Menuju Generasi Emas

Menuju Generasi Emas
Ilustrasi: Surya - Tribunnews

Generasi emas tidak bisa hanya diupayakan pada satu instrumen lembaga saja.

Di tahun 2045 mendatang, Negara Kesatuan Republik Indonesia genap berusia 100 tahun, dihitung sejak kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Menunggu tahun 2045 tampaknya masih cukup lama. Namun, jika kita tidak menunggu jangka waktu tersebut, maka terasa akan sangat singkat.

Dalam benak, kita pasti bertanya-tanya, apakah yang terjadi pada negara ini pada saat usianya genap seratus tahun? Apakah mengalami kemajuan sehingga menjadi negara adidaya? Atau malah mengalami kemunduran?

Indonesia hari ini sedang mengalami masa keemasan yang di mana negeri ini memasuki fenomena bonus demografi. Itu bisa dilihat dari populasi usia produktif yang lebih banyak daripada usia nonproduktif. Fenomena ini dianggap sebagai pedang bermata dua.

Di satu sisi, dengan meledaknya jumlah manusia di usia produktif kerja, maka akan mempercepat roda produksi. Ini akan berdampak pada percepatan pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, apabila negara tidak melakukan investasi pada sumber daya manusia (human capital investment), maka yang mungkin akan terjadi adalah meledaknya angka pengangguran. Lapangan kerja akan terbatas. Persaingan antar-pencari kerja akan meningkat.

Jika negara tidak mampu mengantisipasi fenomena ini dengan baik, maka bonus demografi akan berubah menjadi gelombang pengangguran massal. Ini akan makin menambah beban anggaran negara dan berujung pada kemiskinan.

Populasi usia produktif yang dimaksud di sini adalah Generasi Milenial, yaitu kelompok demografi yang, menurut para ahli, lahir pada rentang waktu awal 1980-an sebagai awal kelahiran dan pertengahan tahun 1990-an hingga 2000-an sebagai akhir kelahiran. Generasi ini tumbuh bersama kemajuan teknologi sehingga generasi milenial sangat akrab dengan teknologi.

Generasi inilah yang nantinya akan menjawab tantangan menuju Indonesia Emas tahun 2045. Pada saat itu, negeri ini sudah genap satu abad.

Sesuai dengan tema di atas, tentunya menuju generasi emas tidak bisa hanya diupayakan pada satu instrumen lembaga saja. Seluruhnya harus saling bersinergi, mulai dari pemerintahan, lembaga kemasyarakatan, ormas, dan juga komunitas. Mereka harus membangun kemajuan bangsa secara bersama, entah di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, terutama di bidang pendidikan.

Kita ketahui bersama bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Sawah dan ladangnya terhampar luas, tetapi kita masih impor beras. Kita melihat negara lain seperti Jepang, Singapura, dan Taiwan yang kekayaan alamnya tidak seberapa dibandingkan dengan negara kita, tetapi mampu menjadi negara yang maju.

Sebab, negara yang maju tidak hanya dilihat dari sumber daya alamnya, tetapi juga sumber daya manusianya. Menjadi percuma jika memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi hasilnya dikirim ke negara tetangga.

Memperbaiki Aspek Pendidikan

Mempersiapkan Indonesia dan generasi emas mendatang, tentunya hal mendasar yang harus diperbaiki adalah aspek pendidikan. Pendidikan yang baik adalah pendidikan kritis yang berupaya memperhadapkan pendidikan dengan realitas yang tengah bergumul di sekitarnya. Sehingga mereka yang berpendidikan mampu membaca realitas secara kritis dan cerdas, kemudian mampu membebaskan diri dari ketertindasan dan kebodohan.

Pendidikan adalah momen kesadaran kritis terhadap berbagai problem sosial yang ada dalam masyarakat.

Kita tidak menghendaki pendidikan “gaya bank”. Seperti yang dikemukakan oleh Paulo Freire, pendidikan gaya bank adalah pendidikan yang dijadikan alat penindasan bagi elite yang berkuasa dengan membuat rakyatnya dalam keterbelakangan dan dalam ketidaksadaran bahwa ia telah menderita dan tertindas.

Pendidikan gaya bank bekerja dengan cara murid menjadi celengan atau sapi perah dengan komersialisasi pendidikan dan guru adalah penabung dengan cara politisasi pendidikan. Gaya pendidikan seperti ini, selain tidak sehat, juga mengakibatkan kebekuan dalam berpikir karena hanya berorientasi pada materi.

Selain itu, murid hanya mendengarkan, mencatat, menghafal, dan mengulangi ungkapan-ungkapan yang disampaikan oleh guru tanpa menyadari dan memahami arti dari makna sesungguhnya.

Sebagai generasi penerus bangsa, kita tentunya menginginkan pendidikan berkualitas yang mengedepankan budaya intelektual bukan finansial. Sebuah pendidikan yang mengedepankan humanisasi bukan dehumanisasi.

Banyak dari generasi kita yang semangat belajarnya sangat tinggi, namun belum bisa melanjutkan pendidikan karena dihadapkan dengan masalah biaya yang melambung tinggi.

Bukankah negara ini dibangun untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan bunyi alinea keempat dalam pembukaan UUD 1945?

Kita akan senang dan bahagia menyambut satu abad Indonesia jika komersialsiasi pendidikan, liberalisasi, serta politisasi dalam pendidikan dihapuskan. Generasi emas akan muncul ke permukaan bila diberikan fasilitas yang berkualitas, yaitu pendidikan kritis dan humanis.

    Muchsin Fadly

    Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial UMM. Asal dari Mamuju Sulawesi Barat. Ketua Bidang Seni, Budaya, dan Olahraga Ikatan Keluarga Mahasiswa Sulawesi Barat (IKMSB) Malang.

    (see all)

    Share!