Menyoal Liberal

Menyoal Liberal
©Being Liberal

Dunia maya kita sempat heboh oleh ceramah seorang ustaz Khalid Basalamah yang menyoal liberal. Kehebohan tersebut berasal dari sebuah video beliau yang beredar melalui YouTube.

Dalam video berjudul Rahasia Univ Penganut Liberal dan Pandangan Jogja, ustaz Khalid Basalamah sempat menyoal liberal di lingkungan UIN Sunan Kalijaga. Menurutnya, UIN merupakan sarang liberalisme, sebuah paham Jaringan Islam Liberal (JIL) anut.

Sontak Video ceramah tersebut mendapatkan respons dari beberapa netizen, di antaranya adalah alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mahasiswanya, dan Guru Besar UIN SUKA (lihat: Heboh Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Bongkar Kebohongan Khalid Basalamah & Ustaz Khalid Basalamah Salah Paham tentang UIN dan Jogja.

Tulisan ini tidak akan menanggapi pernyataan ustaz Khalid Basalamah secara keseluruhan, mengingat telah banyak yang menanggapinya. Tulisan ini hanya mengulas sedikit tentang liberal dan Islam.

Selama ini, ketika kita menemukan kata “liberal”, yang selalu muncul dalam pikiran kita adalah “bebas”. Bebas sering kali orang maknai keluar dari aturan yang sudah baku yang telah agama atur. Selain itu, bebas juga orang maknai menafsirkan titah agama berdasarkan akal.

Lebih-lebih ketika kita sandingkan dengan kata “Islam”, acap kali hal ini mengandung konotasi negatif, di mana ia terasosiasikan dengan dominasi asing, kapitalisme tanpa batas, kemunafikan yang mendewakan kebenaran, dan permusuhan kepada Islam (Biyanto; Tren Liberalisme dalam Pemikiran Islam).

Tak mengherankan jika kebanyakan kita selalu melabeli liberal dengan “sesat”. Bahkan, ada yang menyamakan liberal dengan komunis, meskipun antara liberal dan komunis itu berbeda.

Liberal seakan menjadi sebuah ancaman yang dapat membahayakan ruh agama. Ia bagaikan setan yang selalu menghantui keyakinan para pemeluk agama. Tak ayal kemudian banyak tulisan yang menyoal liberal dan menentangnya, misalnya buku Musuh Besar Umat Islam karya H. Luthfi Basori (2006), Islam Liberal; Sejarah Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya karangan Adian Husaini dan Nuaim Hidayat (2006), dan masih banyak lainnya.

Baca juga:

Bahkan video ustaz Khalid Basalamah yang baru-baru ini viral merupakan ketakutan terhadap paham liberal, upaya menyoal liberal.

Jika demikian, apa yang dimaksud dengan liberal? Perlukah kita takut pada istilah “liberal”? Mari simak pembahasannya.

Memahami Islam dan Liberal

Kata “Islam” berasal dari bahasa Arab aslama- yuslima-islâman. Dalam bahasa Arab, kata tersebut mempunyai dua paduan makna yang saling bertautan. Pertama, kata “Islam” berasal dari tiga huruf “S-L-M” yang bermakna perdamaian.

Kedua, kata “Islam” dengan padanannya Aslam bermakna tunduk patuh kepada Tuhan. Ketundukan dan kepatuhan pada Tuhan akan membuat manusia dapat hidup dalam perdamaian, bebas dari segala penindasan, dan tak ada permusuhan (Mashhad Al- Allâf; Mirror of realization: God is a percept, the universe is a concept: 1957).

Dalam kamus Lisân al-‘Arab, Islâm mempunyai arti semantik sebagai berikut: tunduk dan patuh (khadha’a- khudhû’ wa istaslama-istislâm), berserah diri, menyerahkan, memasrahkan (sallama-taslîm), mengikuti (atba’a-itbâ’), menunaikan, menyampaikan (addâ-ta’diyyah), masuk dalam kedamaian, keselamatan, atau kemurnian (dakhala fi al-salm au al-silm au al-salâm) (Moh. Ali Wasik, “Islam Agama Semua Nabi” dalam perspektif Al-Qur’an: ESENSIA, Vol 17, 2016).

Sementara itu, kata “liberal” berasal dari bahasa latin liber yang berarti bebas, merdeka, atau suatu keadaan di mana seseorang itu bebas dari kekuasaan orang lain (Kristian Wicaksono, Adminitrasi dan Birokrasi Pemerintahan, 2006).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata itu berarti bersifat bebas, berpandangan luas atau terbuka. Sedangkan dalam bahasa Inggris dengan kata Liberate, berarti membebaskan, memerdekakan, dan melepaskan dari berbagai isolasi.

Dalam kamus Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, Liberate bermakna to help someone or something to be free, menolong seseorang atau sesuatu untuk merdeka atau bebas.

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by Abdullah Mudhar (see all)