Menyoal Liberal

Dari definisi tentang Islam tersebut dapat kita katakan bahwa Islam adalah agama perdamaian, keselamatan, dan ketundukan pada Yang Maha Esa (Allah Swt.). Perdamaian, keselamatan, dan ketudukan dalam arti lebih luas, yakni bebas dari hal-hal yang memicu pertengkaran dan perpecahan, seperti ambisi saling mengklaim dan menguasai satu sama lain.

Menciptakan perdamaian dan keselamatan juga ialah saling menjamin sekaligus menjaga keselamatan satu kelompok dengan kelompok yang lainnya, sebagaimana yang telah kaum ansor dan kaum muhajirin semasa Nabi Muhammad saw contohkan; hijrah ke Madinah. Mereka satu sama lain saling menjaga dan menjamin keselamatan atas keduanya, bahkan saling tolong-menolong dalam hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari.

Contoh tersebut tak hanya datang dari kaum muhajirin dan kaum ansor saja. Kelompok-kelompok seperti Yahudi dan Kristen juga ikut andil dalam menjaga ketenteraman kota Madinah. Mereka saling mengikat dalam satu sama lain atas nama kesatuan negara bernama Madinah (Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad).

Sementara itu, dari kata “liberal” bermakna membebaskan atau memerdekakan sesuatu dari kekuasaan suatu yang lain untuk mencapai kehidupan yang damai. Hal ini telah terjelaskan dalam pengertian tentang Islam, yakni berarti damai dan selamat agar terbebas dari segala kejahatan, penindasan, dan kekuasaan. Tentu kekuasaan di sini adalah kekuasaan yang membuat seseorang buta terhadap yang lainnya, baik itu kepada manusia ataupun kepada Tuhannya.

Ketika suatu bangsa mencapai kedamaian, ia terbebas dari tindakan penindasan, kejahatan, dan percekcokan di antara sesama saudara. Jika kita tilik lebih dalam, kata “liberal” secara esensi tak lain mendambakan terciptanya perdamaian, karena secara hakikat makna bebas adalah pedamaian.

Hubungan Islam dan Liberal

Cita-cita utama Islam adalah terciptanya perdamaian sekaligus pembebasan dari berbagai belenggu yang menimpa individu ataupun kelompok.

Semenjak awal turunnya, Alquran dan Nabi Muhammad Saw ingin menghapus tindakan-tindakan tak adil di lingkungan masyarakat Arab, yang mana satu dengan lainnya saling mengunggulkan kelompoknya. Tak ayal kemudian timbul percekcokan yang berahir dengan peperangan.

Tak hanya itu, hal serupa yang juga mulai Islam hapus ialah status perempuan dan budak pra-Islam. Perempuan di lingkungan masyarakat Arab pra-Islam tak memiliki arti apa-apa. Lahirnya bayi perempuan seakan menjadi malapetaka bagi keluarganya.

Baca juga:

Oleh sebab itu, jika salah satu keluarga mempunyai bayi perempuan, secepatnya ia akan dikubur hidup-hidup. Dengan hadirnya Islam, perempuan terangkat derajatnya dengan dibebaskan dari pandangan dan belenggu yang telah mengakar di masa itu.

Contoh lain tentang perempuan ialah masalah perkawinan. Di masa pra-Islam, tak ada batasan jumlah untuk mengawini perempuan (poligami). Oleh Islam kemudian dibatasi satu, dua, tiga, atau empat, tentu dengan syarat adil dan mampu (lihat: Qs. An-Nisa’: 3).

Hal serupa juga terjadi dalam masalah perbudakan. Islam yang tak ingin adanya penindasan menghapus tradisi perbudakan yang telah mengakar di lingkungan masyarakat Arab. Tentu penghapusan tersebut dengan secara perlahan, tak lantas langsung menghapusnya sekaligus, namun dengan cara yang baik seperti: “Jika tak mampu menikahi wanita yatim, maka diperintahkan untuk menikahi budak yang dimiliki (lihat: Qs. An-Nisa’: 3)”.

Tak hanya dalam problem perkawinan saja, penghapusan perbudakan juga menjadi sasaran utama untuk membebaskan manusia dari ketertindasan. Perbudakan yang Islam hapus dengan meningkatkan kesejahteraan budak, yang kemudian masuk sebagai penerima zakat (Qs. At-Taubah: 60), menganjurkan untuk memerdekakan budak (Qs. Al-Baqarah: 177) (Ali Sodiqin, Antropologi Al-Qur’an; 2008).

Tentu masalah wanita dan perbudakan hanyalah contoh kecil di antara kasus-kasus yang lain. Masih banyak contoh kasus tentang pembebasan dan perdamaian yang telah Islam tempuh, misalnya masalah riba, berlaku baik terhadap sesama, saling mencintai sesama saudara, dan lain sebagainya.

Sebagaimana ulasan tentang Islam dan liberal di atas, tak ada pertentangan antara keduanya. Islam dan liberal secara esensi memiliki makna yang sama, yakni membebaskan dan mendamaikan manusia dari berbagai isolasi minim keadilan.

Islam dan liberal mencita-citakan kebebasan manusia dari berbagai kuasa atau kungkungan yang menindas, jauh dari kedamaian. Kuasa dan kungkungan di sini dapat berarti keangkuhan, kesombongan, egoisme, dan kejahatan terhadap manusia lainnya.

Jadi, Islam itu sudah liberal. Begitu pun liberal yang ada dalam Islam, ia tak usah kita pertentangkan. Karena masalah kebebasan dan kedamaian manusia sudah ada dalam Islam. Keduanya memiliki pandangan kemajuan masa depan, progresif, bukan pandangan yang membuat ia makin ciut ke belakang, regresif.

Baca juga:
    Latest posts by Abdullah Mudhar (see all)