itu, kondisi jalan di daerah kami masih begitu buruk. Dan dokter hanya tersedia di kabupaten dan kecaman lain.

Kemudian, bapak melanjutkan pesannya: “Satu hal yang mesti kamu ingat sepanjang hayat jika kamu tidak pulang… saya menyesal telah menyekolahkan kamu menjadi seorang dokter.”

Mendengar kata-kata yang dilontarkan bapak tersebut, kami semua menitikkan air mata. Akhirnya, adik saya memenuhi harapan bapak untuk mengabdi kepada kampung halaman sebagai seorang dokter.

Keputusan itu didukung oleh calon istrinya yang juga seorang dokter. Mereka kemudian menikah dan menetap di kampung kami. [sumber]

Ahoker
Relawan Ahok