Menyoal Eksistensialisme dalam Sistem Pendidikan

Menyoal Eksistensialisme dalam Sistem Pendidikan
©Philosophy Matters

Eksistensi mendahului esensi—sebagaimana menjadi kredo eksistensialisme.

Musuh besar filsafat ialah kata “finalitas”. Jadi haram hukumnya kata final terucapkan di ranah institusi pendidikan, khususnya universitas. Sebab universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis dan berpikir tidak boleh layu. Keduanya mesti terus-menerus kita sirami supaya tumbuh lebat.

Hanya dengan cara seperti itu, universitas dapat menjadi bandara, terminal, dan jalan raya—tempat lalu lintasnya pikiran. Karena dalam ranah pendidikan, musuh terbesar bagi seorang pelajar ialah lack of thinking.

Namun, permasalahan ini kurang mendapat perhatian oleh pengajar. Justru secara diam-diam kultur feodalisme terpelihara rapi di institusi pendidikan.

Semisal, mahasiswa harus tunduk pada dosen; dosen bergelar doktor, ketua prodi, dan rektor tidak boleh kita kritik.  Pada praktik itulah terjadi pengendalian narasi—di mana pihak pengajar saja yang menyodorkan diskursus terus-menerus. Maka yang terjadi ialah minus interpretasi baru.

Bukankah proses belajar mengajar di dalam kelas, diskusi, dan seminar seharusnya membuka peluang lahirnya interpretasi baru? Kalau kultur feodal semacam ini terus kita pertahankan, maka selamanya feminisme, liberalisme, dan eksistensialisme dalam pendidikan akan mendapatkan stigma. Dan, pada akhirnya, pelajar (mahasiswa) tak ubahnya sekadar penyambung lidah apa yang dalam adagium Latin sebut sebagai damnant qoud non intellegunt.

Padahal, sejatinya, pendidikan bertujuan untuk membebaskan manusia (pelajar) dari belenggu yang mengungkungnya—dari apa yang kita sebut dengan “kebebasan kehendak”. Benar-benar pendidikan bermaksud untuk itu. Dengan demikian, cita-cita yang konstitusi amanatkan bahwa pendidikan terselenggara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa akan tercapai.

Eksistensialisme dalam Pendidikan

Eksistensi mendahulu esensi—sebagaimana menjadi kredo eksistensialisme. Jika kita implementasikan dalam sistem pendidikan, maka individu (pelajar) menjadi titik tolak sebagai manusia yang tidak kehilangan keautentikan diri.

Maksudnya, individu adalah makhluk yang bebas dan bertanggung jawab atas kebutuhan diri sendiri dan pilihan hidupnya. Individu sebagai manusia merdeka, tidak lagi terkungkung untuk mematuhi pilihan di luar otoritas diri.

Baca juga:

Eksistensialisme, dalam usaha yang ketat, berupaya mewujudkan individu menjadi manusia yang humanis dan beradab. Hanya dengan memberikan ruang kehendak bebas, seorang individu dapat mengeksplorasi diri sendiri sesuai dengan bakat yang ia miliki.

Dengan demikian, yang menjadi diskursus eksistensialisme bukan mempermasalahkan individu kelak harus menjadi manusia yang sukses—terlepas dari apa pun profesinya. Melainkan, apakah profesi itu adalah pilihan kehendak si individu atau pilihan yang datang dari determinasi dari luar diri. Di situ eksistensialisme berselisih.

Jika seorang individu terus-menerus menuruti perintah dari luar otoritas diri, ia sejatinya telah gagal menjadi manusia dewasa sapere aude—sebagaimana yang terurai dalam esainya Immanuel Kant.

Akan tetapi, aura lingkungan di institusi pendidikan: universitas, sekolah, dan sebagainya, selama ini justru mengambil alih kebebasan itu sendiri. Padahal kebebasan bukan sesuatu yang terberi, oleh siapa pun. Bahkan negara tidak pernah memberikan kebebasan. Kebebasan itu natural right. Seharusnya institusi pendidikanlah yang melindungi kebebasan si individu (pelajar).

Ada satu cerita menarik yang patut kita renungkan. Suatu hari dalam sebuah diskusi di dalam kelas, seorang mahasiswa bertanya pada dosennya. Mana yang harus kita pilih antara pergi menjadi relawan tentara perang Prancis atau tetap tinggal bersama ibu?

Dalam cerita itu, ternyata mahasiswa tersebut tidak punya siapa-siapa lagi selain ibunya yang tentunya sangat ia cintai. Namun, ada perasaan lain di hatinya, yakni ingin membalas dendam atas kematian kakaknya yang terbunuh akibat perang.

Bila Anda yang menjadi dosen tersebut, pilihan mana yang Anda pilih untuk membantu meringankan beban psikologis si mahasiswa tersebut di antara dua pilihan yang sensitif itu?

Bila sistem pendidikan terus memelihara feodalisme dan berupaya mengontrol percakapan (wacana) siswa, maka pendidikan sejatinya telah gagal membebaskan belenggu yang mengungkung manusia guna memperoleh kemerdekaan diri sendiri dari kemandirian, keautentikan, kreativitas, nilai, dan tanggung jawab.

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by Arian Pangestu (see all)