Menyoal LGBT dari Sudut Pandang HAM dan Agama

Menyoal LGBT dari Sudut Pandang HAM dan Agama
Ilustrasi: malangtoday.net

Akhir-akhir ini penulis dibuat pikuk dengan pemberitaan di media massa tentang dua perdebatan, upaya menyoal LGBT (Lesbian-Gay-Biseksual-Trasngender) antara yang pro dan kontra, lebih-lebih setelah adanya putusan MK.

Bagi kubu yang pro terhadap LGBT, sejauh yang penulis baca di media, beralasan bahwa bagaimanapun harus diakui di Indonesia praktik LGBT ini muncul karena ada orang yang ingin mencoba menjadi diri mereka sendiri dengan segala kekurangannya, bukan menjadi orang lain yang sempurna.

Barangkali inilah yang dimaksudkan dalam teori sosiologi Emile Durkheim tentang fakta sosial. Mereka ini hanyalah melakukan fakta sosial yang ada dan dimiliki oleh pribadi mereka sendiri—dalam bahasa sederhananya, hanyalah bentuk pengejawantahan eksistensi diri.

Tapi mereka malah mendapatkan sangsi hanya karena mereka berbeda dengan fakta masyarakat pada umumnya. Mereka pula adalah kelompok minoritas, yang oleh karenanya, sulit untuk diterima, lebih-lebih bagi mereka yang belum terbiasa menghadapi fakta seperti ini.

Konsekuensinya, mereka dikucilkan. Keberadaannya dianggap menjijikkan, bahkan tidak ada. Mereka dialienasi dari lingkungan.

Padahal, jika saja masyarakat mau memahami latar belakang mengapa mereka berbuat demikian, betapa menjadi mereka tidaklah nyaman karena harus menghadapi cacian dan intimidasi. Belum lagi, mereka menjadi demikian bukan karena kehendak mereka. Mereka sama sekali tidak terlibat dan tidak diberi peran mereka menjadi demikian.

Itu semua tak lain karena ketentuan dari tuhan. Selain karena alasan yang telah disebutkan, hak asasi manusia menjadi alasan lain mengapa mereka menerima LGBT.

Sedangkan bagi kubu yang kontra, ada beberapa alasan untuk menyoal LGBT ini. Pertama, mereka beranggapan bahwa LGBT ini melanggar kodrat.

Seharusnya hubungan manusia itu antara lelaki dan perempuan, yang fungsinya untuk melanjutkan keturunan. LGBT mengakibatkan manusia tidak lagi memiliki keturunan, akhirnya kita akan mengalami putus generasi.

Kedua, LGBT melanggar Pancasila, khususnya Sila Pertama yang mengatur tentang Ketuhanan Yang Maha Esa yang menjadi dasar dalam kehidupan di masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai manusia, kita diperintahkan oleh Tuhan untuk kawin dan memiliki keturunan, karenanya kita memiliki UU Perkawinan.

Ketiga, Konstitusi UUD 1945 Pasal 28 dan 29 telah mengatur bahwa semua warga negara wajib untuk mematuhi ajaran agama masing-masing yang dianutnya, termasuk mematuhi larangan untuk kawin sesama jenis. Bahkan dalam Islam secara tegas dicontohkan bagaimana kaum Luth dibinasakan lantaran mengabaikan larangan tersebut. Oleh karenanya, LGBT ini diklaim bertentangan dengan ajaran agama.

Setelah penulis baca secara seksama dua perdebatan yang menyoal LGBT, sungguh dua perdebatan tersebut berhasil mengantarkan penulis pada sebuah kegelisahan sekaligus pertanyaan besar antara memprioritaskan sisi kemanusiaan (HAM) dan agama.

Berangkat dari dua hal ini (kegelisahan dan pertanyaan), penulis mencoba mencari-cari jawaban pas yang dianggap menjadi jawaban paling benar dan final bagi penulis baik dari sudut pandang HAM dan agama sebagaimana berikut:

Pertama, jika saja kita tidak keburu emosi dan mau menggunakan akal sehat kita, sesunggguhnya apa yang salah dengan putusan MK? Sebab yang diinginkan MK itu sebetulnya sangat sederhana. MK hanya menginginkan bangsa ini bersatu tanpa diskriminasi, marginalisasi dan intimidasi satu dengan yang lainnya. Dari sudut pandang HAM, jelas putusan MK tidaklah keliru.

kedua, dari sudut pandang agama pun putusan MK juga benar. Bukankah sejauh ini kita meyakini bahwa Islam adalah agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad untuk stabilitas manusia?

Saya masih teringat dengan sebuah maqalah al-Mashlahah al-‘Ammah Muqaddam ‘alâ al-Maslahah Fardiyyi (kemaslahatan komunal harus lebih diutamakan dari pada kemaslahatan individu) dan Izâ Ijtama’a Haqq Adamiyyin wa Haqq Allah Quddima Haqqu Adamiyyin (Ketika hak anak Adam dan hak Allah saling bercampur atau bertentangan satu sama lain, maka dahulukanlah hak anak Adam).

Meminjam bahasanya Gusdur, “tuhan tidak perlu dibela”. Karena agama dari tuhan, maka tidak perlu kita membela agama sebab tuhan itu maha kuat dan maha kaya. Yang perlu dibela dan dijunjung tinggi adalah manusia, sebab dia ditakdirkan sebagai mahluk yang lemah, miskin, dan tak punya apa-apa, sedangkan agama selalu melampaui segalanya.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Imam Jasuli (see all)