Menyongsong 2022, Pemerintah Perlu Nyalakan Kembali Asa Warga

Menyongsong 2022, Pemerintah Perlu Nyalakan Kembali Asa Warga
©iStock

Nalar Politik – Profesor Sejarah UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, menilai pemerintah bersama seluruh pemimpin pada berbagai tingkatan perlu berusaha menyalakan kembali asa warga menyongsong 2022.

“Pernyataan atau imbauan untuk menggelorakan asa menyongsong 2022 dan tahun-tahun selanjutnya tetap perlu,” kata Asyumardi dalam analisis politiknya hari ini di Kompas (30/12).

Ia juga menekankan urgennya kebijakan dan langkah konkret untuk memperbaiki keadaan dalam berbagai bidang tersebut.

“Keadaan ekonomi bisa dibilang sedikit membaik, tetapi memerlukan langkah pemulihan rakyat secara lebih konkret di akar rumput agar dapat membangkitkan harapan.”

Dalam bidang politik, pemerintah diharapkan mampu membalik peningkatan oligarki sekaligus menghentikan proses legislasi yang tidak memenuhi ketentuan dan fatsun politik dengan serius melibatkan publik dan masyarakat sipil.

“Presiden dan DPR seharusnya pada 2022 sampai 2024 menghentikan politik dan kebijakan yang menghasilkan negative legacy dan sebaliknya berusaha lebih serius menghasilkan positive legacy untuk kemajuan negara-bangsa.”

Hanya dengan kebijakan dan langkah seperti itulah, bagi Azyumardi, harapan atau asa warga dapat dinyalakan kembali.

Pertanda Buruk?

Anggota KK AIPI itu melihat kondisi Indonesia sekarang tidak terlalu banyak memiliki berita baik yang bisa membangkitkan asa warga menyongsong tahun baru 2022. Pandemi Covid-19 yang masih terus berlanjut dinilai sebagai pemengaruh utama.

“Memang ada penurunan jumlah warga terinfeksi dan wafat karena virus SARS-CoV-2, tetapi kini kekhawatiran kembali meningkat terkait kemunculan varian Omicron yang menyebar sangat cepat secara global dan juga telah sampai ke Indonesia.”

Akibatnya, menjelang akhir 2021, Azyumardi menilai pengetatan kembali yang dilakukan pemerintah terhadap mereka yang bepergian, khususnya dari luar negeri, menjadi pertanda buruk melepas 2021. Belum lagi bencana alam di berbagai pelosok Tanah Air yang makin memperparah.

“Memang 2021 mengandung berbagai keadaan tidak menyenangkan bagi banyak warga dalam pelbagai aspek kehidupan, sejak dari masalah kesehatan, politik, ekonomi, pendidikan, sosial-budaya, sampai lingkungan. Meski demikian, rasa syukur patut dipanjatkan karena dalam keadaan tidak terlalu kondusif, tak terjadi kegaduhan sosial-politik di antara berbagai kalangan yang bertentangan.”

Di luar perkembangan tidak terlalu membahagiakan itu, ia mempertanyakan kehidupan yang tampak berlangsung cenderung kian normal belakangan ini. Indikasinya tampak dari macetnya jalanan di mana-mana serta mall dan pasar yang kembali dipenuhi pengunjung.

“Apakah ini mencerminkan asa yang meningkat menyongsong 2022? Ataukah mereka bermacet ria, misalnya, karena tetap harus bekerja di tengah ancaman wabah; atau juga karena sudah bosan terlalu lama terkungkung dalam kehidupan dengan interaksi sosial sangat terbatas?”