Menyorot Humanisme dalam Teknologi

Menyorot Humanisme dalam Teknologi
©Intel

Ada dan berkembangkah aspek humanisme dalam teknologi? Jika iya, seperti apa perkembangan humanisme dalam teknologi ini?

Perubahan pola hidup manusia dari waktu ke waktu sesungguhnya berjalan seiring dengan sejarah kemajuan dan perkembangan ilmu. Sampai saat ini, tentunya semua kemajuan (ilmu) teknis dan teoritis menunjukkan kecenderungan pada ilmu teknologi atau komputer.

Dalam bukunya, Robert Pepperell menjelaskan tentang batas akhir zaman humanisme, sebuah zaman yang menggambarkan akhir dari sebuah periode perkembangan sosial dengan pelbagai macam perubahan sebagai pengaruh besar teknologi. Ia menyebutnya adalah “post-human” di mana pesatnya perkembangan dunia teknologi membuat manusia makin kehilangan kesadaran atas peran dan fungsi sosialnya, dengan mengalihfungsikan pada robot-robot superior yang ia ciptakan.

Hingga dari sekian banyak teori humanisme, hampir semuanya tidak ada lagi di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, saya sepakat atas pendapat Pepperell di atas bahwa tanpa kita sangka-sangka, dunia telah melahirkan zaman baru.

Perkembangan dan kemajuan ilmu teknologi ibarat mata rantai yang tak pernah putus. Menurut sejarahnya, revolusi teknologi terjadi sekitar 70.000/40.000 tahun yang silam. Pada saat itu, kemajuan seluruh jenis peralatan berlangsung dengan cepat.

Akselerasi kemajuan tersebut mencapai puncaknya dalam rentang sejarah teknologi pada abad terakhir ini. Lambat laun, nilai guna teknologi menjadi makin tidak terkontrol. Bukan hanya mempermudah kinerja manusia, sesuai dengan tujuan besar adanya teknologi, tetapi juga menjadi hantu pada sebagian yang mengonsumsinya. Seperti alat-alat pemusnah yang menjadi simbol kesuperioritasan negara-negara maju; untuk memproklamirkan bahwa negaranya adalah yang terkuat untuk menjadi pemimpin dunia.

Pada 2016, dunia kembali dikagetkan dengan kabar yang muncul dari Korea Utara. Mereka (Korea Utara) melakukan uji coba bom terdahsyat dari jenis bom nuklir.

Kekuatan bom tersebut 25 ribu kali lebih luar biasa dari bom nuklir Amerika yang memorakporandakan Hiroshima dan Nagasaki. Uji coba itu kemudian menimbulkan konflik. Korea Selatan, negara tetangga Korea Utara, murka karena imbas dari uji coba itu menimbulkan gempa yang lumayan dahsyat di Korea Selatan.

Baca juga:

Kejadian di Korea itu harusnya kita jadikan refleksi jika teknologi tidak hanya mengandung sisi positif saja sebagaimana pendapat yang kerap kali kita pertahankan. Padahal kita hanya tahu manfaat sebagian teknologi: handphone, komputer, kendaraan, internet, dan lain sebagainya.

Di balik semua itu, masih tersimpan berjuta rahasia teknologi yang tak segan-segan akan merenggut nyawa banyak makhluk yang ada di atas muka bumi.

Maka, berdasar kompleksitas kesadaran manusia, segala bentuk ciptaan harus kita berlakukan pada yang seharusnya, yaitu teknologi yang tetap mampu menyentuh sisi kemanusiaan, alam semesta, dan ketuhanan. Sebab jika tidak, korban pertama teknologi yang tidak berperasaan itu adalah manusia, tuan yang menciptakan teknologi itu sendiri.

Pada abad modern sekarang, jika merujuk pada realitas yang ada, pemimpin lapangan adalah manusia setengah mesin. Hal ini tergambar dalam sebuah film bertajuk “Transcendence yang Wally Pfister sutradarai.

Terkisahkan bagaimana seorang yang berkeinginan menciptakan sebuah komputer supercanggih, melebihi kecerdasan kolektif manusia, yang mampu menjinakkan seluruh isi alam semesta. Bahkan, dalam keadaan mati pun, ia tetap mampu memperkaya atau mengembangkan ide yang ia miliki.

Karena menurutnya, seorang manusia pada hakikatnya akan selalu berevolusi menjadi manusia yang sempurna, seperti Tuhan yang mampu melakukan apa pun sesuai dengan kemauannya.

Kesadaran semacam ini harusnya menjadi sebuah peringatan keras untuk setiap manusia, pun dunia, agar lembaga-lembaga keilmuan membatasi pengembangan teknologi yang kian membabi buta. Jangan biarkan kejadian-kejadian yang lalu terjadi kembali.

Sebab korban dari semua itu adalah aset besar bagi negaranya sendiri. Seperti kejadian di Hiroshima dan Nagasaki, perang di negara-negara Timur Tengah, dan juga sudut-sudut kota yang selalu menjadi sasaran kelompok-kelompok radikal.

Halaman selanjutnya >>>