Meraih Tingkatan Ihsân

Meraih Tingkatan Ihsân
©Islami

Rasulullah Muhammad Saw dalam beberapa hadis menggambarkan tiga tingkatan pokok dalam beragama, Imân, Islâm dan Ihsân. Rasulullah Saw mengilustrasikan ketiga maqâm ini laiknya untaian konsep yang berjalin berkelindan dan tidak terpisahkan.

Imân adalah ibarat akar yang tertanam di dalam tanah. Islâm laiknya batang, ranting, dahan dan daun. Sedangkan Ihsân laksana mekar bunga atau buah-buahan yang siap panen. Tiga tingkatan ini sepatutnya menjadi acuan bagi setiap Muslim dalam bersikap dan bertindak, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Muncul pertanyaan, apa makna Ihsân? Bagaimana Muslim mencapai tingkatan Ihsân ini?

Kata Ihsân adalah bentuk turunan (musytaq) dari kata kerja ahsana, yuhsinu, ihsânan yang bermakna berbuat baik, mempercantik, menyeimbangkan dan bermurah hati. Imam Muhammad al-Azhari dalam kitab Tahdzib al-Lughah mengutip fatwa Imam al-Shahbani ketika memaknai Ihsân dalam konteks penafsiran surat al-Baqarah ayat 83, “Dan bertuturlah kalian semua dengan kepada segenap manusia dengan kata-kata yang baik (ihsânan)”.

Masih dalam kitab Tahdzib al-Lughah, Imam al-Zujaj menulis, makna Ihsân dalam ayat di atas bermakna bertutur kata kepada orang lain dengan cara terbaik, terindah dan terbijak, mengingat kata hâsin atau muhsin berasal dari akar kata kerja tsulatsi mujarrad hasuna, seperti akar kata ‘adhim (besar sangat sekali) dan karim (sangat mulia) yang berakar dari kata ‘adhuma dan karuma.

Imam al-Laits juga menyajikan makna Ihsân yang sama, yakni bertutur kata yang baik atau ucapan yang menyenangkan orang lain. Imam Ibnu al-Manzhuri mengutip pendapat Abu al-Haytsami yang berpendapat, bentuk derivasi lain kata Ihsân adalah husnan dan hasanan yang identik dengan sesuatu yang indah.

Apakah makna Ihsân sebatas pada tutur kata? Tentu tidak. Sebab makna Ihsân sebagai sebuah keindahan juga berarti indah dalam ucapan, sikap, tindakan, kebiasaan maupun dan moralitas keseharian. Dengan orang tua misalnya, Allah Swt dalam surat al-Ankabut ayat 08 tegas berfirman, “Dan Kami wajibkan kepada (semua) manusia untuk (berbuat) kebaikan (husna) kepada kedua orangtuanya”.

Ayat ini jelas memperluas makna Ihsân tidak hanya dalam ucapan, namun juga dalam interaksi dengan orang lain, terlebih dengan orang tua, harus dilakukan dengan cara yang ramah, berbaik sangka, shalih dan elok.

Kewajiban kita berucap, bersikap dan berbuat santun kepada orang tua dan orang lain, memperlakukan mereka dengan halus, penuh dengan akhlak terpuji, sopan santun ini semua terkandung dalam kata ihsân. Mengapa ihsân penting? Sebab lawan (antonym) ihsân adalah isâ’ah yang berarti keburukan, termasuk di dalamnya kemungkaran, kejahatan, perbuatan tercela, dosa dan maksiat.

Ihsân dalam konteks ini menjadi semacam obat anti virus bagi berbagai keburukan sikap dan tindakan manusia, bagi bagi dirinya maupun kepada orang lain. Logika ini selaras dengan makna surat al-Ra’d ayat 22, “dan menolak (mencegah) kejahatan atau keburukan dengan kebaikan (bil hasanah)”, menggunakan diksi bil-hasanah (dengan beragam kebaikan).

Baca juga:

Jika demikian, salah satu ciri utama seorang Mukmin dan Muslim yang telah mencapai maqam (tingkatan) ihsân dan pantas bergelar sebagai muhsin ini adalah jika ia mampu mebiasakan diri mencegah atau menolak suatu keburukan dan kejahatan dengan cara yang baik; melawan kejahatan dengan kebajikan; merespons sikap atau tindakan yang menyakitkan dengan sikap yang menyenangkan.

Prinsip dasar membalas kejahatan dengan kebaikan sebagai sebuah nilai luhur ini merujuk pada makna al-Quran surat Hud ayat 114, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu mampu menghapuskan (menghilangkan) perbuatan-perbuatan yang buruk”. Senada juga dengan al-Quran surat Fushilat ayat 34, “Dan tidaklah sama (dampak) kebaikan dengan keburukan/kejahatan”.

