Merajut Rindu

Merajut Rindu
┬ęPinterest

Merajut Rindu

Tak lagi jatuh mawar itu
Ia mengemasi rantingnya sendiri
Kering namun tak berontang
Sajakku saja dikelopaknya

Membenahi puing-puing dedaunan
Yang kisruh menjatuhkan diri
Sudah pergi?
Sudah hilang bersama semilir senja

Bulir embun menetes tak menentu
Menjamah muara di tepian telaga
Desir rindu yang ditunggu
Membiarkan dia tak kembali
Dalam selaksa rindu yang kurajut

Semua itu Karena Enu

Telah ku susun rapi kertas tertulis namamu
Dari bait hingga rubrik prahara pilu
Takkan lagi bisa ku bercenduai
Terkait malamku menunggu pagimu

Terlepas dari mata, senyum dan mimpimu
Engkau masih harus gadis cengeh
Suratkanlah tentangmu bersama angin
Walau pun tak terjamahku

Untukku teramat membisu
Ragamu hadir dipejaman mataku
Tak kenal damai memaksa dan gaduh
Di hatiku

Aku, Enu dan Cerita yang Terpotong

Enu tahu, tidak mudah bagiku untuk bisa mendekatimu
Butuh kesabaran dan konsistensi pengalah demi bisa dapat sebuah senyuman kecil
Aku tidak pernah menuntut balas akan rasa cinta dan peduliku
Biarlah Enu bebas mencurahkan cintamu di tempat lain dan amarahmu di wajahku ini

Aku tidak pernah merasa bosan ketika Enu akhirnya mengingkari janji
Bahkan aku berkata tidak usah berjanji apapun, biarlah aku yang menunggu
Sesulit itu hal yang harus aku bayar demi bisa menjadi bayanganmu
Namun ketika aku jatuh dan harus pergi, ibarat membalikkan tanganmu, mudahnya Enu memutuskan untuk diam

Dengan sadisnya Enu mengabaikan rasa dan usaha rinduku yang aku pendam
Diammu selalu jadi cuka dalam luka hatiku
Diammu selalu jadi jarak pemisah yang sebenarnya bisa kita arungi bersama
Jika jarak hanya bisa menjadi alasan kamu akhirnya pergi

Jika kejatuhanku menjadi momen baik untuk mengabaikan rinduku
Sesungguhnya aku tak tahu lagi apa aku bisa bersabar menanti
Namun ada satu hal yang lupa Enu usaikan dengan aku yang menjadi idolamu
Yakni perpisahan baik-baik agar kita bisa mengenang kebaikan bukan kekejaman

Puisiku Mati

Mulut ini sudah dibungkam
Tak mampu lagi bebaskan suara
Yang terus saja mendesak rongga jiwa
Hingga sesakan ruang dan relung

Jemari pun kini telah dikekang
Tak kagi bisa jeritkan aksara
Yang meronta dari balik pena
Hingga memekak telinga dan dada

Jejak kata yang dulu berderet rapi
Kini sudah membubarkan barisannya
Sebagian berlari menjauhi benak
Sisahnya memilih sembunyi dari angan

Selesai sudah!!
Jiwa ini mulai temui hampa
Tak lagi bisa lahirkan sajak
Tak lagi mampu genangi rasa

Kata dariku sirna
Direnggut kecewa tanpa tepi
Lebih sadisnya lagi
Puisiku telah dibunuh olehmu, hati

Lalik Kongkar
Latest posts by Lalik Kongkar (see all)