Menuju Ekonomi Berbasis Industri, Analis: Contoh Jepang dan Korsel

Menuju Ekonomi Berbasis Industri, Analis: Contoh Jepang dan Korsel
©The Diplomat

Nalar Politik – Analis Ekonomi dan Keuangan di PT Graha Prima Energy, Santo Rizal Samuelson, menilai Jepang dan Korea Selatan menjadi contoh sukses negara yang bertransformasi menuju ekonomi berbasis industri. Kemajuan dua negara di Asia ini, menurutnya, tidak lepas dari upaya mengandalkan riset, inovasi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Perubahan paradigma pembangunan ekonomi nasional dilakukan dari mengandalkan perdagangan komoditas bernilai tambah rendah menjadi berbasis kemajuan industri penghasil barang/produk bernilai tambah tinggi. Jepang dan Korea Selatan menjadi contoh sukses,” kata Santo melalui uraiannya di Kompas edisi Senin, 3 Januari 2021.

Berkaca pada kondisi Indonesia, Santo melihat berbagai masalah penghambat progres pertumbuhan ekonomi dalam negeri sudah ada sejak pandemi melanda. Sampai hari ini, beragam problem tersebut belum sepenuhnya mampu dituntaskan.

Karena itu, saran Santo, beberapa poin kritikal berikut ini perlu pemerintah benahi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inklusif. Pertama, mendorong pertumbuhan dan pemerataan penerimaan investasi.

“Pertumbuhan investasi harus dibarengi percepatan reformasi struktural ekonomi dan transformasi digital. UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja memberi ruang dalam menarik investasi yang kemudian menciptakan banyak peluang kerja dan bisnis.”

Meski penerimaan investasi 2020 naik 51,5 persen dibandingkan pada 2015, jelas Santo dalam artikel bertajuk Refleksi Ekonomi 2021 itu, penyerapan tenaga kerja justru merosot 19,5 persen. Rasio antara jumlah pekerja terserap terhadap nominal investasi, nilainya, mencerminkan ketidakefisienan.

Selain itu, bagi Santo, faktor kualitas investasi menjadi penentu keputusan investor. Karenanya, komposisi alokasi investasi harus mampu mendongkrak produktivitas dan kinerja ekspor produk sektor manufaktur.

“Penanaman investasi di Indonesia masih didominasi dalam bentuk bangunan (property assets) berkisar 80-90 persen. Investasi dalam bentuk mesin dan peralatan masih sekitar 10 persen. Pemerintah harus mendorong pencapaian utilisasi kapasitas produksi dunia industri hingga 90 persen sehingga investor akan datang dengan sendirinya.”

Baca juga:

Hal kedua yang Santo tekankan adalah fokus memacu pertumbuhan industri. Ia menyarankan agar realisasi penerimaan investasi mampu mendorong pertumbuhan industri pengolahan.

Berdasarkan data sektor investasi periode Januari-September 2021, Santo menyayangkan dominannya sektor jasa (Rp330,8 triliun atau 50,2 persen). Padahal, di 2016, investasi sektor manufaktur tercatat Rp335,8 triliun atau 54,8 persen.

“Penerimaan investasi harus lebih diarahkan pada sektor manufaktur penyerap tenaga kerja (padat karya) dibandingkan sektor jasa (padat modal dan teknologi).”