Pesan moral ketiga ayat di atas sungguh terang benderang, setiap muslim sebaiknya tidak merespon atau membalas tindakan jahat atau buruk dengan perbuatan sejenis. Alih-alih harus merespons dengan cara yang baik, bijak dan penuh hikmah.

Sebab, ciri muslim yang telah mencapai tingkatan ihsân atau muhsin terpancar dan termanifestasi dalam tindakannya yang selalu mengedepankan cara-cara dan pendekatan kebajikan dalam merespon keburukan maupun kejahatan. Muslim yang telah mencapai tingkatan muhsin ini senantiasa menampilkan tutur kata, sikap dan tindakan terpuji dalam menghadapi beragam keburukan dan kejahatan yang menimpanya.

Kemungkaran akan senantiasa menggiring manusia pada gesekan, konflik dan perpecahan. Sebaliknya, kebaikan, sikap terpuji dan cara-cara bijak mampu menciptakan persatuan, harmoni dan kekuatan bersama. Keburukan maupun kejahatan tidak melahirkan selain kebencian, rasa saling curiga dan potensi disintegrasi.

Berkebalikan dengan kebaikan dan kebajikan, tidak melahirkan kecuali cinta, kasih sayang sesama dan harmoni diri dan masyarakat. Inilah sebenarnya tingkatan ihsân, dan muslim atau mukmin yang berhasil mencapai maqam ini bergelar muhsin.

Salah satu doa yang kerap kita panjatkan kepada Allah Swt adalah, “Ya Allah Tuhan Kami, anugerahilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka” (Rabbanâ Atinâ fid Dunyâ Hasanah wa Fil Akhirati Hasanah wa Qina Adhaban Nâr), sebagaimana tersurat dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 201.

Sahabat Anas bin Malik Ra sebagaimana dikutip Imam Hasan al-Bashri dan Imam Sufyan al-Tsauri menafsirkan kata hasanah (anugerah kebaikan) di dunia mencakup ilmu pengetahuan, pengabdian, tanggung jawab, rizki, kesehatan, jaminan keamanan dan perlindungan dari setiap kekacauan dan kerusakan.

Sedangkan hasanah (anugerah kebaikan) di akhirat bermakna surga, ampunan dan terlindung dari siksa neraka dan segala bentuk kesulitan di hari kiamat. Jika demikian, ayat al-Quran terakhir mengarahkan makna ihsân sebagai kebaikan dan perlindungan.

Muncul pertanyaan, mengapa dalam sebagian ayat al-Quran, Allah Swt menyandingkan kata ihsân dengan kata al-adlu (keadilan)? Misalnya dalam surat al-Nahl ayat 90, “Sesungguhnya Allah Swt menyuruh kamu sekalian berlaku adil dan berbuat kebajikan”.

Baca juga:

Imam al-Raghib al-Asfahani berpandangan, adil adalah bertindak sesuai dengan proporsi standarnya; misalnya memberi atau mengambil sesuai dengan ukuran proporsinya, tidak kurang tidak lebih. Berbeda, ihsân bermakna memberi lebih dari ukuran yang ditetapkan dan mengambil lebih sedikit dari standarnya. Jadi, tingkatan ihsân lebih tinggi daripada adil.

Tentu tingakatan ihsân ini tidak mudah dicapai, sebab perlu pemahaman, internalisasi, pembiasaan secara terus menerus. Muslim yang telah mencapai tingkat ini tentu muslim yang istimewa. Begitu istimewanya tingkatan ihsân atau muhsin ini, sahabat Anas bin Malik meriwayatkan hadis Rasulullah Muhammad Saw berikut,

“Apabila Allah Swt telah mengumpulkan manusia generasi awal dan generasi akhir, maka salah satu tangga menuju ‘Arsy, seorang penyeru berkata, dimanakah para pelaku kebaikan (al-muhsinun)? Mereka menjawab: kamilah para pelaku kebaikan. Sang penyeru menyela, kalian benar. Aku berkata kepada Nabi, tidak ada satupun penghalang yang bisa menghalang-halangi para pelaku kebaikan. Tidak ada jalan untuk menghalang-halangi kalian. Masuklah kalian semua ke dalam surge karena rahmat-KU”. Sahabat Anas bin Malik Ra menambahkan riwayat, kemudian Rasulullah Saw tersenyum dan bersabda, “Sungguh Allah Swt telah menyelematkan mereka dari dahysatnya kesulitan-kesulitan hari kiamat”.

Keistimewaan tingkatan ihsân ini juga diperkuat dengan riwayat Jabir bahwa Rasulullah Muhammad Saw pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat kedudukannya denganku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya”, menggunakan redaksi ahasinukum khuluqan yang masih semakna dengan ihsân di atas.

Semoga kita diberi kekuatan dan rahmat Allah sehingga mampu mencapai tingkatan ihsân ini.

Ust. Azaki Khoirudin, pengajar Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

    Maarif Institute