Menyoal Nilai Intrinsik Obral Buku

Menyoal Nilai Intrinsik Obral Buku
©IDN Times

Sebenarnya saya kurang layak untuk menulis judul Menyoal Nilai Intrinsik Obral Buku. Kenapa? Karena hingga detik ini, saya masih belum mampu membuat naskah satu pun untuk sebuah buku yang layak terbit dan cetak.

Tapi, saya bisa merasakan keterkaitan batin yang kuat antara tulisan-tulisan yang tersusun rapi dengan sang penulisnya. Rasa itu sama ketika kita menulis artikel, esai, atau bentuk lainnya dengan perlakuan hasil tulisan-tulisan yang sudah dibuat oleh editor.

Menurutku, buku yang sudah berhasil disusun ataupun bentuk tulisan-tulisan lainnya yang sudah kita karang dan terbit di media siber; keduanya ibarat ayat-ayat sakral sebuah kitab suci bagi penulisnya.

Ia akan selalu disayang dan dijaga sebaik mungkin sebagai manifestasi penghormatan atas isinya. Penghargaan atas segala sesuatu yang dicurahkan. Bahkan segala sesuatu yang telah dikorbankan untuk menulisnya.

Ketika buku tersebut sudah menempati rak-rak di pusat-pusat penjualan ataupun bentuk-bentuk pemasaran lainnya, maka rasa bangga akan selalu meliputi sang penulis sepanjang masa hidupnya.

Sama halnya ketika tulisan kita dimuat atau terbit di laman-laman media siber. Rasa itu pastilah sama dengan yang tersebut di atas. Apa pun yang terjadi dengan buku yang pernah ditulisnya, maka dengan sekuat tenaga sang penulis akan membela mati-matian.

Mulai dari penghujatan atas isinya, misalnya. Ataupun ketika bukunya diberedel oleh penguasa yang kolot.

Sama halnya juga ketika tulisan kita yang dimuat di media siber. Ketika ada komentar, baik yang positif ataupun sanggahan, maka dengan semangat dan sekuat tenaga serta daya pikiran, kita bela mati-matian tulisan kita. Agar mampu menjawab ataupun menyangkal balik.

Seperti itulah suasana batin antara buku dengan penulisnya. Antara tulisan dengan penulisnya sangat sakral dan emosional. Bahkan, hal ini bisa mencapai pada tingkat posesif yang ekstrem. Hingga pada tingkat psikopat sekalipun.

Kemudian perasaan-perasaan tersebut ditarik ke ranah bisnis, maka beberapa konsekuensi akan berseliweran. Saling silang dan berinterferensi memengaruhi dan menghantui kesakralan rasa itu.

Baca juga:

Walaupun sudah disepakati berbagai macam dan model perjanjian yang mengikat antara pihak penerbit dan penulis, aura kesakralan dan emosional buku yang sudah dicetak atau digandakan dalam jumlah banyak itu akan terus merdeka. Akan abadi memancarkan kejiwaan sang penulis.

Bahkan, walaupun secara fisik buku itu bukan miliknya, dalam artian sudah digandakan dan terbeli pihak lain, ketika sang penulis melihatnya di sembarang tempat, perasaan memiliki itu tidak bisa hilang. Ia ibarat bagian jiwa yang tercuil ke tempat lain.

Kemudian dengan adanya persaingan bisnis ataupun pengaruh strategi pemasaran, tersebutlah apa yang dinamakan “obral buku”. Menurut KBBI, obral adalah menjual barang secara besar-besaran dengan harga murah. Bermaksud menghabiskan barang, mengosongkan gudang, dan sebagainya.

Apakah arti obral menurut KBBI itu relevan atau tidak dengan frasa “obral buku” yang sering ditemui di media sosial ataupun bentuk informasi lainnya? Yang pasti, ada kesamaan dalam hal harga, yaitu penurunan yang sangat drastis dan habisnya sebuah satuan jumlah. Di sinilah permasalahan itu timbul. Ketika idealisme bertemu dengan dunia korporasi dan bisnis.

Sebenarnya bukan soal harga yang turun ataupun potongan harga yang menarik, tapi ini lebih esensial, yaitu soal cuilan jiwa yang tersebut di atas.

Sebuah buku, menurutku, mempunyai nilai intrinsik dan ekstrinsik sebagaimana uang. Dengan nilai intrinsik, sebuah buku mempunyai roh, wibawa, dan sarat dengan ilmu pengetahuan pada isi-isinya. Walaupun ia dicetak dalam lembar-lembar yang mungkin tak seberapa harganya.

Pun begitu, nilai ekstrinsik pada buku terbaca pada barcode yang mewakili fisik cetakannya, kualitas sampul, dan jilidnya dalam rupiah.

Kemudian kedua nilai tersebut berhadapan dengan kenyataan di lapangan. Hingga sampai pada keadaan bernama“obral buku” yang bisa jadi merupakan salah satu strategi pemasaran agar terjual laris ataupun habis (cuci gudang).

Baca juga:

Strategi pemasaran buku adalah persoalan harga. Dan harga tentunya mampu memengaruhi keputusan konsumen dalam memilih produk. Diskon dan obral sangat menguntungkan bagi kutu buku dan penjual. Namun, di sisi lain, khususnya obral, seakan membumihanguskan wibawa isi buku tersebut.

Buku obral ataupun obral buku ini punya dua sisi yang sangat bertolak belakang. Bagi penerbit dan pembeli, mungkin sangat menguntungkan. Namun, di sisi lain, khususnya kewibaan cuilan jiwa seperti yang tersebut di atas, tak bisa dihindari kehancurannya.

Saya tidak akan membahas faktor yang menyebabkan sebuah buku diobral penerbit. Itu adalah hak pemasaran mereka. Buku yang diobral bukan berarti buku yang kurang bagus isinya. Kadang yang best seller saja pernah merasakan yang namanya obral.

Jadi, faktor-faktor penyebabnya, bagi saya pribadi, masih misterius. Termasuk juga faktor-faktor dari pengaruh keberadaan dunia maya atau dunia daring (online). Memang, paling tidak adanya dunia maya dan digitalisasi sedikit banyak berpengaruh terhadap pasar.

Keberadaan dan peran penulis cukup penting bagi perkembangan industri penerbitan dan percetakan. Penulis memberikan ide-ide segar. Terutama dalam memunculkan kreativitas-kreativitas yang khas dan unik untuk menjawab kenginan dan kebutuhan masyarakat.

Dengan adanya penulis, industri penerbitan akan mendapatkan pasokan naskah-naskah yang baik dan segar pula.

Dengan mempertimbangkan uraian di atas, maka diharapkan penerbit mampu memberikan yang terbaik untuk memperlakukan nilai intrinsik dan ekstrinsik sebuah karya yang bernama buku.

    Yudho Sasongko

    Latest posts by Yudho Sasongko (see all)